Mengantar Rakyat ke Gerbang

Model diperani oleh Nurhasan
Seorang kawan bercerita, baru kali ini ia begitu mengidolakan seorang pejabat pemerintah.  Kawan ini berprofesi sebagai arsitek, aktif di dunia maya, dan seorang traveler backpacker yang gandrung melakukan  perjalanan ke luar negeri. Dari kegemaran dan profesinya kau bisa menduga kawan ini berasal dari kelas menengah kita, sejenis kelas yang sudah selesai dengan persoalan keuangan atawa dalam bahasa motivator disebut free financial. Jenis kelas ini sebagaimana  jamak terungkap dalam survey-survey merupakan kelas yang kritis sekaligus sinis terhadap prilaku pejabat pemerintah kita yang gemar menghambur-hambur uang negara demi kehidupan mewah mereka.  Dari kritisisme dan sinisme inilah sejatinya yang membuat mereka apatis terhadap elit dan dunia politik.


Maka ketika ia sendiri merasa heran karena baru kali ini begitu mengidolkan pejabat pemerintah, artinya ada sesuatu yang luar biasa pada pejabat pemerintah yang diidolakannya itu. Pejabat pemerintah yang mendadak membetot perhatian dan menepiskan sikap apatismenya itu bernama Joko Widodo atawa Jokowi.    “Orangnya keren banget. Aku suka banget,” kata kawan itu dengan nada agak manja khas kelas menengah Jakarta. 

Setiap ada pilkada, ia mengaku tidak pernah kepikiran untuk ikut datang ke bilik suara. “Baru kali ini gue bersemangat untuk ikut nyoblos,” sambungnya dengan campur-campur bahasa Prancis. Pilkada yang dimaksudnya adalah pilkada DKI Jakarta yang digelar pada paruh terakhir 2012. Sayangnya, pada hari pencoblosan ia bangun kesiangan sehingga niatnya untuk mencoblos terlewatkan. Meskipun idolanya itu akhirnya menang,  peristiwa itu membuatnya menyesal tak terkira.

Lain lagi kolega saya yang tinggal di Bekasi. Domisili dan KTP-nya tentu saja membuat ia tidak punya hak untuk memberikan suaranya pada pilkada Jakarta waktu itu. Ia berujar, seandainya ia harus membayar Rp100 ribu supaya diperbolehkan nyoblos, dengan senang hati akan ia lakukan untuk memberikan suaranya pada Jokowi. Saya sendiri pernah bertemu langsung dengan pejabat pemerintah yang diidolakan kawan saya itu dalam suatu peliputan momen mudik bersama yang dipusatkan di Parkir Timur Senayan.

Betapa baru kali itu saya bisa-bisanya merasa terharu melihat antusiasme masyarakat menyambut kedatangan pejabat pemerintah. Rasa haru saya bukan hanya oleh sambutan mereka yang begitu tulus terhadap orang nomor satu DKI Jakarta itu, tapi oleh cara Jokowi merespons mereka. Begitu wajar, tak dibuat-buat. Ia tidak tampak seperti raja yang jemawa dielu-elukan rakyat jelata. Ia membalas ribuan tangan yang ingin menyalaminya seperti seseorang menyalami kawannya. Bahkan saya rasa ia terlihat agak kikuk dengan sambutan para pemudik yang mungkin bagi dia agak berlebihan.   Bayangkan, ribuan pemudik yang terdiri dari tua muda, laki, perempuan,  berdesakan pengin mencium tangan (dan memeluk) Jokowi!   

Dan kini, Jokowi kini dicalonkan partainya untuk maju bertanding sebagai calon presiden!
Nah, terkait pencapresanya ini saya juga punya cerita. Begini. Seorang kandidat calon wakil presiden yang memiliki jaringan media, yang konon terbesar di Asia Tenggara, suatu hari bersama rombongan datang ke perkampungan nelayan. Setelah memberi bantuan, kepada seorang nelayan tua bertampang merana, ia bertanya, “Nanti nyoblos partai apa?” si nelayan dengan lantang menyebut partai sang calon wakil presiden.  

Pertanyan berlanjut. “Nanti nyoblos presidennya siapa?”

Dengan ringan, lantang, dan lugunya, di nelayan tua itu menjawab, “Jokowi!”  Dialog ini tentu disorot kamera teve milik si cawapres itu. Namun kalian pasti tidak akan melihat dialog dalam adegan ini ditayangkan di televisi!.

Nah, belum lama ini seorang kawan saya, Damhuri Muhammad, yang juga dikenal luas sebagai cerpenis dan esais menceritakan kekagumannya kepada Jokowi melalui buku kecil sederhana “Mengantar ke Gerbang”. Sebagai sastrawan tentu Damhuri memiliki kekhasan dan alasan sendiri mengungkapkannya.  

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka