Ilusi dan Sindrom Kebebasan



Model diperani oleh Anggun
Apa itu kebebasan? Demikian bunyi tagline novel “Pasung Jiwa” besutan Okky Madasari. Tagline itu menyiratkan keputus-asaan ketimbang gugatan. Keputus-asaan yang agaknya berlatar kesadaran betapa kebebasan sejati ilusi belaka. Itulah keputus-asaan Okky yang terepresentasikan melalui dua orang tokoh rekaannya, Sasa dan Cak Jaka. Kebebasan bahkan menjadi sindrom.

Kenapa orang begitu mendambakan kebebasan? Dalam filsafat eksistensialisme, kebebasan harus dimiliki seorang individu untuk menyatakan keberadaannya. Tanpa kebebebasan individu, manusia tidak memiliki hak atas dirinya, dan hal itu sama artinya kehilangan kediriannya, kehilangan  kebahagiaannya yang paling berharga sebagai individu, sebagai manusia. Seperti dikatakan Jean-Paul Sartre, filsuf Eksistensialisme itu, human is condemned to be free, hanya dengan kebebasan yang dimilikinya manusia melakukan tindakan kreatif.

Jadi kebebasan hanyalah sarana untuk mewujudkan bahagia? Tetapi, tanpa kebebasan sungguhkah orang tidak benar-benar dapat mereguk bahagia? Tampaknya tidak, sekurangnya bagi Sasa dan Cak Jaka. Begitulah demi menggapai kebahagiaan Cak Jaka dan Sasa terus berupaya memperjuangkan kebebasannya. Namun pada langkah pertama, Sasa segera terantuk dinding tebal, dan dinding itu datang dari dalam diri dia sendiri yang bernama perasaan cinta pada mama, papa, dan adiknya. Ia takut membuat keluarga yang ia cintai menjadi kecewa manakala Sasa menyatakan bahwa dirinya lebih menyukai lagu dangdut dan berjoget meliuk-liukkan tubuhnya  mengikuti irama gendang ketimbang bermain piano; lebih menyukai dan merasa nyaman mengenakan rok ketimbang tampil maskulin lazimnya cowok.

Maka Sasa harus menghilangkan diri dari hadapan mereka untuk mengejar kebebasan dan menggapai kebahagiaannya. Dan itu didapatkannya saat Sasa melanjutkan kuliah di Malang. Hal sama juga dialami Ca Jaka. Ia mengejar kebebasan mengikuti kata hatinya menjadi musisi. Keduanya bertemu dan bergabung menggapai kebebasan dengan meninggalkan bangku kuliah dan keluarga, mengeksplor potensi keduanya menjadi penyanyi dan pemusik dangdut.

Namun, seperti apatisme yang diisyaratkan tagline novel ini: keduanya tidak pernah benar-benar dapat menyatakan dirinya secara bebas dan leluasa di hadapan siapa saja. Alih-alih mendapat kebahagiaan, karena sebuah peristiwa untuk menyelamatkan buruh dari tindak kekejaman pemiik modal, keduanya justru dijebloskan dalam penjara . Di dalam penjara mereka mengalami sejarah gelap penyiksaan yang lazim di zaman Orba. Selain dipukuli, Sasa harus menerima perlakuan bejat aparat keamanan: diperkosa, dipaksa mengoral kelamin mereka, dan aktivitas seks sungsang lainnya.

Akibatnya Sasa shock dan berakhir di rumah sakit jiwa. Di sinilah agaknya Sasa menemukan keberanian menyatakan dirinya yang sejati kepada papa, mama, dan sang adik. Namun hanya mama yang bisa menerima Sasa. Bahkan mama kemudian menjadi manajer Sasa yang tumbuh menjadi biduan dangdut transgender terkenal. Kelak Sasa bertemu kembali dengan Cak Jaka yang telah beralih lupa menjadi bagian dari organisasi keagamaan yang gemar memakai cara kekerasan dalam berdakwah dan menyampaikan sesuatu yang mereka anggap paling benar.

Kegagalan Cak Jaka dan terutama Sasa mereguk kebebasan bukan lantaran dibatasi oleh kebebasan indvidu lain, melainkan karena sistem politik, sosial, dan budaya yang sudah demikian mapan menolak keberadaan mereka dengan seabrek dalih, terutama dalih agama, untuk disembunyikan ke karpet sejarah.  Novel ini banyak menampilkan peristiwa ironi kebebasan, dan sindiran keras bagi kemunafikan yang ditunjukkan justru oleh kalangan beragama. Sayangnya, Okky terkesan menghindari untuk menyorot orientasi seksual Sasa secara lebih detil. Seakan Sasa hanya menghadapi persoalan penolakan orang terhadap fisiknya yang feminin.  Bisa jadi ini pengaruh sindrom kebebasan penulisnya.    

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka