Nalar Kehampaan



Model diperani oleh Melisa dan Inda

Bahwa menulis adalah pekerjaan yang dilakukan seorang diri dan bersifat sangat personal karena mensyaratkan pergulatan panjang dalam keheningan terbukti hanya dogma. “Lenka” membuktikan itu. Novel ini dikerjakan melalui jalan keroyokan belasan penulis. Awalnya tidak lebih dari separagraf fragmen tewasnya Magdalena Anjani Sukmajati atawa Lenka, seorang model molek blasteran Jawa Hungaria, yang jatuh dari lantai lima dalam suatu pesta kalangan sosialita untuk penggalangan dana. Ide ini dilemparkan AS Laksana dan Yusi Avianto Paraenom, mentor kelas penulisan kreatif kepada belasan alumnus kelas penulisan kreatif yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta.

Ide itu serupa tai yang dilemparkan kepada sekawanan ikan lele kelaparan yang berdesakan di empang sempit, langsung disambut kawanan lele itu untuk dimamah kemudian dimuntahkan kembali menjadi serpihan-serpihan aneka bentuk, warna, dan rasa. Lalu ramai-ramai mereka rangkai menjadi novel. Tentu proses pemamahan, pemuntahan, dan perangakaian itu memiliki dramanya sendiri yang mungkin penuh perbantahan, pembantaian, pergunjingan, dan perkelakaran di antara mereka. Tetapi mengenai proses itu biarlah menjadi cerita sentimental mereka saja. Sekarang, mereka telah menghidangkan hasilnya pada kita untuk menikmati, memamah, menelan, atau memuntahkannya lagi.

Kematian Lenka tetap menjadi misteri sampai kita mendapati halaman terakhir. Para pembaca sendiri yang harus (kalau memang ada yang mengharuskan) menerka-nerka apa sebenarnya yang melatari perbuatannya itu. Pasalnya, mereka hanya menyuguhkan peristiwa-peristiwa jauh sebelum dan beberapa hari sesudah peristiwa itu. Nalar pembaca diminta bekerja sendiri  mengusut peristiwa yang sesungguhnya. Tentu saja para pengarang bukanya tidak tahu kejadian sebenarnya (atau benar-benar tidak tahu?). Akhir cerita sengaja dibuat terbuka atawa menggantung sebagai upaya untuk menghargai nalar pembaca. Karena, barangsiapa yang menghargai nalar pembaca maka para pengarang sendiri akan dianggap lebih tinggi nalarnya. Sedangkan untuk pembaca yang telanjur gemar didikte, pengarang jenis ini tentu saja agak membikin dongkol.

Bagi saya sendiri, agaknya juga tidak terlalu penting untuk memastikan mana yang paling mendekati kebenaran penyebab terjunnya Lenka dari lantai lima yang membuat kepalanya pecah dan nyawanya minggat entah ke mana. Rangkaian peristiwa sesudah dan sebelum peristiwa nahas itu terjadi telah memalingkan saya dari keinginan tersembunyi untuk menyimpulkan di balik peristiwa kematian itu.

Hal ini karena setiap rangkaian menyuguhkan dunia cerita dengan cecabang yang rimbun dan mengajak saya bertualang pada aneka kemungkinan yang seakan tak terbatas.  Cecabang itu adalah tokoh-tokoh yang berseliweran di dalam novel ini. Ada fotografer aliran sadistis (eh, bener gak sih istilah ini) bernama Helong Lembata; ada pasangan pengusaha kaya raya Liman-Komang Pamalayu; ada ayah dan ibu Lenka, Tiung Sukmajati-Luisa Bathory; ada Pandan Salas, kakak lelaki Lenka yang atlet catur; ada Jabar Kamus, wartawan senior yang terus gentayangan di lapangan sehingga mengundang kejengkelan istrinya karena tak sejahtera-sejahtera. Mereka semua memiliki kisah dan persoalannya sendiri. 

Helong Lembata misalnya. Pemuda jangkung yang datang dari Nusa tenggara Timur itu memilik kisah muram di balik hobi dan profesinya memotret obyek-obyek yang mengandung kekejaman; di balik kegandrungannya melukai diri sendiri sebagai cara untuk mencapai kenikmatan dan semacam kegembiraan. Pokoknya pengarang membuat latar yang selogis mungkin untuk menjelaskan watak dan kehadiran setiap tokoh.    

Hampir semua watak, cara pandang, dan prilaku tokoh-tokoh tersebut tidak membuat nyaman  bagi kewarasan. Pandan Salas yang agak tuli dan begitu mendendam pada  ayahnya karena terlalu menekan, memiliki kecenderungan menyiksa hewan dan melakukan seks dengan saudara kandung atawa incest. Meimei Pikatan, manajer dan kekasih Pandan Salas, hidupnya digerakkan oleh kebenciannya kepada laki-laki. Meimei lahir dari seorang ibu yang diperkosa. Memei kemudian mengulang sejarah ibunya pada tubuhnya sendiri: melahirkan anak dari laki-laki yang kabur meninggalkannya.   

Rupanya membuat alur dan konflik menarik dari tokoh-tokoh yang lurus dan waras memang susah dan merepotkan. Konflik tidak dapat dihadirkan secara meyakinkan dari tokoh-tokoh semacam itu. Novel ini memang hadir dengan kemampuan teknis bertutur dan imajinasi yang meyakinkan namun dengan nalar kehampaan. Nalar kehampaan ini jelas sekali digambarkan oleh motif Helong demi mendapatkan obyek fotografi yang menarik. Helong menyuruh seorang bocah membeli bensin dan memancing orang-orang untuk membakar hidup-hidup pencopet yang dijebak melakukan aksinya di tengah keramaian. Helong memotret momen tubuh yang dibakar hidup-hidup sebagai pencapaian karya fotografi tinggi. 

Jadi, setelah kenyang disuguhi teknik dan kekayaan bahasa yang ciamik, kita para pembaca akan dijejali rasa hampa. Para pengarang novel ini tampaknya sudah kesurupan oleh semangat si Helong itu, mengejar keindahan dengan cara apa pun.

Data buku• Judul buku: Lenka • Penulis: Serikat Penulis Kuping Hitam • Penyunting: A.S. Laksanan dan Yusi Avianto Pareanom Penerbit: Banana • Cetakan: I, Juli 2011 • Tebal: 262 halaman

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka