Rekonsiliasi ala Ahmad Tohari



Model diperani oleh Miftah

Saya mengenal Ahmad Tohari melalui trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (RDP). Tapi pertama kali membaca novelnya yang berjudul “Lingkar Tanah Lingkar Air” dan kumpulan cerpennya “Senyum Karyamin”.  Novel trilogi yang melambungkan namanya beberapa kali dilayar lebarkan itu baru saya baca sekitar lima tahun terakhir. Adapun “Kubah” (Pustaka Jaya,1980) novel debutannya saya baca dua tahun lalu. Dan sebulan terakhir saya harus mengulang membacanya lantaran seorang kawan menawarkan membuat semacam resensi novel tersebut untuk keperluan promosi sejumlah novel Indonesia di web site Korea.

Saya perlu membaca ulang demi menyegarkan kembali ingatan tentang novel tersebut. Inilah persoalannya. Saya menyimpan novel-novel yang telah saya baca dalam dus di rumah saya di desa. Novel-novel baru dan sejumlah buku yang kerap jadi rujukan penting menulis saja yang saya bawa di kamar sewaan di Jakarta. Saya hampir putus asa bakal tidak bisa memenuhi tawaran menarik kawan saya itu dengan tenggat waktu demikian mepet. Jika kemudian saya mendapatkan kembali  “Kubah” seperti sebuah kebetulan. Novel ini rupanya tidak terbawa ke desa. Ia terselip di antara buku-buku yang saya telah karungi dan saya taruh di kolong meja kubikel.

**
“Kubah” maupun “Lingkar Tanah Lingkar Air” agaknya memang tidak sekuat trilogi RDP. Namun kerincian Ahmad Tohari mendeskripsikan alam pedesaan, tokoh-tokohnya, dan persoalan yang mereka hadapi tetap meyakinkan dan mengantarkan pembacanya ke dalam atmosfer cerita yang dibangunnya, merasakan udara desa, mengendus bau keringat tokoh-tokohnya lengkap dengan persoalan yang melilit mereka.

“Kubah” berlatar pasca peristiwa 1965 yang menjadi sejarah kelam terbesar bangsa ini. Novel ini terbit limabelas tahun setelah tragedi itu, yakni masa-masa makin menguatnya rezim Orde Baru yang secara sistemik dan brutal memberantas keberadaan dan pengaruh partai komunis di Indonesia. Maka menulis tema ini sepanjang kekuasaan rezim Orba sangat berisiko. Apalagi novel yang bernada empati pada ideologi partai tersebut. Bahkan sekadar menawarkan gagasan melakukan rekonsiliasi dengan sesama anak bangsa yang pengusung ideologi partai yang konon paling progressif itu, akan mengundang kepanikan dan kemarahan rezim Orba. Namun Ahmad Tohari menempuh risiko itu.

Mantan kader, simpatisan, dan aktifis partai komunis tersebut dalam novel ini mewakili potret kelompok rakyat jelata yang ditolak lingkungannya lantaran pernah terlibat dalam aksi pengkhianatan terhadap negara. Sosok rakyat jelata itu bernama  Karman, seorang pemuda warga desa Pegaten, Banyumas, Jawa Tengah. Lantaran kekecewaannya kepada Haji Bakir, tokoh yang dihormati dan dituakan di desa Pegaten, Karman yang semula rajin beribadah di masjid kini mulai meninggalkan ibadah (shalat dan ngaji). Kekecewaan itu dipicu oleh penolakan Haji Bakir atas lamaran Karman kepada Rifah, putri Haji Bakir. Didorong oleh rasa kecewa kepada Haji Bakir, Karman bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang kelak memberontak dan digulung rezim pemerintah Orba.
  
Kekecewaan Karman terus tumbuh dan menjelma kebencian, apalagi saat datang Triman Margo, dua kader PKI, mengompori dan membujuk Karman bergabung dengan PKI. Karman dijanjikan jabatan tinggi dan kelak bisa mewujudkan keinginannya mendapatkan Rifah dan melampiaskan dendam kepada Haji Bakir.

Namun, saat bergabung dengan PKI Karman bertemu dengan Marni dan merasa lebih cocok dengan Marni yang berasal dari keluarga biasa yang sederajat dengan Karman.  Rifah sendiri kemudian menikah dengan Abdul Rahman, mereka memiliki anak bernama Jabir. Tak lama kemudian Rifah menjanda lantaran Abdul Rahman tewas karena kecelakaan. Meski kesempatan mendapatkan Rifah kembali terbuka, Karman lebih memilih menikah dengan Marni. Mereka kemudian memiliki tiga orang anak, masing bernama Rudio, Tini dan Tono.

Pemberontakan pun meletus. Kader, simpatisan, dan aktifis partai komunis pun dikejar rezim Orba untuk dilenyapkan. Karman, termasuk yang diburu. Namun nasib baik (atau buruk) menolongnya. Ia selamat dan sekadar dikirim ke Pulau Buru. Beberapa tahun selesai menjalani hukuman Karman kembali ke desa kelahiran dan mendapati semuanya telah berubah. Istrinya telah menikah lagi lantaran menganggap Karman telah dilenyapkan. Situasi kemudian membuat Karman harus berdamai dengan diri sendiri. Ia berupaya menebus kekeliruannya dengan banyak bekerja untuk desanya. Haji Bakir sebagai simbol yang mewakili masyarakat yang dikhianati gerakan partai komunis menerima kembali Karman menjadi bagian dari warga desa. Ia memberi kesempatan Karman membuktikan ‘kepulangannya’ dengan menugasinya membangun dan membuat kubah masjid desa. Inilah rekonsiliasi antar anak bangsa yang terbelah ideologi ala Ahmad Tohari.

Seperti novel Ahmad Tohari dan pengarang angkatan lama umumnya, “Kubah” menghadirkan banyak tokoh dengan karakternya yang memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Simaklah dialog menarik berikut ini.

“Sungguh tidak adil!” begitu Karman bila teringat lamarannya yang tidak diterima oleh Haji bakir. Terus terngiang suara ayah Rifah itu di telinga Karman. (halaman 87).

“Kebaikan yang pernah ia berikan kepadamu adalah contoh kemunafikan sejati. Takkan pernah ia menolongmu, menyantunimu selagi kau masih kecil, apabila ia tidak melihat keuntungan yang dapat diperoleh darimu. Tenagamu misalnya!....” kata Margo dan Triman dalam upaya mempropagandakan partai komunis. (halaman 90)

Kedua dialog di atas sangat penting bagi pergerakan dan motif cerita novel ini. Dialog pertama terjadi di dalam batin Karman setelah penolakan Haji Bakir atas lamaran Karman kepada Rifah anaknya. Sedangkan dialog kedua inilah yang memperkuat Karman bergabung dengan Partai Komunis Indonesia yang kelak mengubah hidupnya. Peristiwa 1965 sejatinya imbas dari pertarungan ideologi politik tingkat global. Masyarakat kecil di pelosok desa terpencil di negeri bernama Indonesia hanya korban pertarungan ideologi raksasa itu. 

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka