Selebritas, Pers, Mafia



Model diperani oleh Si Bungsu

Apabila kau bekerja sebagai pewarta di sebuah media hiburan, kau mungkin akan menjadi bagian dari kehidupan selebritas yang glamor, penuh pesta-pesta nan gemerlap. Saban minggu kau akan mendatangi acara-acara tak penting mulai dari penghargaan ini itu, peluncuran album, syukuran film baru, resepsi pernikahan, atau sekadar ulang tahun artis ini artis itu, yang memperlihatkan kepalsuan mereka yang menjengkelkan. Mungkin kau akan mendapati situasi yang pernah saya alami: ditelepon terus menerus oleh seorang biduanita sekaligus pemain film yang acap membuat kontroversi sekadar untuk mendengar curhat perihal kehidupan rumah tangganya, perilaku seks menyimpang suaminya, hingga kau merasa agak terganggu.

Dari keakraban itu, kau akan tahu betapa kehidupan selebritas yang penuh kepalsuan itu begitu nyata—meski tentu saja selalu ada kekecualian— hadir di depan hidungmu sampai kau merasa muak sendiri.  Jauh sebelum itu, aneka cerita berkenaan dengan perilaku hidup selebritas yang amat dekat dengan seks bebas, praktik pergundikan, mungkin sudah sering pula kau dengar. Misal artis A digundik pejabat anu, pengusaha ini mempergundik artis B. Artis ini harganya sekian ratus juta, artis itu sekian ratus juta. Artis anu digarap ramai-ramai oleh anak-anak pejabat anu.

Ketika saya membaca novel Ilusi Imperia Akmal Nasery Basral belum lama ini, ingatan pada kehidupan banal mereka seakan muncul lagi dalam wujudnya yang lebih brutal.  Melanie Capricia, akrab disapa MC, seorang penyanyi top, yang terlihat mesra dengan suaminya, hangat dengan anak-anaknya, ternyata pada saat bersamaan menjadi piaraan seorang jenderal. Demi mengikuti keinginan produser dan imajinasi publik serta anggapan nyamuk-nyamuk pers, MC mencitrakan diri sebagai selebritas yang dangkal dan tak mengerti kebudayaan. Sejatinya tidak demikian. MC adalah artis yang cerdas namun memilih menjadi boneka Barby supaya aman. Sebagai penyanyi MC sebenarnya memiliki suara pas-pasan, pembawaan yang luwes dan kelincahan mengelola komunikasi dengan perslah yang membawanya jadi penyanyi top.

Dengan premis cerita semacam itu, novel yang bernafas detektif ini sebenarnya biasa saja. Alur dan cara mengelola konflik yang baik, dibalut kerincian deskripsi dengan basic wawasan yang luas pengarangnyalah yang menjadikan Ilusi Imperia bukan hanya menghibur tapi juga menawarkan kedalaman yang mengasyikkan. Terutama karena novel ini menghadirkan heroisme seorang pewarta bernama Wikan Larasati, jagat pers, lengkap dengan kebusukan pilar keempat negara demokrasi tersebut.

MC, penyanyi top yang menyembunyikan kecerdasannya itu ternyata diperalat oleh Adelia Sukmono (Adel), manajernya sendiri dengan motif balas dendam. MC dan Adel adalah dua sahabat yang semula sama-sama berangkat sebagai penyanyi dari sebuah kota kecil di Jawa. Adel bahkan lebih dulu dikenal sebagai penyanyi dengan kemampuan vokal 4 oktaf, dan menjadi guru vokal MC. Namun karir Adel jalan di tempat, kalah oleh MC padahal suara MC tidak lebih bagus dengan ketinggian vokal tidak mencapai 3 oktaf. Putus asa tak dapat mengejar popularitas MC, Adel akhirnya banting stir jadi manajer MC. Berkat kerja keras dan kepintaran Adel, MC meraih puncak popularitas.      

Secara diam-diam Adel merancang skenario besar dengan dirinya sendiri sebagai umpan untuk menghancurkan karir dan hidup MC. Adel menjual MC kepada seorang jenderal besar kaya raya dan memiliki perusahaan yang menggurita. Adel membongkar sendiri semua kebusukannya dalam pertengkaran hebat mereka di depan Wikan Larasati, pewarta ingusan yang mendapat tugas pertama membongkar pembunuhan seorang pengacara yang diduga melibatkan MC.
Jagat pers yang selama ini mencitrakan diri sebagai hero, dalam novel ini tampil secara ironis-tragis: perjuangan seorang pewarta yang berhasil membongkar sebuah kasus besar akan berakhir sia-sia, bahkan lebih buruk, dipecat atau disingkirkan lantaran pimpinan redaksi medianya berselingkuh dengan bos besar yang tak lain si pelaku kejahatan.

Comments