Dua Orang Kekasih yang Meninggalkanmu



ilustrasi dari deviantart.com

Kamu muncul ketika aku menutup halaman terakhir novel yang kubaca dan bersiap meninggalkan meja di kafe sunyi itu.

“Sungguh hidup begitu ruwet dan sialan,” kamu bicara dari seberang meja. Aku menengok kiri kanan mencari seseorang yang kamu ajak bicara. Namun aku tak menemukan siapa-siapa. Kafe masih sepi, di pojokan ini hanya ada aku. Jadi, kalimat itu kamu tujukan kepadaku. Kamu memang duduk tepat di hadapanku. Tapi matamu tidak menatap ke mataku. Aku hendak menyahut, tapi kamu lebih dulu meneruskan bicara.

“Mereka meninggalkan aku, mengkhianati aku. Tega sekali. Aku tak bersalah apa-apa. Keterlaluan!” Kamu menyulut rokok dengan tatapan entah ke mana; mengabaikanku yang terus menyimak setiap kata dan gerak gerikmu yang memantik keingintahuanku. Jujur saja, kita acap penasaran dan diam-diam ingin mengintip kehidupan pribadi orang lain untuk membanding-bandingkan dengan kehidupan pribadi kita sendiri, namun kita menyembunyikannya atas nama etika.

Kamu mengenakan blazer berwana coklat terang. Untaian manik-manik menghiasi jenjang lehermu. “Mereka, Jim dan Jonathan, suami dan anakku, kemanakah aku harus mencarinya sekarang?” kamu menyesap rokok dengan nikmat. Namun, kini matamu berkabut. Menatapku sekilas, hanya sekilas. Seakan aku patung. Seharusnya aku merasa tersinggung. Tatapanmu yang kosong dan gurat di bibirmu yang tipis disaput lipstick merah samar entah mengapa menepiskan perasaan itu. Menarik hasratku untuk terus duduk menunggu kesempatan untuk kamu hiraukan. Pelayan datang mengangsurkan daftar menu. “Saya minta lemon tea saja,” katamu tanpa melihat daftar menu.

“Mestinya mereka tidak melakukan ini. Aku sudah memberikan perhatian dan segenap kasih sayangku. Tapi beginilah, hidup nyatanya begitu ruwet dan susah kumengerti.” Kabut di matamu kini berubah menjadi embun lalu menjelma sungai kecil di pipimu yang berkerut. “Terima kasih,” ucapmu pada pelayan yang datang membawakan lemon tea pesananmu. Kamu meletakkan siku kananmu di bibir meja dan telapak tanganmu menopang dagumu yang tirus.

“Aku tak habis pikir akan mengalami takdir begini buruk setelah masa-masa bahagia yang terasa begitu singkat. Sungguh sebenarnya aku tak siap menerima takdir ini. Tapi apa boleh buat, hidup memang ruwet dan tak tertebak sekalipun kita sudah menyiapkan semuanya dengan baik dan terencana…” Kamu menahan isak. Anak-anak rambutmu jatuh menutupi wajahmu yang tertunduk.

“Maaf, Nyonya, tampaknya Anda tengah menderita sekali,” kataku memotong pembicaraanmu. Aku sudah tak bisa lagi bersabar. Mendadak matamu terbeliak menatapku seakan baru menyadari ada seseorang di hadapanmu.

“Dulu aku bahagia sekali. Mungkin aku orang yang paling bahagia di dunia ini. Hidupku seperti dikelilingi taman bunga yang senantiasa menguarkan harum semerbak. Aku memiliki kekasih idaman. Dia adalah Jim. Pria yang tampan dan pintar. Memiliki karir yang bagus di kantor dan aktif di sejumlah perkumpulan. Dia juga sangat lembut dan mengerti keinginanku bahkan yang paling tersembungi. Sesibuk apa pun dia tidak pernah alpa memberi kejutan-kejutan yang menyenangkan untukku.” Matamu yang semula keruh redup kini terlihat berbinar cemerlang seperti melihat sesuatu yang menyenangkan di hadapanmu. Bibirmu mekar oleh senyuman yang membuatku turut gembira.

“Jim meminangku. Kami melangsungkan pernikahan yang romantis, seromantis kehidupan rumah tangga kami berikutnya. Jim selalu memanggilku sweetie. Romantis sekali, bukan? Bertahun-tahun kami hidup laksana pengantin baru. Saban hari sepulang kerja dia selalu membawakanku setangkai mawar merah segar dan ciuman hangat. Dan di atas segalanya, dia sangat demokratis. Tidak pernah memaksakan keinginannya. Dia tipe lelaki yang berpikiran modern dan mempercayai laki-laki dan perempuan punya hak yang sama. Dia tidak berkeberatan ketika aku mengusulkan untuk tidak harus hamil dan memberinya anak. Bagiku bumi sudah terlalu renta dan sesak untuk menanggung lagi beban tambahan. Begitulah, Jim memberi keleluasaan padaku untuk mengejar karir dan aktif di berbagai kegiatan yang kusukai.”

Kamu diam beberapa lama, memejamkan mata seakan tengah berusaha menghadirkan seluruh kenangan indah bersama Jim. Sekian menit menunggu, mendadak tubuhmu terguncang-guncang oleh tangis yang begitu mengiris. Cairan bening bergulir lebih deras deras dari sudut matamu.

“Nyonya, ada apa denganmu?” kataku ikut teriris dan mengkhawatirkan keadaanmu. Kamu terus menahan kecamuk kesedihan yang membuatku bingung harus melakukan apa untuk menenangkanmu selain mengangsurkan tisu.

“Terima kasih,” perlahan kamu menyeka air mata yang terus merembes, “saban akhir pekan apabila tidak ada kegiatan kami bertiga bersama Jonathan selalu pergi makan  di luar, melakukan kegemaran yang sama mengunjungi museum-museum di kota ini, Ya, Jonathan anak kami yang kami adopsi dari panti ketika usia pernikahan kami memasuki tahun ketiga. Jonathan baru lulus sekolah dasar ketika kami ambil dan bergabung melengkapi kebahagian kami.” Usai mengucapkan itu kamu kembali memejamkan mata, menahan kesedihan hingga kamu sesenggukan. Situasi ini membuatku makin tak ingin beranjak meninggalkanmu. Kulihat kafe mulai ramai dan orang-orang memperhatikan kami. Pastilah mereka mengira kami sepasang kekasih yang tengah membicarakan sesuatu yang genting.    

Aku meletakkan telapak tanganku di punggung tanganmu, mencoba memberikan dukungan kekuatan. Aku berlaga jadi seorang kekasih yang berusaha mengerti kesedihan yang melandamu sebagaimana yang mungkin dipikirkan pengunjung kafe. 

“Terima kasih,” ujarmu, seraya menyeka wajahmu, “tapi bagaimana pun Anda tak akan mengerti kesedihanku,” katamu dengan suara lirih, lalu menyesap lemon tea mu perlahan-lahan seolah gerakan cepat akan membuat kesedihanmu kembali membuncah tak tertahan. Kini kamu kembali menyalakan rokok. Aku merasa lega melihatmu berangsur tenang.

“Nyonya, tampaknya Anda tengah menghadapi persoalan berat,” kataku hati-hati, sekadar menunjukkan simpati.

“Ya, bahkan lebih berat dari yang Anda bayangkan,” ujarmu seraya menatapku, namun lagi-lagi, hanya sekilas. Seakan menatapku berlama-lama hanya akan menambah kecamuk perasaanmu. Kini pikiranku sibuk menerka-nerka persoalan yang tengah melandamu, menyusun beberapa kemungkinan. Mungkin kamu sedang mengarang cerita yang sebaliknya dari kenyataan yang kamu hadapi. Jonatahan dan Jim meninggalkanmu karena justru kamu yang mengkhianati mereka. Jim memergoki perselingkuhanmu dengan lelaki lain sehingga Jim mengajak Jonathan meninggalkanmu. Bukankah banyak terjadi cerita semacam itu? Seorang perempuan karir yang merasa setara dengan laki-laki amat mudah melakukan pengkhianatan?

“Ceritanya runyam dan sulit kupercaya,” ujarmu setelah diam yang lama, seakan membaca pikiranku. “Kalau kuceritakan mungkin Anda pun akan menganggapku mengarang sebuah cerita yang kucuri dari sebuah novel paling memilukan.”

Aku terdiam seperti tertangkap basah tengah merencanakan sesuatu yang buruk tentang dirimu.        

“Jonathan tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan. Kami sangat menyayanginya, tapi kasih sayang Jim pada Jonathan lebih dari itu. Bukan kasih sayang seorang ayah pada anaknya. Namun sebenarnya mereka tidak perlu meninggalkanku seandainya mereka mau membicarakannya baik-baik. Aku bukan perempuan kolot yang tidak bisa menerima hubungan kedua lelaki itu,” kamu menghembuskan nafas berat, lalu melambaikan tangan pada pelayan. Kali ini kamu memesan bir.

Gondangdia, Mei 2014

Cerpen ini disiarkan pertama kali di situs LGBT: suarakita.org



Comments