Novel: Sebuah Sudut untuk Melarikan Diri



Model diperani Aisah Fitra Paulina

Novel-novel populer kita, apabila pengkategorian itu benar ada, tokoh-tokohnya hampir selalu berasal dari kelas sosial menengah atas. Yaitu kelas yang telah selesai dengan urusan duit, mereka yang tidak perlu berhitung untuk makan di restoran, nongkrong di kafe, menginap di hotel, ke mana-mana naik kendaraan pribadi atau taksi, traveling keluar negeri. Settingnya pun tidak jauh dari kampus, kompleks perumahan elit, ruang-ruang perkantoran yang artistik, lokasi-lokasi wisata.

Konflik yang muncul pun tak jauh-jauh dari perkara asmara yang menjengkelkan; biasanya terjegal oleh perbedaan minat, sikap, dan kegemaran tokoh-tokohnya. Misal tokoh ceweknya gemar traveling, hura-hura, menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang hanya berguna bagi egonya sendiri; sementara tokoh cowoknya gila kerja dan amat penuh pertimbangan. Kalau ada yang beda paling pada persoalan pencarian identitas.

Kemiskinan memang melelahkan, kawan. Maka sebaiknya dihindari dalam novel-novel yang ditulis untuk keperluan hiburan. Persoalan yang dihadapi orang-orang miskin tidak ada yang menarik. Begitulah barangkali pikiran para pengarang novel-novel populer—sekali lagi, apabila pengkutuban populer dan serius kita percaya. Pangsa pasar novel jenis ini memang luas, maksud saya kebanyakan orang membaca novel untuk pelipur lara.

Mungkin karena cerita asmara dan isu pencarian identitas di kalangan remaja dari keluarga kaya tampaknya lebih mudah. Para pengarang yang berasal dari lingkungan sosial yang kurang lebih sama dengan tokoh-tokoh yang dihadirkan, tidak perlu melakukan pengamatan atau riset yang terlalu ruwet dan berkeringat misalnya dengan mendatangi kompleks permukiman kumuh pinggir kali atau perkampungan petani dan nelayan miskin di banyak wilayah di negeri ini untuk melihat secara lebih dekat anak-anak balita di perkampungan miskin yang tidak perlu minum susu tambahan asi dan harus menunggu Idul Qurban untuk dapat makan daging kambing atawa sapi.

Mengamati kehidupan dan persoalan remaja (dan masyarakat) kelas menengah ke atas terkesan lebih mudah. Majalah-majalah dan film-film remaja melimpah ruah mengabarkan gaya hidup mereka. Dengan menonton film dan membacai beberapa majalah-majalah remaja yang menulis kisah anak konglomerat yang mengenakan jam tangan seharga semiliar dan bingung mau kuliah di London atau Paris, kau seakan dapat lebih mudah memahami persoalan mereka.

Mengamati kehidupan remaja dari kelas sosial rendah dan kelas sosial menengah atas perkotaan sebenarnya sama mudahnya apabila permukaannya belaka. Dan para pengarang memilih tokoh-tokoh dari kelas yang disebut terakhir ini lantaran inilah pasar terbesar untuk novel-novel hiburan ini. Anak-anak dari kelas sosial lebih rendah kalaupun mereka membaca novel, maka mereka akan memilih novel yang berkisah tentang remaja dari lingkungan sosial di atasnya. Apa asyiknya menikmati imajinasi kemiskinan mereka?  

Aduh, maafkan saya bila terdengar seperti sedang khotbah. Jadi begini, saya baru saja membaca novel “Perahu Kertas” besutan Dee. Saya mendapatkan novel ini dari lapak buku murah yang terletak di basemen Blok M Square beberapa bulan silam atas pesanan sulung saya yang saat ini kelas satu SMA—belakangan dia pesan lagi novel “Marmut Merah Jambu” dan “Manusia Setengah Salmon” garapan Raditya Dika.

Saya membacanya saat mengisi waktu libur di desa pekan kemarin. Sulung saya bilang bagus. Tentang cewek pengarang dan cowok pelukis yang berpacaran melalui jalan berliku-liku. Si cowok bernama Keenan, anak pemilik perusahaan trader yang kaya raya; sedangkan si cewek bernama Kugy,  penulis dongeng dari keluarga dengan kelas sosial setara.

Kau tahu Dee adalah novelis berbakat dari jagat sastra kita yang telah menelurkan novel-novel yang sempat menjadi pergunjingan di dunia sastra. Ini novel yang disebut dalam pengantarnya sebagai novel populer pertama yang ditulis Dee. Penyebutan novel populer tentu untuk membedakan sejumlah novel yang ditulis Dee sebelumnya yaitu Supernova, Akar, Petir, dan beberapa kumpulan cerpen lainnya.

Semula saya tidak yakin minat saya tumbuh untuk membacanya. Setelah membaca bab pertama, kok asyik dan tahu-tahu sampai di bab terakhir. Seperti saya singgung dalam lanturan di awal celotehan ini, “Perahu Kertas” mengetengahkan persoalan remaja dari keluarga kaya yang ogah meneruskan perusahaan orang tua demi mengejar apa yang disebut jati diri dan idealisme. Jujur saja membaca novel ini membuat saya teringat masa remaja saya yang hilang atawa tak tersentuh semesta yang menghidupi tokoh-tokoh dalam novel ini.    

Membaca novel ini seakan merelakan saya melarikan diri dari kesemrawutan hidup yang dengan ajaib saya nikmati.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka