Puisi, Fanatisme, Tragedi



poster dari IMDB.com

Pelajaran sastra pagi ini di National Political Academy, sekolah calon elit Nazi, adalah membaca puisi di depan kelas. Albrecht, salah satu murid di kelas itu, membaca puisi ini:    

meskipun jadi sedikit kekanakan-kanakan
musim dingin dan pemandangan salju yang baru saja jatuh menyadarkan diri kita.
sebuah perasaan suka cita yang tidak dapat dijelaskan
mungkin karena sebagai anak-anak, kita berpikir salju berhubungan dengan Natal

dalam mimpiku aku adalah pahlawan yang menyelamatkan seorang perawan dari seekor naga.  seorang yang membebaskan dunia dari kejahatan

saat mencari pelarian kemarin
aku ingat anak yang ingin menyelamatkan dunia dari kejahatan
setelah aku kembali aku sadar bahwa akulah kejahatan itu
yang sangat jahat yang ingin membebaskan dunia

Sebelum Albrecht menyelesaikan puisinya, ia diseret keluar oleh guru. Puisi yang dibaca remaja 17 tahun berperangai lembut itu dianggap menghina kepahlawanan Nazi. Anak petinggi Nazi itu pun diinterogasi ayahnya yang merasa sangat kecewa dan marah. Puisi itu menggambarkan sikap dan perasaan Albrecht atas peritiwa yang dialaminya semalam. Kepala sekolah menugasi murid-murid sekolah itu bergerak turun mengepung tahanan Rusia yang berusaha kabur. Albrecht menyaksikan kawan-kawannya melepaskan tembakan ke arah tahanan Rusia yang kabur dalam kegelapan malam di perbukitan. Namun, ketika mereka memeriksa mayat-mayat ternyata tahanan itu anak-anak yang tak bersenjata.

Albrecht mencoba menolong seorang anak yang masih hidup. Namun tindakannya dicegah para seniornya. Bahkan seniornya kemudian menembak tahanan yang sekarat hingga benar-benar tewas. Albrecht terguncang menyaksikan adegan kekejaman itu.  

Sosok Albrecht membuat saya kembali bertanya, apakah seseorang yang memelihara nurani memiliki kecenderungan menulis puisi atau puisi yang membuat mereka memelihara nurani? Orang percaya puisi memiliki kemampuan ajaib menjaga kepekaan seseorang pada kemanusiaan.  Namun di lapangan sejarah kita sering menemukan hal yang sebaliknya. Stalin, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Sovyet yang memiliki kekejaman yang melegenda itu,  pada usia muda menulis banyak puisi. Tidak sedikit pula penyair yang saya kenal berperangai kasar, berangasan, dan menyebalkan.  

Albrecht dalam film Before the Fall (2004)  atawa Napola Hitler’s Elite, hanya tokoh sekunder. Tokoh primernya adalah Fredrich, remaja dari keluarga kelas pekerja di distrik Reich, Jerman. Fredrich yang memiliki tubuh kuat dan berbakat tinju kagum melihat sekolah yang didirikan untuk regenerasi Nazi. Sekolah ini menyediakan fasilitas lengkap secara gratis bagi anak-anak muda Jerman yang akan didik untuk kebesaran Nazi. Mengingat ayahnya tidak sepakat dengan keinginan Friedrich, ia  kabur dari rumah untuk bersekolah di sana. Friedrich yang satu kelas dengan Albrecht selalu mewakili sekolahnya dalam kompetisi tinju antar sekolah.

Albrecht dan Friedrich berkawan dekat meski keduanya seperti dua kutub yang berseberangan. Albrecht selalu memprotes Friedrich setiap melihat kekejaman kawannya itu ketika ‘menghabisi’ lawan-lawanya di atas ring. “Kamu tidak perlu melakukan itu,” protes Albrecht.

Bagi Albrecht sebagai anak petinggi Nazi, hidup adalah jebakan fanatisme yang menyedihkan. Tak ada jalan keluar selain kematian. Itulah yang kemudian ditempuh Albrecht ketika tak mampu menolak mengikuti perintah ayahnya dikirim ke fron timur untuk menulis kebalikan dari kenyataan yang ditulis dalam puisinya. Albrecht menenggelamkan diri ke dasar danau di bawah hamparan salju yang membatu ketika mereka tengah latihan ketahanan fisik. Film ini mengingatkan kita bahwa fanatisme kepada apa pun akan melahirkan tragedi kemanusiaan. 

Comments

Magz boys said…
Menurut saya nih yah ketika seorang penyair bersikap demikain barangkali itu karena wujud dari kepekaan mereka yg terlalu tinggi sehingga kadang mereka tidak bisa mengendalikan sikap yang mungkin kita anggap itu adalah kasar dll, tapi kembali lagi kenapa mereka menjadi kasar? apakah mereka hanya menjadi kasar begitu saja? mungki mereka pernah melalui sesuatu yg tidak pernah kita tahu? karena seseorang adalah bentuk dari masa lalunya! saya bukan orang yg pro dg hal yg bersifat kekerasan tapi barangkali mengerti orang lain jg penting sebagaimana pentingnya kita mengerti diri sendiri...hehehe...salam kenal yah, bukan bermaksud menggurui anggap sj komentar sy ini hanya guyonan...bye...bye!!
Anonymous said…
propaganda barat