Sastra(wan) Indonesia Inferior?

ilustrasi dicomot dari deviantart.com
Berdasarkan data dari Newsletter IKAPI Februari 2014, Vol. I Th. I, produksi buku di Indonesia dapat diasumsikan antara 28.000 s.d. 30.000 judul per tahun. Diperkirakan, sekitar sepertiganya (atau bahkan lebih) adalah karya terjemahan dari bahasa asing ke bahasa Indonesia. Lalu berapa banyak karya anak negeri yang sudah diterjemahkan ke bahasa asing?

Apabila dilihat dari bidang sastra, jumlahnya mungkin hanya belasan judul per tahun. Kita lihat produksi Penerbit Lontar, misalnya. Penerbit yang didirikan tahun 1987 itu telah secara konsisten menerbitkan terjemahan karya sastra, budaya, dan sejarah Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Selama kiprahnya dalam 26 tahun lebih, Penerbit Lontar baru memiliki sekitar 100-an judul.

Penerbit Lontar didirikan, salah satunya karena prihatin bahwa Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar keempat dunia, ternyata karya sastranya belum dipelajari di universitas-universitas besar dunia. Penyebabnya, terutama adalah karena sangat sedikit karya sastra Indonesia yang ditulis dalam bahasa yang lebih dikenal penduduk dunia (baca: bahasa Inggris). Bukan karena karya sastra Indonesia sedikit atau kurang bermutu. Itu sebabnya, diperlukan “jembatan bahasa” agar kekayaan khazanah susastra Indonesia dapat dikenal dan dipelajari oleh masyarakat dunia.

Hal ini kadang kurang disadari, bahkan oleh para sastrawan sendiri. Banyak di antara mereka beranggapan bahwa yang penting adalah fokus berkarya sebaik-baiknya. Karena karya yang baik, akan mengundang para ahli sastra dan penerjemah dari luar negeri akan datang ke Indonesia untuk mencari dan membawa sastra Indonesia ke publik sastra dunia. Benarkah demikian? Apakah kita bisa mengharapkan para peneliti atau pemerhati sastra dunia, mau repot-repot belajar bahasa dan sastra Indonesia sebelum mereka mengenal lebih dulu sastra Indonesia, lalu merasa tertarik dan ingin mempelajari lebih jauh?

Sebagai contoh, saat ini, banyak remaja Indonesia yang tertarik dengan fiksi Korea. Mereka mengidolakan artis-artis Korea, berdandan dan memakai kostum ke-korea-koreaan, mempelajari bahasa dan budaya Korea, bahkan ada beberapa penerbit fiksi remaja di Indonesia yang punya lini teenlit-Korea. Hal ini tentu tak akan terjadi seandainya pemerintah Korea tidak lebih dulu mengekspor film-film Korea dengan terjemahan bahasa Indonesia. Hampir tidak mungkin terjadi apabila remaja-remaja itu disuguhi film-film dalam bahasa Korea yang tidak mereka mengerti, lalu mereka kemudian ramai-ramai belajar bahasa Korea supaya mengerti jalan ceritanya. Pepatah lawas, tak kenal maka tak sayang, tetap saja berlaku.

Ada pula pandangan romantis mengenai profesi sastrawan, bahwa sastrawan adalah mahluk agung sejenis nabi yang tidak seharusnya mengurusi perkara jual beli; yang kerjanya hanya bertapa, menerima wahyu dan menuliskannya. Akibatnya, banyak yang kemudian tak mampu membendung sinismenya terhadap sastrawan yang secara individu mengupayakan sendiri menjual karyanya ke pasar internasional. Terkesan bahwa berjualan dan menjadi kaya seakan hanya boleh dilakukan para kapitalis.

Belum lagi, asumsi bahwa sastrawan Indonesia mengidap inferioritas lantaran tidak kunjung menjadi bagian dalam pergaulan sastra dunia. Bahkan di level Asia, sastra Indonesia dirasa jauh tertinggal. Ini terjadi lantaran minimnya penerjemahan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris, sehingga publik sastra dunia tidak dapat mengakses sastra Indonesia. Hal ini dianggap telah membebani iklim kekaryaan sastra Indonesia, karena sastrawan Indonesia terpaksa harus berperan ganda: sebagai kreator sekaligus penjual.

Kita tentu setuju bahwa sastrawan Indonesia harus terus bekerja keras dan bekerja cerdas guna menghasilkan karya-karya berkualitas. Namun, pendapat bahwa peran ganda yang dilakukan sastrawan Indonesia telah membebani iklim berkarya tidakkah terlampau terburu-buru? Siapa pun sastrawan Indonesia tentu sah merasa gelisah mendapati fakta lambannya pergerakan sastra Indonesia di dunia internasional. Hanya saja, tidak harus serta merta menuduh sastrawan Indonesia mengidap inferioritas karenanya.

Meskipun—jika kita percaya bahwa— sastra adalah hasil cipta akal budi yang adiluhung, tidak berarti ia begitu sakral dan harus dibebaskan dari unsur “promosi”. Bahkan agama pun, dalam bentuknya yang lebih luhur, adalah ‘produk’ yang mesti “dipromosikan” (bahkan dengan jerih-payah). Itu sebabnya nabi mengandung akar kata messiah, pembawa pesan. Bagaimana umat manusia bisa tahu suatu agama begitu indah dan mulia apabila tidak dikabarkan pesannya dengan berbagai perjuangan susah-payah?

Benar bahwa modernisme memang menuntut spesialisasi-spesialisasi demi efisiensi dan efektifitas yang bermuara pada kualitas. Namun, spesialisasi tidak mensyaratkan eksklusifitas. Artinya, sastrawan juga adalah manusia yang di dalam dirinya memiliki potensi-potensi lain yang tidak hanya berurusan dengan mencipta karya. Yang dibutuhkan adalah membuat disiplin yang ketat dalam melakukan sejumlah tindakan yang berbeda. Dengan kata lain, sastrawan harus mampu menempatkan diri kapan dia bertindak sebagai kreator kapan dia berperan sebagai penjual. Ibarat kata, berkarya dan menjual adalah ruang-ruang berbeda. Sastrawan sah saja keluar masuk ruang-ruang tersebut.  

Manakala ia tengah bergelut dengan karya, maka ia harus total berurusan dengan bahasa, mengerahkan seluruh potensi yang dimiliknya menciptakan karya yang berkualitas, mengolah bahan dan berimajinasi seliar-liarnya. Sebaliknya, ada kalanya ketika ia harus menjual karyanya, maka ia harus bertindak sebagai penjual. Bagaimana mengatur strategi pemasaran, membuka jaring-jaring marketing supaya karyanya laku dijual. Karena bagaimana pun menjadi penjual adalah serangkaian tindakan yang memiliki hukum-hukum dan disiplinnya sendiri.

Alih-alih sinis terhadap peran ganda beberapa sastrawan, kita semestinya berterima kasih kepada mereka mampu menjual karya ke pasar internasional, karena jangan-jangan, berkat keberhasilan usaha mereka pula, para sastrawan yang tidak bisa berpromosi bisa “kecipratan” ikut dikenal juga. Bukankah dunia mulai melirik Turki setelah ada Orhan Pamuk yang memenangi Nobel. Khazanah sastra Timur-Tengah mengesan di hati pembaca Indonesia setelah maraknya penerjemahan karya puitis Kahlil Gibran, yang dilanjutkan dengan penerjemahan karya penulis Timur Tengah lainnya. Alangkah baiknya, apabila selain bersyukur, para sastrawan juga mau mempelajari bagaimana rekan-rekan mereka mampu menjual karya ke pasar internasional.

Inisiatif ini justru sangat penting. Karena tidak sedikit karya sastra kita yang sebenarnya berkualitas, namun tidak dikenal hanya karena sastrawan kita kurang progresif membuka pasar ke luar negeri. Menurut catatan, sebelum kemerdekaan, terdapat 3.000 karya sastra kita dari ratusan sastrawan—salah satunya yang terkemuka adalah Mas Marco Kartodikromo dengan novelnya antara lain “Student Hidjo”  (1918) dan “Mata Gelap: Tjerita Jang Soenggoeh Kedjadian Ditanah Djawa” (1914)yang hilang dan tidak dikenal lantaran tidak dikenalkan. Pemerintah justru kemudian memberangus para pengarangnya sendiri terkait perbedaan ideologi politik.

Ironisnya pula, sastra Indonesia seringkali dikenal dunia pertama kali melalui karya Pramoedya Ananta Toer, penulis yang dulu dibungkam pemerintah. Tentu ada berbagai latar politis yang membuat Pramoedya dikenal di manca negara, bukan semata-mata karyanya. Betapapun, itu akan sangat sulit terjadi apabila tidak ada inisiatif penulis membuka diri dan memperkenalkan karyanya. Karya-karya agung itu hanya jadi manuskrip-manuskrip beku yang tak dikenal dunia.

Esai ini ditulis berdua dengan Wikan Satriati dan disiarkan Suara Merdeka, Minggu (18 Mei 2014). 

Comments