Tuhan yang Ditampik



model oleh Balqis

Mari kita sedikit melantur perihal agama dan Tuhan. Kau tahu, agama datang pada masa pramodern. Itulah sebabnya disebut sebagai produk masyarakat pramodern. Sejumlah Ilmuan mencurigai agama tak lebih dari dongeng belaka yang diciptakan masyarakat pramodern. Dongeng agama lahir sebagai refleksi ketaksanggupan manusia memahami gejala-gejala alam. Kalau mau jujur banyak di antara kita kadang memiliki kecurigaan serupa. Namun, kita takut disebut tak percaya Tuhan, kafir, atheis.  Ketakutan itu mungkin berakar dari ajaran tentang keberadaan Tuhan yang dijejalkan orang tua dan lingkungan kepada kita sejak  kecil. Kau akan dikucilkan bahkan dibunuh bila terang-terangan tidak mempercayai Tuhan di tengah komunitas yang memuja agama dan Tuhan melebihi rasa rohmat terhadap manusia.  

Sejumlah ilmuan yang secara berani mengatakan agama sebagai dongeng bersandar pada banyaknya cerita-cerita yang dituturkan kitab suci sukar dipahami dengan pendekatan logika dan sejarah. Sehingga kemudian mereka tidak mampu membuat argumentasi untuk mempercayai keberadaan Tuhan. Sebut saja cerita tentang tongkat Musa yang mampu membelah samudera; bumi yang menimbun kaum Luth gara-gara kaum tersebut melakukan seks sejenis; kebangkitan setelah kematian.  Logika tentu tidak dapat menerima cerita ini, paling tidak sampai sejauh ini.   

Jangan heran kalangan ilmuan memprediksi bahwa agama pada masa depan terancam bakal ditinggalkan. Ilmu pengetahuan menjadi sandaran masyarakat modern telah mendorong lahirnya revolusi di banyak sektor kehidupan manusia. Kemajuan teknologi dan sains yang makin mempermudah kerja-kerja manusia dalam menundukkan alam untuk memenuhi kebutuhan energi misalnya, perlahan-lahan menggeser dan menggusur agama. Tanda-tanda ke arah sana saat ini sudah jelas terlihat. Orang mulai melihat agama sebagai benda kuno yang hanya bagus untuk dipajang.

Pemicunya adalah rasionalitas yang menjadi ciri utama masyarakat modern.  Elemen gaib, magis, yang melekat dalam tubuh agama dan iman dikritik habis oleh modernitas tanpa mampu memberikan perlawanan. Hal ini makin meneguhkan keyakinan para ilmuan bahwa agama dan Tuhan adalah kreasi imajinasi manusia semata. Karen Armstrong menulis dalam bukunya tentang sejarah penciptaan Tuhan oleh manusia. Pemahaman dan penyebutan Tuhan terus berubah dari waktu ke waktu sesuai perkembangan pengetahuan manusia.

M  Dawam Rahardjo dalam cerpen “Mas Parman Mencari Tuhan” (Anjing yang Masuk Surga, 2007) mengetengahkan tokohnya yang tidak mempercayai Tuhan. Ketidak-percayaan Mas Parman kepada Tuhan tidak membuat lelaki ini hidup semaunya seperti dibayangkan para pemuja agama. Mas Parman justru lebih tekun berbuat kebaikan bagi sesama. Dari sini tersirat sebenarnya yang tidak dipercayai Mas Parman adalah Tuhan ciptaan manusia. Bagi Mas Parman apa yang diyakini Tuhan dalam imajinasi manusia bukan Tuhan itu sendiri. Allah, Yahweh, Roh Kudus, Sang Hyang Widhi adalah Tuhan-Tuhan ciptaan manusia. Tuhan itu sendiri adalah sesuatu yang tidak terkatakan, di luar jangkauan imajinasi manusia. Dari situlah tampaknya Mas Parman sampai pada kesimpulan Tuhan ‘tidak ada’ dan tentu saja tidak membutuhkan apa-apa dari manusia. Maka yang diperlukan manusia adalah ‘menyembah’ manusia dan lingkungan sekitarmu.Orang tidak akan bertanya apa agama dan siapa Tuhanmu ketika kau berbuat baik, begitulah seorang bijak pernah berkata. Itulah yang dilakukan Mas Parman.

‘ Aku’, seorang tokoh cerpen yang ditulis Zaim Rofiqi berjudul “Atheis” (Matinya Seorang Atheis, 2011) bertindak sebaliknya. ‘Aku’ yang merasa dikecewakan Tuhan, kemudian hidup dengan caranya sendiri: menjadi maling, kecu, pembunuh bayaran, dan kejahatan lainnya. Motif ‘aku’ menampik Tuhan jelas hanya karena harapan-harapannya akan hidup yang indah dan ideal tidak terwujud. Mungkin, apabila ‘aku’ dalam kedudukan ekonomi yang bagus, ia akan mempercayai Tuhan.

Baik Mas Parman maupun ‘aku’ masih tetap percaya Tuhan, hanya saja rupanya Tuhan ‘tampil’ dalam hidup mereka tidak sesuai harapannya sehingga kemudian ditampik. Mereka bukan sejenis orang yang getol mencari bukti-bukti rasional untuk meyakini keberadaan Tuhan—sayangnya selalu gagal— sebagaimana diperankan para ilmuan itu.

Comments