Garang Asem



ilustrasi dicomot dari http://deddyyudha.blogspot.com

cerita ini awalnya disiarkan Majalah Femina, edisi 24 (14-20 Juni 2014)
Nenek serupa simpul dari segala tali yang membuhul serakan masa kanak Sosa yang bercecabang. Tapi bagaimanakah ia mengibaratkan Om Danang? Lelaki yang telah memahatkan kenangan manis sekaligus getir di ruang terdalam benak Sosa.

Warsih mendekatkan bibirnya ke telinga Simbah. Berbisik, “Mbah, ini Sosa.” Simbah menatap perempuan bertubuh semampai, berleher jenjang dengan rambut lurus tergerai, yang berdiri di depannya. “Sosa, kamu jadi cantik sekali begini?” kata Simbah, matanya berkaca-kaca. Ia berdiri, kedua tangannya menangkup pundak Sosa. Sosa tersenyum. Pipinya yang mulus masih tampak sembab bekas menangis. Lantas Sosa memeluk Simbah. Dalam pelukan Simbah, Sosa tak dapat menahan buliran airmatanya kembali jatuh. Tapi kali ini beda dengan sebelumnya. Ini adalah air mata haru, bahagia, sedih, dan entah apalagi, bercampur aduk.  

Rumah Simbah terhalang beberapa rumah tetangga dari rumah kedua orang tua Sosa. Sudah  hampir duapuluh tahun Sosa tidak menginjak lantainya. Semula Sosa tak hendak datang kemari. Bahkan tak ingin pulang ke rumah orang tuanya sama sekali. Tapi kabar dari Warsih tentang Om Danang, satu-satunya adik ipar ibu Sosa, yang tengah sakit, memaksanya pulang. “Dia pengin minta maaf sama kamu, Sa,” kata Warsih, teman masa remaja yang dulu naksir Sosa, lewat telepon, minggu lalu, ketika Sosa tengah sibuk mengurus hari pertama tahun ajaran baru Taman Kanak-Kanak di bawah yayasan yang mengurusi kaum gender minoritas, yang ia dirikan bersama kawan-kawannya.

Sosa datang ke rumah orang tuanya semalam. Daun-daun bergeriap di bawah gerimis. Sebelum mengetuk pintu, ia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian menghadapi kejadian paling buruk yang sebentar lagi mungkin akan menimpanya. Terdengar suara langkah diseret di dalam. Pintu terbuka. Untuk beberapa saat mereka tertegun kaget, seakan melihat hantu. Setelah sadar siapa yang datang, mereka menatapnya dengan pandangan jijik, seolah melihat najis. Seperti perlakuan kedua orang tua Sosa, ia beranggapan Simbah pasti juga akan berlaku sama seperti mereka. Warsih yang meyakinkan Sosa, bahwa Simbah beda. Ternyata Warsih benar. Simbah terlihat senang melihat kehadirannya.

“Kamu nangis melulu dari dulu, cengeng. Pasti mereka ya. Mereka memang tidak pernah berubah,” kata Simbah. Perempuan yang telah berumur 76 tahun namun tetap terlihat gesit itu terus nyerocos membuat Sosa sedikit melupakan sakit hati akibat perlakuan kedua orang tuanya.

“Kenapa kamu gak pulang-pulang, Sosa? Simbah kangen sekali, apa kamu tidak kangen? Keterlaluan! Kamu menganggap Simbah sama dengan orang tuamu? Simbah tidak mencarimu karena tidak tahu bagaimana cara menghubungi dan menemukan kamu. Simbah selalu berdoa dan yakin suatu hari akan pulang. Sudah makan belum? Ayo makan dulu. Pantas dari kemarin pengen masak garang asem. Rupanya kamu mau datang. Dulu kamu doyan banget, ‘kan? ” kata Simbah menggaet tangan Sosa ke ruang tengah. Sosa menurut saja, diikuti Warsih.

Sosa memang doyan sekali makan garang asem bandeng. Ini adalah cara mengolah ikan bandeng dengan bumbu lengkuas dan potongan cabai, bawang, dan asam. Semuanya dibungkus menggunakan daun pisang dalam ukuran tertentu,  sebelum dimasukkan ke dalam panci. Sosa gemar sekali mencecap rasa pedas cabai dan harum lengkuas. Kalau makan dengan lauk ini, Sosa yang malas makan, bisa lahap. Bahkan sanggup tambah tiga kali. Tapi garang asem pula yang membuat hidupnya berubah.      

Dulu, di rumah Simbah inilah Sosa melarikan diri kalau orang tuanya bertengkar. Tak ada tempat yang membuatnya merasa nyaman selain di rumah ini. Orang tuanya sering bertengkar. Sosa acap menjadi pangkal musabab pertengkaran mereka. Ayah sering memarahi dan memukuli Sosa  karena berperilaku lemah lembut. Ayah menuduh ibu salah mendidik. Ibu tidak terima, lalu turut memarahi Sosa. Di rumah Simbah, Sosa tidak hanya mendapat perlindungan tapi juga masakan kegemarannya itu.

Suatu siang, pada hari kedua pengungsian Sosa di rumah Simbah lantaran pertengakaran besar kedua orang tuanya, Simbah menyuruh Sosa mengantar garang asem ke rumah Om Danang yang menggemari masakan yang sama. Ia lelaki yang santun dan terpelajar, sehari-hari kegiatnnya membaca dan duduk berjam-jam di depan komputer.

Menenteng rantang, Sosa ke rumah Om Danang mengantar garang asem. Di rumah hanya ada Om Danang dan dua orang anaknya yang masih usia taman kanak-kanak, sedang main game di ruang depan. Bulik Naning, istri Om Danang, belum pulang dari sekolah tempatnya mengajar. Om Danang memegang dan menarik tangan Sosa ketika ia selesai menuang garang asem ke dalam piring dari rak. Memeluk dan menciumi Sosa. Sosa gelagapan. Kejadian yang membuat Sosa tertekan        
**


“Jadi kamu kerja apa di Surabaya?” tanya Simbah seraya membuka tudung saji.

“Guru, Mbah!”

“Wah, wah. Guru apa toh?”

“Guru TK!”

“Kamu memang penyabar, pantas jadi guru TK,” ujar Simbah seraya mengambilkan piring, menyendokkan nasi untuk Sosa dan Warsih sambil terus berbicara, tentang pernikahan adik-adik Sosa dan anak-anak mereka, dua orang sepupunya yang dibawa ke kota suami dan istri masing-masing, pulang hanya pada saat lebaran. Sosa membayangkan seperti apa sekarang adik-adiknya, keponakan-keponakannya. Waktu ia meninggalkan desa ini mereka masih SMP. Apalagi para sepupu, mereka jauh lebih kecil lagi.

Kini Simbah menyebut Om Danang. Laki-laki yang telah memberinya pengalaman indah sekaligus menyakitkan untuk pertama kali, namun meninggalkan jejak panjang yang tak terhapuskan dalam benak Sosa.   

“Biar Sosa yang buka, Mbah,” sergah Sosa ketika Simbah hendak membuka lidi pengunci daun pisang pembungkus garang asem, dengan pikiran melayang pada sosok Om Danang.

Sepuluh tahun ternyata bukan waktu yang panjang. Terakhir kali Sosa bertemu Om Danang beberapa minggu setelah Sosa lulus SMA. Perlakuan orang tua Sosa yang makin kasar gara-gara ia menolak melanjutkan ke sekolah ketentaraan. Sosa memutuskan pergi dari rumah. Sebelum meninggalkan desa.Kehangatan rumah Simbah dan kelezatan garang asem bikinannya tak menyisakan kerinduan, bahkan berbalik menyusupkan kenangan pahit.

Namun rupanya waktu lebih perkasa dari apa pun. Sosa menyerah manakala Warsih mengabari kondisi Om Danang jatuh sakit, terserang stroke, memohonnya untuk pulang.  “Kasihan, Sa. Pulanglah sebentar. Toh kamu nanti bisa kembali ke Surabaya,” bujuk Warsih.     

Sejujurnya, Sosa tidak bisa melupakan Om Danang. Laki-laki itu telah menempati ruang tersendiri di benaknya betapa pun pengkhianatan yang telah dilakukannya. Terbayang tatapannya yang teduh, bahunya yang kukuh, dan kata-katanya yang membuat hati Sosa luruh.

**

“Kamu mau menjenguk Om Danang, kan? Nanti Simbah ikut ke sana. Kasihan Naning. Siapa tahu kedatanganmu dapat menghiburnya,” kata Simbah. Sosa yang tengah minum tersedak mendengarnya. Warsih hanya melirik Sosa, memberi isyarat bahwa semuanya aman.

Mereka telah menyelesaikan makan siang. Simbah membiarkan Sosa istirahat di kamar sendirian. Warsih telah pulang, ia akan kembali malam nanti untuk ikut menjenguk Om Danang. Sosa duduk menghadap cermin, ia memeriksa wajahnya. Sembabnya telah hilang namun kesedihannya belum sepenuhnya menguap dari sana. Bagaimanakah nanti menghadapi Om Danang? Sosa gelisah. Letupan perasaanya makin bergemuruh liar menghidupkan fantasi yang membuat ia khawatir sendiri.

Matahari telah menggelincir dari puncak langit. Sosa merasa tubuhnya begitu lelah. Namun kecamuk perasaannya membuatnya tetap terjaga. Pikirannya terbang lagi pada Om Danang. Laki-laki itu rupanya menyimpan rapat-rapat semua yang terjadi di masa lalu. Seperti apakah kini rupa laki-laki itu?
                                                                   **
Naning tampak lesu. Perempuan itu terlihat memaksakan diri ketika menyambut kedatangan Sosa. Ia dapat menangkap jelas kecanggungan sang bibi mendapati sosoknya.

“Sudah berapa lama Om Danang sakit, Lik?”

“Setahun. Sebulan terakhir ini makin parah,” sahut Lik Naning.

Sosa melihat Om Danang terbaring lemah. Matanya memejam. Rambutnya ditaburi uban. Namun rahangnya masih terlihat kukuh dengan tulang pipi yang mencuat dan dagu yang dihiasi banyak kerutan, Om Danang tak pernah kehilangan pesona ketampanannya. Sosa merasakan tanganya bergetar ketika menyentuh telapak tangan Om Danang yang kaku.

“Om..”

Perlahan-lahan kelopak mata Om Danang bergerak-gerak, terbuka. Tatapan mata Sosa bertubrukan dengan mata lelaki itu beberapa lama.

“Sosa, Om...”

“Sosa?”

Om Danang menggenggam erat telapak tangan Sosa. Matanya mendadak basah. Dada Sosa bergemuruh. Ia berjuang keras menahan diri untuk tidak memeluk tubuh rapuh Om Danang.

“Kamu pulang juga, Sosa. Terima kasih, ya.” Suara Om Danang terbata.

“Bagaimana keadaan Om?”  kata-kata itu meluncur juga dari bibir Sosa. Ia terbatuk-batuk keras sekali bercampur ledakan tangis, Sosa kemudian berlari ke toilet menghindar letupan perasaannya yang tak tertahankan. Ia tak mempedulikan tatapan Simbah yang terheran-heran.

“Kenapa kamu, Sosa? Sakit?”

**
Sosa merasa baru saja melewati hari yang berat. Hampir tak kuasa ia meredakan guncangan yang mendera perasaan dan sekujur tubuhnya. Selain oleh perasaannya terhadap Om Danang, pengakuan Warsih bahwa ia tetap mencintainya, menambah kepala Sosa makin ruwet. Ia merebahkan tubuhnya di kamar, tak mengangkat ponselnya yang bergetar. Warsih yang menghubunginya.

Comments