Kelam, Tanpa Harapan



Model diperani oleh Akbar

Akhirnya saya membaca novel “Cantik Itu Luka” setelah duabelas tahun sejak pertama kali novel ini terbit. Kebetulan pula saya mendapatkan edisi perdana terbitan Jendela, Yogyakarta,  dari toko buku online seorang kawan. Sampulnya saya pikir lebih menarik ketimbang edisi terbitan berikutnya. Bukan  karena beraroma klasik, melainkan lebih mewakili isi novelnya.  Memang tidak ada yang mengharuskan gambar sampul selalu berhubungan erat dengan isi, karena hal ini terkait dengan penafsiran setiap orang yang tak pernah sama terhadap obyek yang sama. Namun keterhubungan antara isi dan sampul ini penting supaya tidak terkesan mengecoh atawa menipu pembaca.

Baiklah, kita lupakan saja urusan gambar sampul.  Paragraf pertama novel ini membuat saya langsung tahu bahwa saya tidak akan menunda-nunda untuk menyelesaikannya sampai halaman terakhir persis seperti keinginan segera menghabiskan membaca cerita silat Wiro Sableng dan Panjiwungu pada masa kanak dulu.  Bedanya, bila cerita silat Wiro Sableng dulu seru karena sekadar adegan pertarungannya tanpa peduli logis atau tidak alur ceritanya, motif dan watak tokoh-tokohnya, kebernasan bahasanya. Sedangkan pada  “Cantik Itu Luka”  seru lantaran hampir semua unsur-unsur tadi hadir secara beres.

Tapi yang paling menarik bagi saya adalah watak dan tindakan tokoh-tokohnya yang tak ada satu pun yang ‘waras’. Lantaran ketakwarasan tokoh-tokohnya,  kawan saya mengaku tak tahan untuk melanjutkan membaca novel ini. “Kelam semua, tanpa harapan,” dia bilang. “Kenapa pengarang tidak menghadirkan satu saja tokoh yang waras. Serem aku bacanya,” tambah kawan saya seraya mengembalikan novel ini pada saya.

Bagi saya, dan mungkin pembaca yang lain, justru ketakwarasn tokoh-tokohnya yang paling menarik.  Saya tidak tahu persis tokoh baik yang dimaksud kawan saya. Mungkin tokoh yang bertindak sesuai dengan tuntunan yang digariskan kitab-kitab suci; seseorang yang memandang hidup sebagai sebuah amanah yang harus dijalani baik-baik karena kelak akan dimintakan pertanggung jawaban di hadapan Tuhan, atau setidaknya seseorang yang sikap-sikapnya wajar, mengikuti keumuman.

Namun apakah keumuman, apalagi dalam ranah fiksi? Kalaupun benar  ada yang wajar atau waras tentu tidak akan menarik berada di dalam dunia fiksi, kan? Bukankah kewarasan mengandaikan tidak ada persoalan, tidak ada konflik, tidak ada cerita, dan itu artinya selesai? Alangkahnya tidak menariknya sesuatu yang sudah selesai (jika itu memang ada di dunia nyata sekalipun) apalagi di dunia fiksi? Oke, saya akan kembali kepada ketidakwarasan dan tindakan tokoh-tokoh novel ini yang membuat kawan saya tidak tahan melanjutkan membaca novel ini.  Kau akan berhadapan dengan Dewi Ayu, perempuan blasteran Belanda yang memilih jadi pelacur ketimbang pulang ke negeri Belanda; ia terlahir dari hasil persetubuhan sedarah atawa incest.  Ini belum cukup, kau akan bertemu dengan seorang kakek bangkotan yang berhasrat melampiaskan syahwatnya untuk terakhir kali dengan seorang pelacur dan menyerahkan anak perawannya sebagai imbalan.

Di halaman yang lain kau bertemu dengan seorang gadis belia yang mengaku keperawanannya dicuri seekor anjing. Ini hanya sebagian dari tokoh-tokoh yang mendatangimu di novel ini. Novel ini barangkali juga memenuhi kerinduan saya pada novel-novel silat yang saya baca di masa kanak: ada jagoan yang bertarung dengan ilmu kanuragan dan sihir berhari-hari, hingga cerita detektif dan horor. Untuk aroma horor kau langsung mendapatkannya di halaman pertama: bangkitnya Dewi Ayu setelah duapuluh satu tahun mati dikubur, ada pula seorang bayi yang lahir dari perempuan yang telah dikubur. Namun tentu saja novel tidak cukup dengan sekadar watak dan tindakan tidak waras tokoh-tokohnya, tapi juga hadirnya peristiwa demi peristiwa yang bergulir menjalin cerita. “Sebab bagaimana pun tulang punggung sebuah novel adalah cerita,” kata Eka, beberapa hari lalu ketika saya bertemu dengan novelis bersuara lirih dan gemar menjilati bibirnya sendiri ini di  klinik penulisan yang digelar sebuah majalah wanita.

Dan seluruh cecabang cerita yang bergulir digerakkan oleh dendam seorang petani miskin tak berdaya yang diperlakukan secara  zalim oleh seorang penjajah Belanda. Jadi, di balik ketidakwarasan watak dan tindakan tokoh-tokohnya, novel ini punya pesan mulia: jangan berlaku zalim kepada orang tidak berdaya! Tuduhan kawan saya bahwa novel ini terlalu kelam dan tanpa harapan akan hal-hal baik agaknya meleset.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka