Kontrasepsi Bukan untuk Laki-laki



Saban hari sepulang kerja saya melihat pemandangan ini: seorang perempuan duduk nglemprak di tepi trotoar, anaknya yang masih orok tidur pulas di sebelahnya, menanti orang-orang yang berlalu lalang melemparkan sedekah ke dalam wadah plastik  yang diletakkan di depan orok. Tak jauh dari sana, di dekat pot rimbunan kembang,  terparkir sebuah gerobak. Dua orang anak usia balita terlihat main petak umpet di sana. Kadang mereka terlihat nongol dari dalam gerobak dan tertawa-tawa gembira, seakan mereka berada di taman bunga. Semburan debu dan asap knalpot tak ubahnya pengharum belaka. Sementara seorang lelaki, sepertinya ayah mereka, duduk khusyu seperti tengah sembahyang di samping gerobak.  Tampang mereka kotor dan penyakitan. Menjelang dan pada saat Ramadhan nanti jumlah mereka makin berlipat menyumpali pojok-pojok ibukota.

Namun yang membuat saya miris adalah perut perempuan yang duduk nglemprak bersama oroknya itu membuncit hamil. Dengan sedikit geram mungkin kau ingin bertanya sambil menoyor kepala perempuan itu, “bagaimana keadaan susah begini kamu masih getol  menambah keturunan?”; Dan pada laki-laki yang duduk di bawah gerobak itu mungkin kau berhasrat menarik kerah baju rombengnya, memberi satu gamparan seraya  memaki-maki, “sudah susah terus saja bikin anak!” Mungkin   sebenarnya perempuan itu tidak ingin hamil, tapi tidak tahu caranya mencegah kehamilan—sebab menahan keinginan bersetubuh jelas tidak kuasa. Sementara laki-laki seperti ditakdirkan untuk tidak peduli istri atau pasangannya hamil atau tidak setelah persetubuhan yang menjadi satu-satunya hiburan mereka.

Budaya patriarki telah memberi hak istimewa kepada laki-laki untuk tidak perlu mengurus orok, mencuci popok tanpa rasa bersalah. Hanya segelintir –puji Tuhan  saya termasuk yang segelintir itu—laki-laki memakai kontrasepsi demi mencegah kehamilan istrinya. Kondom ditampik karena akan mengurangi kenikmatan. Coitus interuptus atawa senggama putus lebih ditolak lantaran dianggap membatasi kesempurnaan nikmat persetubuhan tidak sempurna. Vasektomi? Buru-buru dicurigai dapat melumpuhkan kejantanan.

Jadi, perempuanlah yang harus ‘berjuang’ mencegah kehamilan sendirian jika mereka tidak ingin punya atau menambah anak. Karena ‘diizinkan’ tak perlu repot-repot menyusui dan mencuci popok, laki-laki umumnya  cenderung menginginkan istrinya mengandung sesering mungkin. Seakan itulah satu-satunya cara menunjukkan kejantanan dan superioritas.  Perempuan yang menolak hamil dengan alasan apa pun akan dianggap membangkang dan terancam untuk diceraikan.  Ruwetnya, bukan hanya laki-laki yang menganggap punya anak adalah tujuan utama menikah dan membentuk keluarga. Kebanyakan perempuan merasa tidak sempurna bila tidak mengandung dan memberi suaminya keturunan.

model diperani Caroline Imelda Marsha Loing
Apakah pembicaraan saya sudah melebar ke mana-mana? Sebenarnya saya hanya hendak ‘meracaukan’ lagi kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Karena inilah jalan penting untuk mengupayakan keadilan! Maaf kalau terdengar begitu heroik, tapi inilah yang saya percayai. Pergaulan saya dengan kiai feminis Husein Muhammad makin menebalkannya. Ada pun buku “Jihad Julia” besutan Julia Suryakusuma yang sedang saya bolak balik halamannya ini menjadi perangsang untuk saya membuat  catatan yang agak cerewet ini.

Ini buku kumpulan esai yang sebelumnya ditulis Julia di Jakarta Post dan Majalah Tempo edisi Bahasa Inggris.  Tentu temanya beragam sesuai aktualitas isu politik dan sosial saat esai ditulis. Mulai dari ketersinggungan dan kemarahan Presiden SBY atas ulah para demonstran menggandeng seekor kerbau berkalung tulisan namanya, hingga persoalan ketimpangan sosial yang bersumbu dari ketidaksetaraan gender.

Misalnya tentang laki-laki yang harus berpoligami demi mencegah istri pertamanya hamil, anak perempuan yang harus rela mendapat warisan separuh dari saudaranya yang laki-laki dengan dalih ayat suci, dan topik-topik sensitif lainnya yang ditulis dengan kehendak populer dan jenaka.  Termasuk tulisannya yang menyinggung perkenalan dan pertemuannya dengan kiai Husein Muhammad.

Seorang feminis di Indonesia, apalagi Julia yang mengklaim sebagai feminis pertama di Indonesia, rasanya memang tidak akan lengkap apabila tidak berkenalan dan bertemu dengan ide-ide Husein Muhammad.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka