Relung Malam Jakarta



Mereka bertemu di sebuah hotel murah di Jakarta: Pasangan lesbian yang bertemu lagi setelah terpisah sekian tahun; perempuan parobaya dengan gigolo yang sewanya, dan ; perempuan tukang peras handuk sebuah pusat kebugaran dengan lelaki yang baru ditemuinya di trotoar.  Namun, tentu saja mereka tidak saling menyapa karena memang tidak saling mengenal.

Ketiga pasangan datang ke hotel itu dengan tujuan yang sama namun motif yang berbeda.  Gia dan Naomi ke sana secara improvitatif lantaran tertarik melihat keunikan nama dan logo hotel. Ci Surya sekadar untuk melampiaskan dendam atas perselingkuhan suaminya. Dan Indri hanya ingin merasakan tidur di hotel secara gratis setelah tertipu oleh laki-laki yang dikenalnya lewat dunia maya. Lucky Kuswandi menghadirkan mereka semua di film “Selamat Pagi, Malam”.    


Lucky hanya memotret tiga pasangan itu di antara ribuan pasangan lain yang bertebaran di relung malam Jakarta yang gemerlapan. Hanya tiga, cukup tiga. Rasanya mereka sudah lebih dari cukup untuk mewakili ribuan pasangan lain. Mereka memang punya persoalannya masing-masing yang mungkin ruwet atau dibikin runyam sendiri, namun ketiga pasangan ini disatukan oleh benang merah bernama rasa tak percaya pada diri sendiri, kebimbangan, dan mungkin kehampaan, kesia-siaan.

Seperti kata sang sutradara, Jakarta adalah sebuah tempat yang mudah membuat penghuninya menjadi orang lain. Dan itu makin menjadi-jadi ketika matahari terbenam dan keremangan menyelimuti mereka. Jakarta memang memiliki banyak wajah, dan wajah-wajah itu makin berganda-ganda ketika malam tiba.  Namun “Selamat Malam, Malam” tidak sekadar menyoal kemunafikan penghuni Jakarta, tapi ada yang lebih dalam atau lebih ringan dari itu, yaitu perihal perubahan fisik Jakarta yang tidak berbanding dengan sikap mental penghuninya. Semuanya dirangkum dalam alur penceritaan penuh kesan dan menghanyutkan.

Simaklah adegan ini: ketika bosan makan di restoran mewah, Gia dan Naomi mencari warung nasi uduk Gondangdia yang telah digusur dan berubah dan menjadi minimarket. Mereka lalu tertambat di warung Indomie rebus kaki lima. Mengobrolkan Jakarta dengan New York. Jakarta yang mewah dan gemerlap hanya satu sisi dari kesemerawutan yang lebih disebabkan ketidaksiapan mental penghuninya menghadapi perubahan.

Cerita yang disodorkan "Selamat Pagi, Malam" mungkin sederhana. Namun dengan kerincian dan motif-motif yang menggerakkan tokoh-tokohnya yang logis lengkap dengan perilaku mereka mampu membuat penonton terhanyut menyaksikan sudut-sudut Jakarta kala malam yang terus berubah. Saya menonton film ini di Kalibata Mal. Saya naik kereta dari stasiun Gondangdia lepas maghrib dan kembali ke Gondangdia hampir tengah malam. Dalam perjalanan di atas commuterline yang sesak penumpang, saya tahu bahwa saya tidak tahu banyak kehidupan temaram di relung malam Jakarta. Tapi saya dapat membayangkannya dengan terang benderang.   

Comments