Titimangsa

Ilustrasi dari Wikan Satriati



Sepekan kemarin saya rada sibuk membantu kawan mendata puisi-puisi Indonesia yang ditulis antara tahun 1920-2000. Kawan itu bekerja di yayasan yang mempromosikan karya-karya sastra Indonesia ke luar negeri. Jadi tugas dia antara lain menerjemahkan novel, cerpen, dan puisi Indonesia ke dalam bahasa Inggris.  Saat ini mereka sedang mengerjakan proyek penerbitan buku antologi atawa bungarampai yang merangkum puisi-puisi dengan tahun penciptaan satu abad terakhir. Terkait proyek inilah kawan itu meminta saya membantunya meriset tahun penciptaan puisi-puisi yang disodorkan sejumlah penyair dan kritikus yang ditunjuk yayasan sebagai editor proyek penerbitan ini.

Tugas saya  sederhana saja: mencari dan memastikan tahun penciptaan dan sumber penerbitan yang pertama kali menyiarkan  puisi-puisi yang akan dimuat dalam buku ini. Sekurangnya ada 500 judul puisi. Bisakah kau bayangkan betapa membutuhkan ketekunan dan kesabaran yang luar biasa untuk mengerjakan tugas ini secara akurat. Akurasi ini penting, selain untuk merekam perkembangan puisi Indonesia dari tahun ke tahun, adalah demi memudahkan editor dan peneliti mencari rujukan sejarah untuk keperluan penelitian atau apa pun.

Jujur saja, saya semula sedikit was-was tidak memiliki kesanggupan untuk bertekun-tekun menggeluti pekerjaan ini. Ada lebih dari lima kardus arsip puisi dalam bentuk foto kopian yang harus saya bongkar serta puluhan buku puisi lainnya yang tersedia di rak perpustakaan yayasan ini, di samping tentu saja googling. Toh tidak semua puisi datanya ditemukan dari sumber-sumber yang saya sebutkan tadi. Jadi, saya harus ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Cikini,  atau menghubungi langsung penyairnya melalui jaringan sosial media maupun telepon seluler. Jaringan sosial media dan telepon selular sungguh banyak membantu tugas dengan lebih lekas.       

Dari pekerjaan meriset ini saya menemukan banyak sekali puisi yang tidak mencantumkan tahun penciptaan, mungkin hampir separuhnya. Untuk kasus seperti ini maka yang saya catat adalah tahun terbit media yang menyiarkan puisi tersebut.  Penemuan ini juga menggelitik saya untuk bertanya kenapa para penyair ini tidak membubuhkan tahun penciptaan di bawah puisinya. Beberapa di antara mereka mungkin lupa atau menganggap tidak penting, namun yang secara sengaja tidak menuliskan tahun penciptaan puisinya, kira-kira apakah motifnya? Bukankah kalau mau sangat mudah melakukannya? Barangkali mencantumkan titimangsa atau tidak, tak akan memberi pengaruh apa pun kepada mutu puisi. Tapi apakah benar begitu? Untuk mengetahuinya tentu membutuhkan riset tersendiri.  Pengamatan selintas yang saya ingat, ada penyair yang semula tak pernah alpa mencantumkan titimangsa di bawah puisi yang ditulisnya, entah apa sebabnya pada puisi-puisi yang lebih mutakhir dia tidak lagi menuliskan titimangsa.

Apakah pentingnya mencantumkan tahun penciptaan di bawah puisi? Bagi saya sendiri penting, antara lain untuk membuat penghitungan berapa banyak puisi yang saya tulis dalam kurun waktu setahun, dua tahun, dan seterusnya.  Berikutnya adalah untuk melacak kondisi atau suasana batin seperti apa yang membuat saya terdorong menulis puisi. Ingatan saya perlu dibantu dengan catatan tahun.  Saya pernah terheran-heran mendapati puisi saya sendiri yang ditulis lima atau sepuluh tahun lalu misalnya. Terheran-heran bagaimana rupanya saya mampu menulis puisi dengan topik dan mutu tertentu pada tahun tertentu. Yang lebih penting lagi bagi saya adalah memudahkan pembaca untuk melacak konteks sosial yang dirujuk puisi bersangkutan—terutama pada puisi-puisi dengan tema sosial. Puisi sosial dengan titimangsa 1998 misalnya, akan menggiring dugaan pembaca pada peristiwa reformasi berikut eforia dan kerusuhan yang mengikutinya.
     
**
Saya sangat senang mengerjakan tugas ini. Melalui proyek ini saya jadi berkesempatan membacai puisi-puisi  dari penyair-penyair terpilih dari tahun 1920 hingga 2000. Membacai puisi-puisi ini bagi saya seperti memasuki petualangan yang mengasyikkan: naik turun bukit, keluar masuk gua, tercebur ke sungai, megap-megap diseret ombak, meraba-raba mata kapak, menyentuh sisik ular, dibenturkan ke dinding jurang—maafkan jika metaphor yang saya gunakan sudah terlampau lapuk.  Kadang ada puisi yang begitu menyita perhatian, menggelitik saya untuk menikmatinya lebih lama sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan ini bertambah panjang. Misalnya puisi yang ditulis oleh  Mustofa W. Hasyim yang berjudul  Kesaksian Guru TK. Bunyi bait pertamanya begini: Ada.guru TK, melangkah masuk sekolah/sepedanya disembunyikan di gudang/agar murid-murid yang orang tuanya kaya/tidak terganggu gembiranya. Saya juga menemukan nama-nama penyair yang terbilang unik. Dengarlah, ada penyair bernama Indonesia O’Galelano.

Melanjutkan tradisi
Penerbitan bungarampai puisi yang merangkum kurun waktu yang panjang ini meneruskan tradisi yang sudah dilakukan HB Jassin (Pudjangga Baru: Prosa dan Puisi, penerbit Gunung Agung, Jakarta, 1963; dua jilid Gema Tanah Air  Prosa dan Puisi, penerbit, Balai Pustaka, Jakarta 1969 dan 1975), Sutan Takdir Alisjahbana (Poeisi Baroe, Penerbit Kebangsaan, Poestaka Rakjat, Jakarta, 1946), Ajip Rosidi (Laut Biru Langit Biru, Penerbit Pustaka Jaya, Jakarta, 1977), Linus Suryadi Ag (Tonggak, empat jilid penerbit Gramedia,1987) hingga Horison (Horison Sastra Indonesia, empat jilid, penerbit Horison Kaki Langit dan The Ford Foundation, Jakarta, 2001).

Bagi kamu penggemar puisi, tradisi penerbitan buku semacam ini jelas sangat membantu menikmati puisi-puisi sejak awal Indonesia hingga yang paling mutakhir. Mengarungi perkembangannya dari dekade ke dekade.

Comments