Posts

Showing posts from July, 2014

Rindu Kami Pada Manusia

Image
Ini adalah cerita tentang telur, cinta dan kehilangan. Lokasinya di pasar tradisional nan semrawut dengan sebuah mesjid tanpa kubah, rumah kontrakan yang nyempil di antara tiang listrik, juluran kabel dan tali jemuran di tengah-tengahnya. Film dibuka dengan adegan sangat kocak, yaitu ketika bocah lelaki menggoda bocah perempuan dengan bermain lagu berlirik pantun, si bocah perempuan yang semula terlihat bete perlahan-lahan ikut bernyanyi gembira. Diakhir lagu dilemparnya si bocah lelaki dengan cangkang telur tepat di wajahnya.
Bimo, demikian nama bocah lelaki itu, tinggal bersama kakaknya yang berjualan telur di pasar. Orang tua mereka sudah tiada. Bimo mencoba merebut perhatian perempuan muda yang ngekos di tengah jubelan warung dan riuh aneka transaksi. Mula-mula ia membantu membawakan barang belanjaan perempuan itu, lalu nonton tivi di rumah kosannya, selanjutnya ia rajin memasakkan perempuan yang dipanggilnya ibu itu mie rebus campur telur.

Lelaki yang Mengucurkan Airmata

Image
Dia menelpon lagi. Malam-malam.
“Kenapa sih susah banget angkat telpon?”
“Hapeku ketinggalan.”
“Dia pulang hari ini,”
“Kamu pernah bilang ‘kan, biasa dia pulang saban akhir pekan?”
“Tapi kali ini dia tak akan kembali.”
“Lho, kenapa?”
“Dia resign dari tempat kerjaanya,”
“Kalian kan bisa teleponan, janji ketemuan.”
“Tapi aku sepi sekali. Aku pengin memeluknya sekarang.”
“Sabarlah. Kalo dekatan terus bosan juga kan?”
“Bukan itu.”

Upaya Melawan Kengerian

Image
Agak berdebar-debar ketika saya duduk di depan petugas donor darah. Menyerahkan telapak tangan saya untuk diperiksa dan diambil sample darahnya. Debaran saya tak berhenti ketika ia mengatakan bahwa saya sehat dan layak mendonorkan darah. Saya pun naik ke ranjang dan berbaring di sana. Merasakan petugas donor meraih tangan saya, mencari-cari nadi saya untuk dimasuki jarum. Saya memejam dan berusaha tenang. Beberapa detik berikutnya saya tahu jarum itu telah menusuk nadi pembuluh darah saya, lalu perlahan-lahan darah saya mengalir melalui selang dan ditampung dalam kantung plastik. Petugas itu menimanng-nimang darah saya. Tentu saja saya tidak melihat semuanya dengan jelas, bahkan mungkin hanya melihatnya dengan imajinasi. Karena saya memejam sambil menahan kengerian yang datang merundung perasaan saya.
Jujur saja, keikut sertaan saya menjadi donor darah pada hari ketujuh Ramadan itu terjadi secara tidak sengaja. Seorang kawan menelpon dan mengajak saya berbuka puasa bersama di masjid b…

Surga yang Terkubur

Image