Rindu Kami Pada Manusia



gambar diambil dari elenefstuffa.blogspot.com

Ini adalah cerita tentang telur, cinta dan kehilangan. Lokasinya di pasar tradisional nan semrawut dengan sebuah mesjid tanpa kubah, rumah kontrakan yang nyempil di antara tiang listrik, juluran kabel dan tali jemuran di tengah-tengahnya.  Film dibuka dengan adegan sangat kocak, yaitu ketika bocah lelaki menggoda bocah perempuan dengan bermain lagu berlirik pantun, si bocah perempuan yang semula terlihat bete perlahan-lahan ikut bernyanyi gembira. Diakhir lagu dilemparnya si bocah lelaki dengan cangkang telur tepat di wajahnya.

Bimo, demikian nama bocah lelaki itu, tinggal bersama kakaknya yang berjualan telur di pasar. Orang tua mereka sudah tiada. Bimo mencoba merebut perhatian perempuan muda yang ngekos di tengah jubelan warung dan riuh aneka transaksi. Mula-mula ia membantu membawakan barang belanjaan perempuan itu, lalu nonton tivi di rumah kosannya, selanjutnya ia rajin memasakkan perempuan yang dipanggilnya ibu itu mie rebus campur telur.


Sedangkan bocah perempuan, Asih,  tinggal bersama bapaknya. Ibunya pergi meninggalkan mereka lantaran kesal suaminya berjudi melulu. Asih mengekspresikan kerinduan pada ibunya dengan cara memberi tempat dan sajadah kosong ketika bersembahyang di masjid. Dengan galak ia akan mengusir siapa pun yang menempati sajadah kosong yang dia angankan untuk ibunya yang segera pulang. Di masjid itu tinggal marbot yang sibuk mengurusi anak burung.

Film ini banyak menyodorkan ironi. Secara satir Garin menghadirkan Rindu, bocah agak gagu yang memiliki trauma terhadap penggusuran, sebagai narator di setiap pergantian cerita.  Dengan kalimat yang terputus-putus dan artikulasi  tidak begitu jelas ia menuturkan intro cerita berikutnya. Kehadiran penutur menjadi bentuk kritis film ini baik kepada dirinya sendiri sekaligus kepada realitas sosial yang dirujuknya yang mirip opera sabun di televisi. Suatu hari misalnya, ada seorang gadis anak orang kaya yang kabur dari rumah dan mengancam akan bunuh diri loncat dari loteng. Pasar yang semrawut pun jadi makin riuh. Orang-orang berkerumun di bawah , membantu ayah si gadis membujuk anaknya melalui mikropon masjid supaya turun dan membatalkan ancamannya.  Drama itu berakhir ketika si ayah mengatakan ‘ayah sayang kamu’ seperti yang diharapkan anaknya.

Lokasi film “Rindu Kami Padamu” ini hampir seluruhnya di dalam pasar tapi sama sekali tidak menjemukan lantaran drama drama yang satir, kocak, ironik yang muncul dari setiap tokoh-tokohnya yang memiliki persoalannya masing-masing. Semuanya terjalin begitu rapi, sekilas-sekilas namun rinci, dan penuh semangat menertawakan diri sendiri. Saya rasa inilah film Garin yang paling komedi. Garin Nugroho selalu piawai memotret kehidupan masyarakat kita di lapis sosial paling bawah dengan cara sangat menggugah tanpa perlu ada kotbah-kotbahan dan sejenisnya. Tak perlu ada  airmata berlinangan. Justru sebaliknya, dengan cara jenaka.

Nova Eliza, Neno Warisman, Didi Petet, Jaja Miharja,  Fauzi Baadila, Sakurta Ginting, Reza Bukan, Arswendy Nasution,  serta para pemain lainnya tampil tidak seperti sedang berakting di depan kamera. Ada dua film karya Garin  jenis ini yang pernah saya tonton,  yang pertama adalah “Daun di Atas Bantal”. Garis merah yang segera terasa dari kedua film ini adalah kesepian dan rasa kehilangan yang dialami manusia. Rasa kehilangan kadang dapat berakhir begitu tragis, kadang jenaka dan menyodorkan harapan. Garin memilih yang kedua untuk "Rindu Kami PadaMu". Garin memang nama yang memiliki tempat khusus dan tak tergantikan dalam peta perfilman kita. Saya menyukai semua film-filmnya.

Judul “Rindu Kami Padamu” diambil dari lagu dalam album relijiusnya Bimbo yang liriknya ditulis penyair kenamaan Taufiq Ismail. Lagu yang selalu populer saat Ramadan seperti sekarang. Ini terkait dengan setting waktu film ini, yaitu menjelang lebaran, ketika para penghuni pasar dalam suasana persiapan mudik. Judul ini saya kira juga menjadi simbol kerinduan manusia pada hangat kemanusiaan. Rasul Muhammad, subjek yang dirujuk kata ganti “Mu” pada judul itu adalah sosok pejuang kemanusiaan dan kesetaraan yang paling gigih dan mengguncang. Saya menyaksikan film ini Goethe Institut pada jam orang-orang tengah sembahyang terawe. Dan saya rasa film ini lebih berhasil menggugah kesadaran kemanusiaan saya ketimbang yang diberikan sembahyang terawe yang saya lakukan pada malam-malam yang lain bulan Ramadan. 

Comments