Upaya Melawan Kengerian

Agak berdebar-debar ketika saya duduk di depan petugas donor darah. Menyerahkan telapak tangan saya untuk diperiksa dan diambil sample darahnya. Debaran saya tak berhenti ketika ia mengatakan bahwa saya sehat dan layak mendonorkan darah. Saya pun naik ke ranjang dan berbaring di sana. Merasakan petugas donor meraih tangan saya, mencari-cari nadi saya untuk dimasuki jarum. Saya memejam dan berusaha tenang. Beberapa detik berikutnya saya tahu jarum itu telah menusuk nadi pembuluh darah saya, lalu perlahan-lahan darah saya mengalir melalui selang dan ditampung dalam kantung plastik. Petugas itu menimanng-nimang darah saya. Tentu saja saya tidak melihat semuanya dengan jelas, bahkan mungkin hanya melihatnya dengan imajinasi. Karena saya memejam sambil menahan kengerian yang datang merundung perasaan saya.

Jujur saja, keikut sertaan saya menjadi donor darah pada hari ketujuh Ramadan itu terjadi secara tidak sengaja. Seorang kawan menelpon dan mengajak saya berbuka puasa bersama di masjid beberapa ratus meter dari kamar sewa saya. Usai berbuka, saya terdorong ikut mendonorkan darah saya ketika kawan muncul dari tenda-tenda tempat kegiatan donor darah. Aku sudah ikut donor darah, kawan saya bilang. Kegiatan donor darah itu diadakan remaja masjid tempat kami berbuka. Saya masih diliputi sedikit keraguan manakala mendaftarkan diri jadi pendonor. 


Bukan sekali dua kali saya meliput acara donor darah yang dilakukan petugas Palang Merah Indonesia dengan perusahaan-perusahaan sebagai kegiatan sosial mereka. Namun saya selalu merasa ngeri ketika harus ikut mendonorkan darah saya. Kengerian saya, kau tahu, tidak rasional. Ketika suatu kesempatan saya memberanikan diri menjadi pendonor, ternyata setelah diperiksa kesehatan dan  tensi saya tidak memungkinkan untuk ikut jadi donor darah. Saya agak sedih sekaligus lega. Namun hal ini justru makin menjauhkan niat saya untuk jadi donor darah, sambil memaafkan diri sendiri dengan berbagai kilah.

Maka saya bersyukur ketika kali ini saya akhirnya untuk pertama kalinya memenuhi syarat kesehatan untuk  mendonorkan darah saya. Bagi saya ini bukan saja telah melawan ketakutan saya tapi juga telah melakukan aksi sosial membantu saudara-saudara yang membutuhkan darah. Saya perlu berterima kasih pada kawan saya yang mengajak saya ke tempat ini. Catatan ini mungkin memberi kesan bahwa saya tengah memamerkan aksi sosial tak seberapa ini. Tapi seandainya pun demikian, saya tidak peduli. Saya hanya peduli bahwa selain telah berhasil melawan ketakutan saya , aksi donor darah membuat saya merasa lebih sehat dan bergembira. Saya tidak merasa berkurang sedikit jua setelah saya mendonorkan darah saya.  

Sekarang saya tidak takut lagi mendonorkan darah saya. Saya telah berhasil melawan kengerian melihat darah. Tapi saya rasa saya akan tetap ngeri melihat tumpahan darah, baik gara-gara tersayat pisau atau tertabrak kendaraan. Bahkan darah yang bermuncratan dalam film, sebuah dunia fiksi yang tak berhubungan langsung dengan realitas sekitar tubuh saya, meski tak menyurutkan kegemaran saya menonton film-film penuh adegan tumpahan darah. 

Comments