Buku dan Waktu yang Terus Berlalu



Model diperani oleh Rudy Haryanto

Sekadar untuk mengingatkan pada diri saya sendiri bahwa pada Agustus 2005 buku kumpulan cerpen saya diterbitkan Logung Pustaka, Yogyakarta. Ada sederet orang yang memungkinkan buku itu terbit, antara lain Binhad Nurrohmat dan Arief Fauzi Marzuki. Sekarang 2014, jadi sudah hampir 10 tahun sejak buku saya itu terbit. Bagi pengarang, bukunya terbit adalah suatu impian. Begitu pula saya. Meskipun buku itu mungkin tidak pernah memberi sumbangan apa pun bagi khazanah sastra dunia, namun setidaknya akan menjadi jejak sejarah perjalanan hidup saya yang akan dibaca teman dekat, istri, dan anak-anak saya. Ahai…

Baiklah, postingan kali ini saya menurunkan tulisan Martin Aleida yang menyigi buku saya. Tulisan Martin ini merupakan makalah pada diskusi yang digelar di Balai Budaya Tangerang (tempat ini sekarang menjadi Pokja Wartawan) suatu hari di musim hujan 2005. Tulisan Martin ini setahun berikutnya ditayangkan pula di Republika, tepatnya  Minggu, 03 September 2006.  

Cerpen Aris di Antara Karya para 'Raksasa'
Banyak cara untuk mengadu, menggugat, mengungkapkan isi hati kepada dunia di luar diri kita. Tetapi, mengapa cerita pendek? Karena kita baru saja keluar dari komune di gua di mana dialog hanya berlangsung dengan ketajaman lidah dalam dunia lisan? Gagap. Karena kita tidak diajarkan mengarang prosa yang panjang sejak sekolah dasar? Lantas mengapa ada Ajip Rosidi, yang ketika belum genap berusia 15 tahun sudah menulis dengan nafas yang panjang dan menghasilkan novel Sebuah Rumah Buat Hari Tua? Jadi bukankah cerita pendek atau novel adalah pilihan dan bukan keterpaksaan karena kutuk masyarakat lisan?

Cerita pendek atau novel! Kalau memilih cerita pendek, maka keterpaksaannya adalah kemampuan bertahan untuk tidak mengurai. Kekuatannya adalah pada ketangguhan memilih percikan cerita sekecil kembang api yang mampu membakar padang imajinasi pembaca yang tiada bertepi. Dia adalah pencetus bagi dunia bayangan yang tak berbatas. Dia dikungkung untuk tidak mengurai, tak pernah menjelaskan. Sementara novel menuntut kemampuan untuk menjaga jiwa pembaca yang sudah terpagut dan hanyut, mempertahankannya tetap berada dalam alur cerita yang panjang.

Di sini, percikan kembang api harus disulut dalam kata-kata yang terurai dan rinci untuk menjaga jiwa yang hanyut tadi tetap berada dalam arus. Karena kata-kata yang memang banjir, maka arah atau acuannya tak mungkin bisa bergeser. Persepsi kita, misalnya, terpola ketika membaca Bumi Manusia, bagian awal dari katrologi Pramoedya Ananta Toer. Tetapi, khayal kita dibuat bebas dan liar selesai membaca cerita yang sangat pendek, Kemana? dari pujangga yang sama.

Setelah membaca kumpulan cerpen Lagu Cinta Untuk Tuhan karya Aris Kurniawan, mudah-mudahan saya salah ketika menyimpulkan bahwa Aris memang dengan sengaja telah memilih cerita pendek dan bukan novel untuk menggugah pembacanya. Ini terutama terasa dari kelancarannnya dalam berkisah.

Tersebab saya seorang yang teis, maka saya tidak akan memilih Lagu Cinta untuk Tuhan sebagai judul kumpulan cerita pendek ini. Melainkan Petang di Taman. Cerita paling kuat, menurut saya. Tuhan memang tidak dibawa-bawa dalam cerita yang satu ini, tetapi terasa pangkal hati benar-benar tergores setelah selesai membaca kisah tentang seorang laki-laki yang disia-siakan oleh istrinya. Sebagai seorang suami, yang mungkin tidak berhasil, saya jadi tercenung, pikiran saya melayang ke mana-mana dibuatnya.

Cerita itu ditutup dengan episode yang menyentak, yang membuat saya terkenang pada cerita pendek Guy de Maupassant yang agung: Kalung. Yaitu cerita pendek dari pengarang Perancis paling ternama, yang paling banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Nama yang saya yakin tidak asing bagi teman-teman yang hadir dalam acara ini.
Aris senang "bercanda" dengan nasib. Dia bisa menahan diri untuk membiarkan perselingkuhan bermanja-manja di depan pembacanya, untuk kemudian dia hukum di akhir cerita. Ajaran tentang karma, bahwa kejahatan akan berbalas kejahatan, inilah yang menjadi semangat cerita pertama dalam kumpulan ini cerita pendek ini, Angelina. Fred dibiarkan menemukan cinta terlarang dalam diri pelukis Angelina.

Tetapi, Aris dengan empati yang terkendali menghukum Fred dengan mendatangkan seorang pemuda yang bisa membawa kepuasan kepada istrinya, Sophie. Menjadikan Fred seorang pendurhaka yang harus menelan hukuman yang pahit. Dia harus menyaksikan istrinya menikmati cumbu yang lama dia rindukan sebagai perempuan dan istri dari sang suami yang menjadi pengkhianat.

Penutup cerita yang mengagetkan menjadi ciri cerita-cerita Aris Kurniawan. Dan, saya kira pemelintiran penutup cerita memang selalu menjadi kekuatan dalam cerita pendek. Batas khayal di benak pembaca jadi tak bertepi, jauh mengembara. Efek kejut bisa menimbulkan haru yang lebih dalam atau tawa yang lebih renyah.

Itulah yang menjadi kekuatan utama penulis Amerika, O Henry, yang memelopori gaya bercerita seperti ini lebih setengah abad yang silam. Dia memercikkan cerita dari kejadian yang kelihatannya adalah rutinitas keseharian, tetapi begitu dia membuat belokan tajam di akhir kisah, maka cerita itu mengena di hati pembacanya.

Dia terlatih karena dia terikat pada semacam kontrak untuk menulis secara tetap untuk satu suratkabar. Begitu juga dengan Maupassant yang tak tertandingi dalam memilih penutup yang mengejutkan ketika dia merekayasa tokohnya sampai menderita sedemikian rupa mencari uang untuk mengembalikan kalung "emas" pinjaman yang ternyata cuma imitasi.

Aris tentu bukan bandingan untuk kedua raksa cerpenis tersebut. Tetapi, dengan pengendapan, kesabaran, saya kira Aris akan mampu memoles ceritanya sehingga lebih menggigit, lengket di benak pembaca.

Becak untuk Wardah adalah cerita dengan gaya yang lain dibandingkan dengan sebagian besar cerita Aris. Boleh dikatakan, cerita ini mempertaruhkan kemampuan Aris sebagai pengarang surealis dengan menunggang Wardah sebagai tukang becak yang tiada duanya dalam dunia kenyataan. Mengayuh becak yang diterimanya sebagai warisan satu-satunya dari sang ayah hanya "beberapa menit" sebelum sang ayah "mati dilindas truk."

Orang-orang melihat Wardah, dengan becaknya itu, "meluncur menerebos hutan, menyusuri padang gurun, membelah lautan..." Menurut yang punya cerita, Wardah, "Kini," malah, "telah sampai ke angkasa." Perempuan dalam khayal Aris itu terus-menerus menggenjot becaknya tanpa jedah. "Makan, tidur, sembahyang, melamun dilakukannya sambil mengayuh becak."

Dalam kisah yang disampaikan dengan datar, tetapi dengan gaya surealisme yang terpuji, Wardah ternyata adalah pelopor organisasi Forum Tukang Becak Bersatu, yang melawan kebijakan Gubernur yang memperlakukan becak tidak lebih dari barang yang harus dibuang ke laut. Hanya pantas untuk jadi rumpon, terkapar di Teluk Jakarta.

Cerita itu ditutup dengan sikap tokoh "aku" yang bergaya seorang borjuis yang mapan. "Duduk dengan menelonjorkan kaki di atas sofa (ini kelengkapan rumahtangga yang paling banyak jadi bagian dari setting cerita Aris; rupanya harta kekayaan ini terus-menerus jadi obsesinya), aku melihat Wardah di layar televisi meluncur dengan becaknya yang cemerlang keperakan di antara bintang-bintang." Penutup yang manis dan tiada biasa dibandingkan dengan cerita-cerita Aris yang lain.

Dalam banyak kesempatan, sering saya utarakan bahwa pengarang angkatan sekarang kekurangan pengalaman fisik maupun spiritual. Mereka memang lebih kuat dalam penguasaan bahasa dibandingkan dengan pendahulu mereka. Tetapi, hanya perpaduan pengalaman, kemampuan penghayataan, dan bahasa yang sudah "khatam" yang akan melahirkan karya-karya yang penting.
Akhir Agustus lalu, Aris Kurniawan akan berusia 30 tahun. Jalan masih panjang. Sebagai hadiah untuk ulangtahunnya, ingin saya sampaikan nasihat. Pergilah ke laut lepas, jangan tunggu angin dari buritan, karena dia hanya akan meninabobokan. Reguklah pahitnya pengalaman hidup sekuat dirimu.

Suatu hari ketika kau sudah kembali ke tepian, aku yakin, sekalipun tanpa bokong dan buah dada yang menggiurkan, dan kau selalu dalam kesulitan "nirpulsa," kau akan menghasilkan prosa-prosa yang tidak hanya akan dikenang, tetapi juga akan mengubah cakrawala.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka