Iblis dan Hal-Hal yang Tak Selesai



Model diperani oleh Caroline Imelda Marsha Loing

Menjadikan Tuhan sebagai bahan gunjingan agaknya menjadi sesuatu yang selalu menarik dan tak pernah selesai. Menggunjingkan Tuhan berarti menggunjingkan sifat-sifat-Nya. Menggunjingkan respons-Nya terhadap mahluk-mahluk kreasi-Nya.  Goenawan Mohamad menulis buku ‘Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai’ untuk mempertanyakan kembali konsep mengenai apa yang kita sebut Tuhan, apa yang disebut kehendak bebas, apa yang disebut iblis. Yang terakhir ini acap dijadikan kambing hitam atas segala kejahatan yang dilakukan manusia.   

Bagi orang saleh dan kaum agamawan, iblis jelas musuh manusia paling nyata; mahluk yang dikutuk Tuhan dan merupakan pangkal musabab jatuhnya umat manusia ke dalam dosa.  Maka ia harus dijauhi. Akan berbeda apabila kita bertanya kepada pengarang. Di tangan pengarang iblis tidak selalu jahat, seperti  juga malaikat tidak selalu baik. Inilah barangkali salah satu hal yang menarik dan menyenangkan—bahkan dapat dilihat sebagai tantangan untuk— menjadi pengarang.  Ia dapat membolak-balik apa saja sekehendak hatinya melalui imajinasi dan perangkat bahasa yang dikuasainya.  Kau tentu ingat Casper, tokoh rekaan dalam film Hollywood. Casper adalah hantu baik yang  terkucil dari pergaulan kaumnya lantaran ia memiliki karakter yang suka menolong manusia. 

Pengarang bahkan bisa menjadi tuhan (dengan ‘t’ kecil). Sekali waktu ia bisa mengubah karakter iblis menjadi bahkan lebih perasa ketimbang manusia. Di waktu yang lain ia menghadirkan malaikat sebagai tokoh yang lebih sadis dari preman. Segalanya bisa diaduk-aduk dengan cara serius maupun sekadar mengolok-olok, atau di antara keduanya. Novel Iblis Menggugat Tuhan (The Madness of God) garapan Da’ud Ibn Ibrahim Al Shawni, yang belum lama ini saya baca, menghadirkan iblis sebagai sosok yang teraniaya oleh kesewenangan Tuhan. Di tangan Shawni, Tuhan hadir bukan sebagai juru selamat, melainkan kekuatan yang penuh tipu muslihat. Sebaliknya, iblis yang menggugat muncul menjadi sosok yang membuat kita bersimpati. Simaklah.     

Kau bilang Adam berdosa gara-gara hasutanku? Kalau begitu, atas hasutan siapa aku melakukan dosa? Aku sebenarnya melakukan apa yang Dia perintahkan, dan aku sepenuhnya patuh pada keinginan Allah. Mau bagaimana lagi? Tak ada ruang yang luput dari kuasa-Nya. Aku bukanlah tuan dari keinginanku sendiri.

Tema gugatan kepada tuhan bukanlah hal yang baru. Namun selalu menarik karena seperti upaya membongkar ketakutan manusia. Dan Shawni, tampaknya sungguh-sungguh dalam bermain-main sehingga berhasil mengatasi ketakutannya. Terlihat dari kesetiaannya  mengutip ayat-ayat suci dan berbagai sumber lain. Mengolahnya. Meski terkesan tetap setia kepada tafsir meanstream terkait ayat-ayat suci, dalam hal ini Islam, yang dijadikan dasar gugatan, namun Shawni berhasil menjadikan sastra, sebagai medium yang dipilihnya, tidak kehilangan sifat hakikinya untuk menggoyahkan kemapanan, mempertanyakan kembali segala sesuatu yang diyakini sebagai kebenaran. Pokok gugatan iblis terhadap kesewenangan Tuhan menjadi anak panah yang terus menerus menancapkan pertanyaan demi pertanyaan tentang kehendak bebas manusia dan kehendak Tuhan.     

Motif dari gugatan iblis inilah issue paling penting dari novel tipis ini. Gugatan Shawni yang bernada serius sesungguhnya serupa olok-olok kepada apa yang dia sendiri pegang teguh mengenai Tuhan, Iblis, kehendak bebas manusia, dan kehendak Tuhan. Secara logika, apabila Tuhan adalah mahakuasa, dan tiada sesuatu pun yang dapat terjadi di luar Kehendak-Nya, maka bagaimana mungkin mahluk, terutama iblis, dapat dipersalahkan karena dosa-dosanya? Bagi kaum saleh, gugatan ini mungkin ini jadi terdengar seperti pembelaan terhadap iblis.

Comments