Lebaran dan Sampah yang Tak Tertangani



Dua pekan sudah Lebaran lewat dan menjauh. Apa yang tersisa untuk dibicarakan dari hari raya yang rutin itu? Bicara lebaran adalah bicara mudik ke kampung halaman. Namun, apakah makna kampung kelahiran bagi kita? Pertanyaan ini mungkin kedengaran sok filosofis dan agak retoris yang telah menjadi klise. Konsep kampung halaman tidak sama bagi setiap orang.  Mungkin ia adalah ingatan tentang masa silam, tentang waktu kanak, tentang  keluguan, tentang ketulusan. Yang terakhir ini barangkali terlalu romantis, nostalgis, dan, apa boleh buat, utopis. Bagi saya yang saban satu atau dua pekan pulang ke kampung halaman, mudik lebaran tentulah tidak memberi kesan yang luar biasa sebagaimana orang-orang yang hanya menjenguk kampung halaman sekali setahun, apalagi bagi mereka yang bertahun-tahun meninggalkan kampung halaman.
 
anak-anak riang bermain dekat tumpukan sampah tepi kali
Makin samarnya batas kampung halaman dan kota urban seperti Jakarta bagi saya agaknya bukan hanya perkara begitu kerapnya saya ulang alik antara kota dan desa, melainkan makin tak berbedanya cara hidup dan berpikir masyarakat yang tinggal di desa dan di kota. Makin massifnya penetrasi  internet dan terutama siaran televisi menjadi salah satu faktor pemicu keseragaman prilaku dan mimpi orang kampung dengan kaum urban.  Yang paling terasa yang saya lihat adalah perilaku hidup konsumtif. Dan bagi saya inilah yang paling menjengkelkan.

Dampak yang segera terlihat dari perilaku konsumtif masyarakat desa adalah terus meningkatnya produksi sampah. Terutama sampah plastik bekas kemasan makanan. Di desa saya dan desa-desa sekitarnya, dua tahun belakangan ini adalah makin banyak asap dari pembakaran sampah plastik di setiap halaman rumah penduduk.  Di tengah ketidak pedulian pemerintah desa menangani persoalan sampah, itulah cara yang ditempuh masyarakat desa mengatasi  serakan dan gunungan sampah plastik yang makin semarak. Akibatnya udara segar di pedesaan yang saya harapkan kini perlahan mulai sukar didapatkan.

Masa kanak saya dulu, orang akan membuat lubang untuk membuang sampah dan limbah rumah tangga. Mereka kemudian menguruknya apabila sudah penuh. Kini mereka tidak bisa lagi menggali lubang lantaran lahan yang makin terbatas dan ditutup lapisan semen, sementara produksi sampah plastik seperti tak terbendung—bagi penduduk yang halaman rumahnya dilintasi kali, mereka akan melarungkan apa pun ke sana seakan itulah cara yang paling benar.  Memang banyak pemulung sampah bekas minuman kemasan untuk dijual kepada pengepul. Namun agaknya sangat tidak sebanding dengan produksi sampah. Apalagi sampah bekas kemasan makanan ringan termasuk yang tidak laku dijual kepada pengepul. Salah siapakah ini? Tentu saja kita semua dan terutama pemerintah yang tidak pernah siap—barangkali tak pernah berpikir untuk siap— mengelola lingkungan.   

Pemerintahan desa (kecamatan, kabupaten, dan seterusnya…) yang tidak pernah siap, massifnya perilaku konsumtif masyarakat desa, melahirkan gejala berikutnya yang menjengkelkan di kalangan anak-anak muda pedesaan: hilangnya kreatifitas. Mereka lebih asyik nongkrong dan menggunjing merek motor dan judul-judul sinetron. Ini terlihat ketika menjelang 17-an, untuk membuat acara perayaan kemerdekaan saja mereka akan mendatangi rumah-rumah warga untuk meminta sumbangan. Mereka kehilangan kreatifitas bagaimana mengumpulkan dana untuk perayaan dengan cara tidak menadah. Anak-anak muda ini memang hanya korban dari sebuah sistem yang lebih besar bernama pemerintah yang alpa menyusun strategi kebudayaan yang jelas!

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka