Terjerumus dalam Romantisme Pengarang Kere



Joko Pinurbo, gambar diambil dari steveelu.com

Apakah yang menarik dari sastra yang bercerita tentang pengarang—apalagi pengarang kere lengkap dengan romantismenya— di tengah semaraknya tema-tema urban kosmopolitan yang dihembus-kibarkan oleh para pesastra wangi (sebutan bagi sastrawan yang datang dari kalangan bebas finansial; yang enteng saja membayar ratusan ribu untuk secangkir kopi) sejak setidaknya satu dekade terakhir dalam jagat kesusastraan Indonesia. Mungkin terdengar klise, terutama bagi kalangan pengarang sendiri. Karena dianggap tidak kreatif. Mengapa menceritakan diri sendiri, menceritakan persoalan yang sudah diketahui sehari-hari.  

Tetapi tentu saja tidak selalu begitu. Mestinya ada hal baru yang dapat digarap dari kehidupan tentang pengarang, baik kere maupun wangi, terutama bila tema tersebut ditulis  Joko Pinurbo (Jokpin), yang selama ini dikenal sebagai penyair dengan puisi-puisi yang memiliki cita rasa yang baik dalam mengolah ironi dan humor. Jalan Asu,cerita pendek Jokpin yang kita temui di Kompas beberapa minggu lalu yang agaknya pengembangan dari puisi-puisinya, sayangnya tidak begitu. Mengisahkan aku, anak seorang penyair kampung kaki  perbukitan ‘masa lalu’ yang selalu dirundung masalah kesulitan keuangan. Berhari-hari menahan lapar lantaran puisinya tak dimuat-muat koran, hingga nekat membayar nasi yang dimakannya dengan amplop tebal berisi lembaran puisi. Aku yang agaknya juga mewarisi ‘profesi’ ayahnya, suatu hari pulang dari perantauan untuk menuntaskan kangen berziarah ke kuburan ayahnya di puncak sebuah bukit. 

Dalam perjalanan ke bukit aku bertemu dengan Om Butet, pemilik warung yang dulu sering mengutangi ayah dan aku makan. Om Butet yang pernah bekerja sebagai redaktur koran lokal kini telah jadi bintang film terkenal. Apa hubungan Om Butet menjadi  bintang film terkenal dengan kepulangan aku dan kemiskinan ayah si aku di masa lalu tidak begitu penting bagi cerita ini. Tidak menguatkan cerita. Kalau diganti, misalnya Om Butet kini jadi juragan beras pun, tidak berpengaruh bagi alur cerpen ini. Bahkan seandainya tidak ada informasi mengenai profesi dari karakter Om Butet, alur cerita ini tidak terganggu sama sekali. Jadi kehadiran Om Butet dengan karakternya tampaknya hanya tempelan dan main-main atawa sekenanya. Informasi penting seperti ibu aku atawa istri si penyair kere di masa lalu, justru tidak disinggung sama sekali. Bisa jadi, menghindari kehadiran istri dilakukan secara sengaja demi membuat cerpen ini jadi tetap enteng. Kebanyakan istri memang tidak mau menganggap enteng dalam perkara nafkah suami. Semangat main-main agaknya memang terasa kuat.   

Sejumlah humor dan ironi yang disodorkan cerpen ini sudah telanjur sering kita dengar. Misalnya, narasi tentang perilaku pengarang yang gemar merokok, memukul-mukul mesin tik, menarik kertas dari mesin tik, meremasnya, dan melemparkannya ke tempat sampah.  Juga kalimat yang menjelaskan bahwa …Ayah saya seorang  pengarang yang kaya. Dompetnya selalu penuh. Penuh dengan semoga…. Juga tuturan bahwa  ….Saya tidak mau sakit gila karena digigit anjing gila. Tanpa digigit anjing gila pun saya bisa gila sendiri. Humor terakhir ini bahkan garing sekali, tayangan humor Opera Van Java (yang sudah lewat itu) juga cukup rajin mengulang humor sejenis ini.   

Namun memang semangat humor dan main-main pula yang agaknya membuat cerpen ini agak menarik dan mengobati kangen kita kepada tema-tema romantisme kehidupan pengarang yang kere dan dililit utang. Kebanyakan orang memang gemar mendengar dan menceritakan dirinya sendiri. Humor dan ironi membuat cerita yang sebenarnya mengiris ini hadir tanpa memunculkan kesan kesedihan berlarat, malah sebaliknya kejenakaan yang bersahaja. Alih-alih memantik iba, cerpen ini justru penuh semangat menertawakan penderitaan. Risikonya cerpen ini secara sadar atau tidak terkesan berusaha menghindari persoalan, alias tidak ingin membawa beban apa pun selain bercerita secara riang dan ringan.
Sutardji Calzoum Bachri, gambar diambil dari inisifani.wordpress.com

Berbeda dengan cerpen Sutardji Calzoum Bachri  (pengarang yang juga lebih dikenal sebagai penyair) berjudul Suatu Malam Suatu Warung dari buku cerpen Hujan Menulis Ayam  (Indonesia Tera, 2001). Tema pengarang kere yang ditulis Tardji ini agaknya ingin serius memunculkan tragika kehidupan pengarang kere. Hasilnya, pembaca ikut merasa miris dan iba (bisa juga tidak simpati) kepada tokoh-tokohnya. Tragika muncul bukan hanya dari nasib pengarang kere, tapi juga pelacur yang diceritakan cerpen Tardji ini.

Nahar, si penyair kere ingin dibayari temannya melacur. Dan bisa jadi karena kekereannya Nahar tak takut kena sipilis. Si pelacur tua yang dituduh kena sipilis tentu saja marah, tersinggung. Ia menjerit-jerit dan mengatakan bahwa dirinya tidak sipilis tidak gonorwa.  Pelacur tua itu berlari ke jalan sambil memaki-maki dalam malam yang muram.

Kedua cerpen ini terjerumus pada romantisme yang sama: kehidupan pengarang yang selalu dirundung persoalan keuangan. Dalam realitas sehari-hari, sampai sekarang, di tengah munculnya para pengarang wangi, kebanyakan pengarang Indonesia, seperti juga kebanyakan rakyat Indonesia, apa boleh buat memang kere. Mereka banyak menyandarkan kebutuhan sehari-hari dari honor menulis cerpen, puisi, dan tulisan lainnya di koran yang jumlahnya tidak banyak. Kalau mau mendapatkan honor besar, mereka harus menulis buku-buku proyek pemerintah, atau menawar-nawarkan diri menulis buku biografi politisi dan pengusaha kaya.

Comments