Novel Zaman Sakit



resensi ini awalnya disiarkan Koran Tempo, Minggu 14 September 2014

Membaca novel-novel Eka Kurniawan adalah membaca asal muasal setiap kejadian. Barangkali ini jejak pendidikan filsafat Eka, yang lulusan Fakultas Filsafat UGM. Novel-novel Eka tak pernah lengah dengan setiap kejadian, menguliti penyebabnya serta akibat yang ditimbulkannya setelah itu. Seperti Dendam Rindu Harus Dituntaskan (SDRHDT) makin menegaskan itu. Dan penyebab segala kejadian dalam novel mutakhirnya ini adalah hasrat seks. Perkara seks menjadi motif utama setiap gerak dan tindakan tokoh-tokohnya dalam menciptakan realitas fiksi. Simaklah kotbah Ajo Kawir, tokoh sentral SDRHDT: “Kehidupan manusia ini hanyalah impian kemaluan kita. Manusia hanya menjalaninya saja.’’ (hal.189)
Model diperani oleh Neni Heriyani

Pernyataan ini membawa kita kepada psikoanalisis Sigmund Freud. Bagi Freud tidak ada motif yang lebih valid yang menggerakkan tindakan manusia selain insting libido. Namun, melalui Ajo Kawir, secara cerdik Eka memutar balik sebab akibat. Begitulah yang terjadi pada Ajo Kawir. Ia menjadi bergajulan yang tak miris menghadapi perkelahian maut lantaran merasa hidupnya telah selesai bersama tidur panjangnya ia punya kelamin.

Namun, terjerumusnya Ajo Kawir pada sikap fatalis itu hanya tahap pertama dalam hidupnya. Karena pada fase berikutnya Ajo Kawir justru menjadi arif bijaksana laksana seorang sufi. Motif kesufian Ajo Kawir agaknya jelas bukan karena kesadaran relijiusitas (baca: ketaatan kepada Tuhan) sebagaimana dikotbahkan kaum agamawan, melainkan digerakkan oleh keputusasaannya menghidupkan kembali si burung. Mana yang lebih baik dari kedua motif tersebut, tentu bukan tugas Eka untuk menjawabnya. Eka hanya menjalankan tugasnya sebagai pencerita ulung tanpa dibebani perkara moral dan semacamnya, termasuk moralitas yang menjerat kata-kata tertentu yang merujuk organ genital. Dan kita mendapat suguhan kelincahannya yang memikat dalam memainkan berbagai jurus bertutur. 

Sejauh mana dan sekuat apa motif seks menggerakkan tindakan Ajo Kawir dan tokoh-tokoh lainnya dalam novel ketiga Eka ini? Yang paling tersurat adalah kenekatan Ajo Kawir dan Si Tokek dalam melakukan kegiatan mengintip, diawali dengan mengintip malam pengantin Pak Kepala Desa dengan istri ketiganya, mengintip kemolekan tubuh telanjang Rona Merah, hingga adegan tak terduga pemerkosaan brutal Rona Merah oleh dua orang polisi yang kemudian kita tahu berakibat fatal, dan dari sinilah alur novel menggelinding deras, tangkas seperti tak memberi kesempatan pembaca menarik napas. SDRHDT selain dengan narasi ekonomis hadir dengan alur yang ketat. Sejumlah sub plot yang mengetengahkan kisah tokoh-tokoh sekunder muncul memperkuat plot utama.

Ajo Kawir kehilangan kepercayaan dirinya. Kondisi psikologis inilah yang membawanya pada sikap hidup berandalan, gemar memancing kerusuhan, serta tak kenal takut menghadapi berbagai pertarungan maut. Teori insting seks Freud seperti menemukan kebenarannya yang tak terbantah. Menurut teori ini, peradaban yang tumbuh dan terus berkembang tak lain lantaran manusia memiliki insting seks. Setiap tindakan dan upaya manusia mempertahankan hidupnya dengan menciptakan karya kebudayaan adalah demi dapat memuaskan hasrat seksnya dengan baik.       

Tema seks
Seks tak pelak merupakan tema besar yang diusung novel ini, sebagaimana didakwahkan Iwan Angsa “Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” pada halaman pembuka novel. Mula-mula perkara seks berwujud hilangnya kemampuan burung Ajo Kawir berdiri. Kemudian secara perlahan merembet mempengaruhi sikap dan cara pandang Ajo Kawir terhadap hidupnya. Ia pergi ke Jakarta dan menjadi sopir truk antar kota antar provinsi dengan motif untuk menjauhi Iteung, perempuan yang justru sangat dicintainya. Dalam pengembaraannya sebagai sopir truk inilah Ajo Kawir sampai pada tahap kehidupannya yang baru, menjadi arif bijaksana. Burungnya yang lumpuh telah menuntunnya memasuki dunia spiritual.

Tokoh berikutnya yang bergerak oleh motif seks tentu adalah Iteung. Bekas tukang pukul yang dikalahkan Ajo Kawir dalam sebuah duel maut ini melakukan apa pun demi mendapatkan impianya ditiduri Ajo Kawir, termasuk rela tidur dengan lelaki lain. Iteung bergerak ke sana kemari memburu dua orang polisi yang menjadi musabab malapetaka lumpuhnya burung lelaki yang dicintainya. Demikian pula tokoh-tokoh lainnya yang terdiri dari begundal-begundal yang tak punya cara lain menjalani hidupnya selain melakukan kekerasan demi kekerasan.  
 
Seperti dua novel Eka sebelumnya, SDRHDT dipenuhi tokoh-tokoh dengan karakter yang “tidak waras”.  Ketidakwarasan tokoh-tokohnya, di luar motif hasrat seks yang menggerakkan mereka, tapi juga tampaknya memang cermin dari dari ketidakwarasan zaman di bawah rejim penguasa yang menyuburkan aneka patologi sosial.   


Data buku
Judul Buku: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan 1: Mei 2014
ISBN: 978-602-03-0393-2
Halaman: 252 halaman


Comments