Harimau Harimau Lelaki Harimau



Seminggu ini saya intim dengan kata harimau. Tak lain karena saya  ditemani dua novel dengan judul yang mengandung kata ‘harimau’. Masing-masing Harimau Harimau karya Mochtar Lubis dan Lelaki Harimau besutan Eka Kurniawan; dua sastrawan dari generasi berbeda.  Mochtar lahir pada paruh pertama 1922, dan Eka lahir paruh terakhir 1975. Penerbitan kedua novel ini pun dipisahkan jarak waktu yang cukup panjang.  ‘Harimau Harimau’ Mochtar Lubis terbit pertama kali pada tahun 1975,  sedangkan ‘Lelaki Harimau’ terbit 34 tahun sesudahnya. Artinya, ketika Harimau Harimau terbit pertamakali, Eka baru saja lahir.
Model diperani oleh Neni Heriyani

Mochtar muncul sebagai sastrawan dan intelektual pada masa penuh pergolakan, yakni pergolakan sebelum dan sesudah kemerdekaan. dan pergolakan 1965. Sedangkan Eka Kurniawan namanya dikenal sebagai penulis cerpen pascareformasi bergulir.  Namun kita lihat, aneka pergolakan yang melatari masa hidup kedua sastrawan ini tampaknya tidak memberi pengaruh langsung pada tema novel yang saya gunjingkan ini.

Harimau Harimau berkisah tentang tujuh orang pencari damar di kedalaman hutan. Mereka adalah Wak Katok, Pak Haji Rakhmad, Pak Balam, Sutan, Talib, Sanip, dan Buyung. Tiga orang yang pertama berusia antara 50-40 tahun, sedangkan 4 orang sisanya adalah anak-anak muda di bawah 30-an. Bahkan buyung baru menginjak 20 tahun, atawa yang termuda. Mereka memiliki karakternya masing-masing yang diperkenalkan pada bab pertama. Mencari damar di hutan untuk kemudian dijual demi memenuhi kebutuhan sehari-hari  merupakan pekerjaan mereka. Ketujuh orang ini berasal dari kampung yang sama.

Di luar ketujuh tokoh ini kita akan bertemu dengan Wak Hitam, seorang dukun yang tukang kawin dengan istri dan anak-anak yang begitu banyak jumlahnya sampai ia sendiri lupa masing-masing nama anaknya dan dari istri yang mana. Istri termuda Wak Hitam adalah Siti Rubiyah. Siti Rubiyahlah yang dibawa ke rumah Wak Hitam yang tinggal di tengah belantara, tempat ketujuh orang pencari damar mampir di sela mereka mencari damar. Istri-istrinya yang lain ditinggal di kampung.

Konflik dimulai ketika ketujuh orang pencari damar ini hendak kembali ke kampung mereka. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seekor harimau buas. Pak Balam yang pertama menjadi korban kebuasan harimau yang kelaparan. Ia diterkam dan membuatnya luka parah sehingga harus ditandu untuk menerusan sisa perjalanannya. Dari sinilah konflik makin keras terjadi dan menggerakkan alur novel secara seru dan menegangkan. Watak asli ketujuh orang ini mulai tertelanjangi satu persatu yang berdampak pada ketegangan cerita.  Wak Katok, yang mengangkat diri sebagai pemimpin rombongan, terkuak watak busuknya sebagai dukun palsu yang culas dan pengecut. Pak Balam sendiri mengakui dosanya yang pernah membiarkan pembunuhan terjadi saat mereka bergerilya melawan penjajah Belanda.

Dalam demam hebat yang melandanya, Pak Balam meracau bahwa harimau yang menerkamnya merupakan kiriman Tuhan bagi mereka  yang telah melakukan dosa. Ia meminta kawan-kawannya  mengakui dosa-dosa yang telah dilakukannya. Permintaan ini tentu saja mengakibatkan ketujuh orang saling curiga satu sama lain sebagai orang yang paling berdosa dan mengakibatkan Tuhan mengirimkan harimau kelaparan. Maka dalam novel ini, kehadiran harimau tidak hanya hadir sebagai sosok raja hutan buas tapi juga sebagai simbol dari kebuasan manusia terhadap sesamanya.

Pengarang agaknya ingin mengatakan bahwa setiap orang memiliki kebusukannya masing-masing. Kenapa pencari damar itu hanya berjumlah tujuh orang? Apa makna jumlah tersebut dengan alur cerita novel ini?  Apakah jumlah tersebut dimaksudkan untuk mewakili keragaman karakter manusia? Apabila iya, cukupkah? Tentu saja tidak, artinya bisa saja jumlahnya ditambah atau dikurangi. Namun agaknya, untuk realitas fiksi novel ini, jumlah 7 merupakan jumlah yang paling rasional.   

Dengan terkuaknya kebusukan setiap tokoh, pembaca kemudian  diberikan kebebasan untuk bersimpati atau tidak bersimpati, termasuk kepada Wak Hitam dan Siti Rubiyah. Namun, kita tahu, pengarang novel ini bersimpatik pada tokoh-tokoh yang lebih muda, terutama Buyung. Buyung memang melakukan perzinahan dengan Siti Rubiyah, namun itu dilakukan dalam konteks menolong Siti Rubiyah yang tertekan oleh kesewenangan Wak Hitam. Sekalipun sekejap Buyung merasa apa yang dilakukannya bersama Siti Rubiyah hanyalah memberikan kasih sayang yang dirindukan perempuan belia yang tak berdaya itu,  dan terutama sebagai kewajaran anak muda yang yang darahnya tengah bergejolak oleh birahi. Harimau Harimau bergulir melalui alur yang bergerak maju, tahap demi tahap hingga mencapai klimaks.   

Sebaliknya ,Lelaki Harimau bertutur dengan alur mundur maju dengan tempo yang cepat dan bahasa yang ringkas dan telak. Dibuka dengan kabar kematian Anwar Sadat yang dibunuh dengan cara digigit hingga urat lehernya putus oleh Margio, remaja yang di dalam tubuhnya bersemayam harimau jadi-jadian. Pada bab berikutnya pembaca tidak diberitahu motif dibalik peristiwa pembunuhan. Alur justru melingkar menceritakan tokoh-tokohnya bersama latar belakang mereka, muasal kota yang tempat mereka tinggal.

Eka menggunakan strategi ini agaknya dengan perhitungan matang yang bertujuan mengulur-ngulur penasaran dan ketegangan pada pembaca, dan saya kira ia telah berhasil melakukannya dengan baik. Karena alur yang melingkar ini memberi pembaca pijakan untuk lebih mengenal situasi dan kondisi macam apa yang menyebabkan munculnya karakter tokoh-tokohnya. Barangkali karena itulah sebagai pembaca saya merasakan keasyikan yang menyenangkan. Lelaki Harimau serupa cerita silat dengan bumbu drama percintaan (seks) yang seru dan menggairahkan. Sebagai pembaca saya bersimpati pada Margio dan membenci polah Anwar Sadat. Seperti novelnya yang lain, Eka bertutur dengan lugas, enteng, tanpa beban pesan apa pun.

Itulah agaknya yang membedakannya dengan Mochtar Lubis. Harimau Harimau terasa hendak menyampaikan sesuatu pesan tersembunyi perihal kebuasan manusia melalui simbol harimau. Tersembunyi? Rasanya juga tidak, karena bahkan narator menjelaskan perihal upaya menaklukan harimau yang sesungguhnya dan harimau sebagai simbol kebuasan manusia. Aduh, runyam gak sih! Sedangkan harimau jejadian yang bersemayam di dalam tubuh Margio dalam novel Eka, tak memiliki makna lain selain merujuk pada cerita tentang ilmu harimau yang dimiliki orang-orang tertentu di daerah Jawa Barat (saya juga pernah mendengar terdapat di daerah lain). 

Seperti saya singgung di awal kedua novel ini tidak merekam pergolakan zaman yang melatari pengarangnya, kecuali secara sepintas melalui racauan Pak Balam saat membeberkan dosa-dosanya. Saya puas dan gembira sekali membaca dua novel ini. Swear!

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka