Novel yang Menghasut


Membaca novel Only A Girl  (Gramedia 2010) karya Lian Gouw, ingatan saya dibawa kepada masa kanak dan remaja saya.  Seperti kita ketahui, etnik China tersebar di hampir seluruh daerah di Indonesia. Umumnya mereka tinggal di kota dan pusat pusat ekonomi dan hidup dari berdagang. Tak terkecuali di Cirebon, sebuah kota di pesisir pantai utara tempat saya dilahirkan. Sejak kecil saya telah bersinggungan dan berinteraksi dengan etnik China. Ibu saya yang membuka toko kecil di desa acap mengajak saya berbelanja di pasar untuk kulak berbagai barang dagangan. Dari situlah saya mulai berinteraksi dengan mereka, dari pasar pula saya mulai mengenal apa yang disebut identitas; bahwa saya memiliki identitas etnik yang berbeda dengan etnik China.
Model diperani oleh Arindha

Kendati mulai menyadari identitas yang berbeda, ibu saya tidak pernah menganggap perbedaan itu sebagai isu penting yang dapat mengganggu interaksi sosial dengan mereka. Akan tetapi secara perlahan saya kemudian menyadari adanya fakta keras bahwa mereka adalah golongan dari kaum berlimpah kekayaan dan pintar berdagang. Inilah dinding yang kadang tak kasat mata yang menyekat mereka dengan masyarakat kota kecil saya yang kebanyakan hidup dalam kemiskinan sebagai buruh tani dan nelayan kecil.   

Seiring bertambahnya usia dan pemahaman saya terhadap identitas, saya mulai melihat perbedaan itu sebagai sesuatu yang memberi beban. Terutama ketika mendapati fakta bahwa etnik minoritas ini memiliki peran besar dalam mempengaruhi kehidupan perekonomian masyarakat kota kecil saya. Bibit kecurigaan pun muncul, seiring dengan perasaan inferior dan sejenisnya ketika berhadapan dengan mereka. Perbedaan agama yang dianut memperparah situasi. Saya bersyukur bahwa kesadaran identitas budaya yang berbeda itu tidak berkembang menjadi kebencian. Agaknya lantaran saya berpikir bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang tidak dapat ditolak; bahwa perbedaan itu hadir bukan oleh kehendak manusia. Saya lahir sebagai orang Jawa berkulit coklat bukanlah keinginan saya, demikian pula mereka yang lahir sebagai China atau Eropa atau Arab. Semuanya hadir sebagai sesuatu yang terberi (given). 

Kini saya sampai pada pemahaman bahwa perbedaan bukan saja tidak boleh menjadi alasan pertikaian dan saling menghancurkan tapi juga perlu dirayakan. Namun, novel besutan Lian Gouw, pengarang peranakan China yang  tumbuh di Bandung, Jawa Barat, dan kini bermukim dan menjadi warga negara Amerika  Serikat, seakan memantik sentimen perbedaan etnik yang menggiring pada situasi yang mengingatkan pada situasi saya remaja dulu, situasi yang membuat sekat-sekat perbedaan direspons negatif.

Novel bertagline Menantang Phoenik yang disampul depannya terdapat kalimat penegasan terinspirasi dari peristiwa historis ini bersetting di Bandung antara 1930-1952. Ini adalah masa penuh pergolakan yang menandai masa-masa peralihan dari negeri kepulauan bernama Hindia Belanda ke negara Indonesia. Cerita berpusat pada tiga perempuan peranakan dari tiga generasi berbeda. Mereka adalah Nanna, Carolien, dan Jenny. Nanna adalah seorang ibu yang berperan sebagai kepala keluarga yang berupaya keras  mempertahankan dan menanamkan nilai-nilai tradisional China. Sementara anak-anaknya sangat ingin berbaur dengan masyarakat kolonial Belanda yang mereka anggap lebih maju dan modern. 

Ujian terberat Nanna dalam mempertahankan dan menanamkan nilai-nilai tradisional China datang dari Carolien, salah seorang putrinya yang bernama lahir  Ong Kway Lien. Carolien menolak hidupnya diatur oleh Chip, kakak sulungnya, termasuk dalam memilih lelaki yang akan dikawini. Dalam tradisi China, anak sulung menggantikan peran ayah yang sudah meninggal dalam hal menjaga kehormatan keluarga. Chip tidak menyetujui Carolien kawin dengan Po Han, lelaki pilihan Carolien. Pasalnya, bukan saja Po Han cucu seorang nenek yang gemar mabuk, tidak memiliki pekerjaan yang jelas, dan terutama keluarga Po Han tidak sederajat dengan keluarga Nanna.

Keluarga Nanna memiliki derajat tinggi dalam tatanan sosial negeri jajahan. Derajat tinggi diperoleh keluarga tersebut lantaran sebuah keberuntungan. Suami Nanna mendapat perlindungan Walikota Bandung pada awal 1990-an saat membantu tentara pemerintah kolonial Belanda memberangus sarang perdagangan opium.  Suami Nanna tertembak mati dalam aksi penggerebekan.  Pemerintah kolonial menjamin  pendidikan keluarga Nanna dan memberi jabatan bagi kedua kakak laki-laki Carolien dalam pemerintahan kolonial Belanda. (hal 2)

Untuk dapat mengawini Po Han, Carolien harus menunggu usia 31. Karena sesuai hukum, di atas usia 31, seorang perempuan tidak perlu lagi meminta izin kepada saudara laki-lakinya untuk menikah. Dari perkawinan yang kemudian berantakan, Carolien melahirkan Jenny.   Carolien yang mengagumi dan mengagungkan budaya Belanda  menginginkan Jenny tumbuh dalam pendidikan budaya Belanda yang kemudian membentuknya menjadi pribadi yang eksklusif. Seperti Carolien, Jenny sangat mendewakan gaya hidup masyarakat dan pemerintah kolonial. Ia tidak hanya memandang rendah masyarakat lokal, tetapi juga  menganggap tradisi dan budaya leluhurnya kolot, ketinggalan zaman.

Ketika pemerintah Kolonial Belanda dipukul mundur, dan bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaanya, sekolah-sekolah Belanda diwajibkan mengganti kurikulum yang di antaranya memasukkan bahasa Melayu sebagai mata pelajaran di sekolah tersebut dan menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar.  Situasi ini membuat Jenny tidak merasa nyaman dan tetap menggunakan bahasa Belanda di dalam kelas. Ia menolak belajar bahasa Melayu karena menganggapnya sebagai bahasa kaum rendahan. Sikap Jenny seperti membenarkan tuduhan sementara  pihak bahwa etnik China  di Indonesia sebagai etnik yang tidak memiliki rasa nasionalis.

Sikap Jenny agaknya mewakili cara pandang pengarang novel ini terhadap masyarakat lokal dan bangsa Indonesia.  Itulah yang saya maksud bahwa novel ini seakan membalik kesadaran pembaca untuk merayakan perbedaan.  Semangat novel ini tampak berbeda dari fakta sejarah keharmonisan hubungan etnik China dan masyarakat lokal Jawa.  Di Cirebon misalnya, terlihat dari terjadinya perkawinan antara Sunan Gunung Jati dengan Putri Oeng Tien. Sampai sekarang makam Putri Oeng Tien yang berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati bukan hanya diziarahi masyarakat lokal tapi juga masyarakat etnik China dari berbagai kota di Indonesia. Adanya pengaruh arsitektur bergaya China pada bangunan masjid menjadi bukti lain dari berbaurnya kedua etnik tersebut.    

Cara pandang novel ini dalam taraf tertentu bahkan cenderung mengagitasi masyarakat China di Indonesia untuk tetap menjadi eksklusif. Hanya saja, eksklusifitas Jenny tidak mengacu ke dalam tradisi leluhurnya, melainkan kepada gaya hidup dan budaya Barat.  Jenny seakan menafikkan bahwa peristiwa genosida terhadap etnis China yang terjadi di Hindia Belanda pada 1740 yang menewaskan ribuan etnis China disulut oleh manuver politik pemerintah kolonial Belanda yang merasa terancam oleh ekonomi etnis China yang mulai menguat dan menandingi VOC.

Terlepas dari cara pandang novel ini terhadap perbedaan etnik China dan masyarakat lokal Jawa, agaknya ini satu-satunya novel yang secara rinci mengisahkan kehidupan masyarakat etnik China di Indonesia pada masa peralihan. Kerincian novel ini bahkan melampaui novel tema serupa yang ditulis Remy Sylado.  Only A Girl menukik langsung pada persoalan perbenturan budaya antara masyarakat etnik China dengan pemerintah kolonial Belanda, masyarakat etnik China dengan masyarakat lokal, maupun antar masyarakat etnik China sendiri hadir dengan detil-detil yang memperkuat cerita. Novel ini memberi banyak pemahaman sejarah, budaya, dan nilai-nilai yang diusung etnik China di Indonesia.

Comments