Potret Kekerasan di Negeri Mafia



Model diperani oleh Sheilla Ayu Talissa

resensi ini pernah disiarkan Lampung Post, Minggu, 26 Oktober 2014

Berhadapan dengan “Bandar”, novel karya Zaky Yamani, kita seperti menyaksikan rangkaian kekerasan demi kekerasan dalam panggung politik kita. Bahkan kekerasan itu berlangsung secara lestari sejak awal republik ini berdiri. Dan rangkaian kekerasan itu bermotif kekuasaan. Kisah pertikaian antar bandar narkoba yang menjadi sentral novel ini sesungguhnya hanya celah untuk mengintip pusaran kekerasan yang lebih besar dan massif yang terjadi di negeri ini.

Gaffar Rahmat Setiadi, alias Gopar, bandar narkoba kelas kakap yang tak segan menyingkirkan pesaingnya dengan cara seperti membantai tikus ternyata berada di bawah kontrol kekuatan yang lebih besar, yaitu aparat keamanan negara yang menjadikannya serupa sapi perah. Ketika berhasil menyiasati aparat keamanan, Gopar kembali masuk dalam permainan politisi culas yang memposisikannya sebagai mesin ATM. Dalam sistem serupa lingkaran setan ini, bandar narkoba itu kita lihat tak lebih sebagai korban. Hannah Arendt, dalam telaah kritisnya atas kekerasan dan negara menyebut bahwa kekerasan yang dilakukan negera menular kepada masyarakat.

Bersetting di Bandung serta wilayah Jawa Barat lainnya sejak masa pergolakan perebutan kekuasaan antar sesama anak bangsa, yaitu orang-orang pembela Republik, gerombolan pemberontak yang menamakan diri Darul Islam (DI), dan secara sepintas Partai Komunis Indonesia (PKI) , 'Bandar' menampilkan kisah sebuah keluarga turun-temurun yang diwakili oleh tiga tokoh utama, Dewi (Ibu), Gopar (anak), dan Parlan (cucu). Dewi yang telah melewati perjalanan hidup penuh luka dan airmata, mewariskan bisnis ganja.

Dibuka dengan laporan pandangan mata Parlan tentang situasi keseharian di Gang Somad secara rinci dan hidup, cerita kemudian bergerak mundur. Dewi, nenek Parlan, adalah putri kesayangan Abdul Halim, keluarga kaya raya di Wanaraja pada masa pendudukan Jepang. Dewi melarikan diri lantaran tak sudi dinikahkan dengan Hidayat, kemenakan Kyai Bustaman. Dalam pelariannya Dewi tersesat ke dalam hutan di mana sarang gerombolan DI berada.  Di sana pula Dewi bertemu Ahmad, pemuda yang diam-diam menjalin cinta dengan Aminah, putri Kyai Bustaman. Aminah sendiri terbunuh dalam pelarian bersama Ahmad. Motif pelarian Aminah sama dengan Dewi, yaitu menolak perjodohan. Dewi dan Ahmad lantas terjebak dalam pertempuran antar orang-orang Republik dengan gerombolan DI.

Setelah masa penuh pergolakan itu berlalu, tidak membuat hidup Dewi dan Ahmad terlepas dari kesulitan. Bung Karno tidak becus memberikan kehidupan yang layak bagi rakyatnya. Kemiskinan dan kelaparan menjadi wabah yang mudah ditemui di seluruh pelosok negeri. Tak terkecuali Bandung, kota yang mempertemukan kembali Ahmad dan Dewi. Di tengah kesulitan Ahmad dan Dewi menikah dan melahirkan Gopar. Namun kebahagiaan rumah tangga mereka tak berlangsung lama. Kehidupan yang serba susah memaksa Dewi kembali jatuh dalam lembah pelacuran, sementara Ahmad tewas di dalam penjara.

Sepeninggal Ahmad,  Dewi memasuki babak baru kehidupannya sebagai istri Wasid, kawan sepenjara Ahmad. Wasid menghidupi rumah tangga mereka dengan berjualan ganja. Pekerjaan Wasid ini diketahui  Dewi belakangan setelah Wasid tewas diterjang peluru polisi di Lampung. Bukannya menjauh dari dunia hitam, Dewi justru memilih melanjutkan bisnis Wasid menjadi pengedar ganja untuk kemudian diwariskan kepada Gopar dan dua orang anak lainnya. Gopar membawa bisnis ganja yang bermarkas di Gang Somad pada kemajuan pesat yang menghidupi hampir seluruh penghuni Gang Somad.

Kisah mengenai persaingan bandar-bandar narkoba yang penuh intrik dan kekerasan yang melibatkan aparat negara yang dipaparkan novel ini seperti memfiksikan kejadian yang banyak diberitakan di media ataupun dari mulut ke mulut. Sudah menjadi rahasia umum bahwa aparat negara punya peran penting dalam ‘membina’ gurita bisnis narkoba. Kita pernah mendengar bahwa penjara, tempat para pesakitan menjalani hukuman, jutsru menjadi sarang peredaran narkoba. Dengan kata lain, drama keterlibatan aparat negara dalam bisnis narkoba dan bisnis haram lainnya yang kita baca di media jauh lebih seru dan gila dari novel ini. Novel ini tidak memberi pembaca ‘info’ baru mengenai jalur peredaran narkoba serta rimba persaingan bandar narkoba yang melibatkan aparat negara.

Bagian yang paling menarik yaitu bagaimana sikap pergulatan batin Parlan menghadapi dua pilihan antara meneruskan bisnis warisan keluarganya atau membongkar kejahatan aparat dan politisi busuk, justru hanya mendapat porsi sedikit. Demikian pula hubungan antara masyarakat Wanaraja dengan gerombolan DI di satu sisi, dan hubungan masyarakat Wanaraja dengan tentara Republik di sisi yang lain. Ada juga sejumlah dialog yang kurang kuat dan mengulang pesan yang sudah dijelaskan narator pada halaman sebelumnya. Antara lain tengoklah dialog ini.

“Oh ya, saya Dewi istri mendiang Pak Wasid. Mungkin Bapak masih mengingat mendiang suami saya,” kata Emak sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman seperti layaknya orang Sunda.

“Ada keperluan apa, ya, Ibu dengan saya,” tanya Marzuki.

“Bagaimana saya mengatakannya ya,” jawab Emak. Saya ingin meminta tolong.”

“Apa yang bisa saya bantu,” tanya Marzuki.

“Begini, saya menemukan alamat Bapak di laci suami saya,” kata Emak. “Saya tahu pekerjaan suami saya sebagai apa. Karena itu, barangkali Bapak mau membantu saya memberikan modal untuk menjualnya kecil-kecilan.”

“Modal? Berjualan kecil-kecilan? Maksud Ibu apa, ya?” Marzuki mengerutkan dahi.

“Saya tidak enak menyebutkannya. Tapi Bapak pasti paham apa yang saya maksud, kata Emak. “Sungguh, Pak, sejak kematian suami saya, hidup kami tambah berat. Kalau suami saya dulu mampu mengantar-jemput pesanan Bapak, barangkali Bapak mau menysihkan sediit untuk saa jual secara eceran.” (hal.208)

Namun tentu saja, kekurangan tersebut tidak terlalu mengurangi keasyikan mengikuti alur novel yang banyak menampilkan adegan kekerasan, baik berupa pertarungan dengan golok berlatar hutan-hutan di Jawa Barat masa pergolakan, maupun tembak-tembakan antara polisi dan pengedar narkoba berlatar kehidupan urban. Melalui novel debutannya, Zaky Yamani yang pernah meraih Mochtar Lubis Awards ini cukup menjanjikan harapan di masa depan.   

Data buku
Judul               : Bandar, Keluarga, Darah, dan Dosa yang Diwariskan
Penulis            : Zaky Yamani
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Tebal               : 304 halaman
Terbit               : 2014
ISBN               : 978-602-03-0428-1

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka