Rencana Membunuh Iblis

ilustrasi dicomot dari deviantart.com

Cerpen ini awalnya disiarkan Tribun Jabar, Minggu 28 September 2014
Karim tengah menikmati teh sore hari di beranda rumah ketika Waridah sekonyong muncul dari dalam, menghampiri lelaki itu, dan berkata seperti anjing menyalak, “kamu bukan ayah dari anak ini,” seraya mengelus perutnya yang buncit. Waridah duduk di sebelah Karim dengan pose menantang seakan siap melayani kemarahan suaminya. Akan tetapi Karim tetap bergeming.

“Aku tahu. Dan itu bukan masalah bagiku, aku sudah mengatakannya berulang kali,” kata Karim.

“Laki-laki macam apa kamu! Mestinya kamu murkai aku. Setidaknya kamu mencari tahu siapa lelaki itu, dan membunuhnya!” Waridah maki-maki.

“Aku tak mau mengikuti kemauanmu dan kemauan orang-orang itu. Dan ini pun sudah berulangkali kukatakan padamu,” ujar Karim, tetap sabar.

”Kau memang lelaki pengecut!” nada suara Waridah makin meninggi. Karim tahu sebentar lagi istrinya akan menumpahkan atau membanting benda apa saja yang dapat diraih untuk meluapkan kemarahan. Tubuhnya bergetar hebat, kejang-kejang dengan mulut melelehkan liur banyak sekali, untuk kemudian jatuh tak sadarkan diri. Itulah adegan yang selalu terjadi. Tidak pernah meleset. Kalau sudah begitu Karim akan segera mengelap wajah istrinya yang pucat dengan lap hangat, membopong dan membaringkan dan menyelimuti tubuhnya di ranjang. Membersihkan lantai dari puing-puing gelas dan piring, vas bunga, bingkai foto. Membereskan ruangan yang mirip cangkarng telur pecah berantakan.

Karim meneruskan menikmati sisa teh di beranda, sampai jauh malam, menghirup harum melati di pekarangan sambil melatih tenaga dalam dan mengahafal jampi-jampi ilmu kesaktian. Karim tahu besok pagi keadaan akan kembali normal seperti semula. Waridah terbangun dalam keadaan bugar dan senyum merekah hingga ia akan tampak makin jelita dan mengundang gairah untuk dijamah. Dia akan mengecup pipi suaminya, sebelum bangkit dari ranjang untuk pergi membersihkan diri di kamar mandi. Membuatkan kopi dan nasi goreng. Lantas berbisik lirih di telinga Karim.

“Sudah siang, Kakang. Kamu harus berangkat ke ladang sekarang,” suaranya begitu sahdu, begitu merdu. Perilakunya berbeda jauh dengan semalam. Waridah menjelma jadi perempuan lain yang lembut dan penyayang. Karim berangkat ke ladang dengan perasaan tidak sepenuhnya lega. Sebab nanti sore atau besok atau lusa adegan itu akan kembali berulang. Tentu saja ini sangat membosankan. Tapi Karim tahu ia tidak boleh menyerah. 

“Kau harus menjaganya sampai bayi itu lahir.” Begitu pesan Kiai Husein yang akan selalu Karim pegang. Bahkan ia harus terus di samping perempuan itu, bersama-sama merawat bayi itu sampai dewasa. Karim akan mendidiknya menjadi laki-laki tangguh, menuntunnya bagaimana menjunjung sikap ksatria. Ia akan memanggilkan guru ngaji ke rumah untuk mengajarinya membaca huruf-huruf hijaiyah, melatihnya berenang dan menaklukan buaya di sungai. Dan ketika usianya mulai masuk akil balig Karim akan mengirimnya ke perguruan silat belajar ilmu kanuragan. Waktunya memang masih cukup lama. Tapi Karim akan menunggunya dengan sabar.

Karim sudah berjanji untuk melaksanakan semua pesan Kiai Husein dengan sebaik-baiknya.  Setelah usia anak itu cukup dewasa, ketika tubuhnya tumbuh kekar dengan otot-ototnya menonjol sekal, itulah mungkin tugas Karim akan segera selesai. Ia akan membawanya ke puncak bukit itu. Di sana, di bawah purnama Karim akan menantang anak itu bertarung sampai di antara mereka ada yang tewas!

Tentu saja Karim harus terus berlatih supaya anak iblis itu yang tewas dalam pertarungan. Untuk itulah Kiai Husein memilih Karim menjalankan tugas berat ini. Karena menurut Kiai Husein, dari puluhan santrinya, hanya Karimlah yang memiliki kekuatan yang sebanding dengan anak iblis itu kelak. Struktur tulangmu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki santri lainnya, kata Kiai Husein. Bukan hanya itu, pilihan Kiai Husein sesuai dengan bisikan ilham yang ia peroleh melalui laku bertapa selama 40 hari 40 malam.

“Kamulah orangnya, Karim. Tidak salah lagi. Di pundakmulah keselamatan kampung ini dipertaruhkan. Kamulah yang akan mengemban tugas membunuh anak iblis itu demi mengusir malapetaka dari kampung ini. Malapetaka yang pernah menggulung kampung ini seperti seratus tahun yang lalu,” kata Kiai Husein, malam itu. Karim ingat itu adalah malam ketujuh ia menjadi santri di pondok pesantren Kiai Husein. Karim berasal dari kampung jauh di seberang pulau. Malam kedua setelah secara resmi Karim diterima sebagai santri, Kiai Husein mengumpulkan seluruh santrinya di aula pesantren. Sambil duduk bersila dengan tasbih terus berputar di antara jemarinya Kiai Husein bercerita bahwa kampung ini memiliki musuh bebuyutan yang akan muncul setelah seratus tahun.

Itulah musuh yang tak rela melihat kedamaian di kampung ini. Ia akan datang dengan dendam kesumat untuk memporak-porandakan kampung ini. Kiai Husein adalah cucu dari pendiri kampung ini. Pada masa lalu, Nenek dari Kiai Husein adalah seorang gadis cantik yang menjadi rebutan perguruan-perguruan silat yang ada di Tanah Jawa. Baik perguruan yang mengajarkan ilmu-ilmu untuk menebarkan kebajikan, maupun perguruan-perguruan yang melahirkan pendekar-pendekar jahat pembuat keonaran.

Nilam, demikian nama Nenek Kiai Husein, jatuh ke tangan gerombolan pendekar dari perguruan ilmu hitam yang amat jahat yang gemar menebar teror di tengah masyarakat, menculik dan memperkosa anak-anak gadis. Bahkan mereka bersedia dibayar penjajah dari seberang untuk menangkapi pendekar-pendekar golongan putih yang mendukung Sultan melawan ketamakan para penjajah. Nilam berhasil dicuci otaknya dan menjadi bagian dari gerombolan pendekar jahat. Nilam tumbuh menjadi gadis yang sangat kejam, yang tak segan menebas bahkan kepala anak kecil yang dianggap menghalangi kepentingan pendekar golongan hitam. Menurut Kiai Husein itu bukan perangai asli Nilam, melainkan berkat pengaruh ilmu yang dihembuskan di kepalanya oleh begundal-begundal itu saban malam.

Kesedihan pun memayungi warga kampung. Sang bunga desa yang mereka bangga-banggakan berpihak kepada iblis. Para pendekar golongan putih berkumpul, mengatur strategi untuk menangkap dan menyadarkan Nilam. Melalui pertarungan tujuh hari tujuh malam, Kakek Kiai Husein berhasil memporak-porandakan padepokan perguruan ilmu hitam dan merebut kembali Nilam. Menyadarkan dan memperistri Nilam. Kemudian bersama sejumlah pengikutnya Kakek Kiai Husein membawa Nilam ke wilayah kaki bukit dan mendirikan permukiman baru yang kelak menjadi sebuah kampung yang perempuan-perempuannya selalu melahirkan gadis-gadis yang cantik. Sehingga kampung itu dikenal dengan sebutan Kampung Geulis.

Para pendekar jahat tak pernah rela melepas Nilam. “Arwah mereka tak pernah mau melepas kampung ini. Mereka bersumpah akan kembali datang melalui anak yang dilahirkan perempuan kampung ini. Perempuan itu adalah Waridah!” kata Kiai Husein dengan mata menerawang jauh.

WARIDAH gadis tercantik di antara perempuan-perempuan cantik yang dilahirkan perempuan-perempuan kampung ini. Berkulit bersih tanpa luluran. Alis matanya legam dan runcing alami dipadu hidung bangir, sepasang mata bening dan tajam. Bibirnya tidak tipis tidak pula tebal dan selalu terlihat kenyal kemerahan tanpa polesan gincu dan segala macam riasan. Ia adalah anak sepasang petani yang seluruh hidupnya dihabiskan di rumah, ladang dan tempat ibadah. Tak pernah keluar dari kampung kecuali untuk kondangan. 

Perangai Waridah mulanya amatlah terpuji, tak pernah membantah nasihat orang tua. Namun sejak televisi, internet, dan gadget masuk ke kampung ini, seperti gadis-gadis sebayanya Waridah perlahan mulai berubah. Sering terlihat gelisah, tak puas dengan pemberian orang tuanya. Bicaranya kasar dan jorok. Ia ingin mengenakan gaun-gaun yang lebih indah dan seronok seperti yang dikenakan gadis-gadis yang dilihatnya di televisi. Terobsesi mengecat rambut dan kuku-kuku jari tangannya dengan warna-warna menyala. Memiliki gadget canggih yang bisa menjawab semua teka-teki.

Suatu malam Waridah pun minggat dari rumah. Tiga bulan kemudian ia kembali dalam kondisi linglung dan perut membuncit. “Ia mengandung anak iblis.” Kiai Husein menyuruh Karim menikahinya. “Kamu mendapat kehormatan melaksanakan tugas ini, Karim.”

“Kiai, kalau memang bayi itu iblis yang kelak akan membahayakan kampung ini. Kenapa tidak digugurkan saja sejak sekarang,” begitulah Karim pernah bertanya.

“Kita tidak boleh jadi pengecut, Karim. Dilarang membunuh musuh yang tidak berdaya.”

WARIDAH tampak lelap tertidur. Bahkan saat tidur pun Waridah terlihat begitu anggun. Cara ia bernapas, memejamkan mata, sungguh membius. Tetapi demi tugas besar lagi suci  itu Karim enggan menjamah perempuan yang sah menjadi istrinya itu walaupun Kiai Husein tidak melarang Karim menyetubuhinya. Perlahan Karim pun terlelap di ambin yang lain. Dalam keadaan tertidur tentu Karim tidak mendengar percakapan Kiai Husein dengan kedua orang tua Waridah. Sebenarnya dalam keadaan terjaga pun pasti Karim tidak akan mendengarnya mengingat percakapan itu terjadi di ruang keluarga Kiai Husein yang jaraknya beberapa puluh meter dari rumah Karim. Inilah percakapan itu.

“Kalian tidak perlu khawatir, Karim bisa jadi suami yang baik. Tak ada orang yang tahu kejadian sebenarnya. Bukannya Maulana tidak mau menikahi anakmu. Tapi dia harus melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Karena dia yang akan menggantikan aku memimpin pesantren ini. Terimalah uang ini untuk kalian,” kata Kiai Husein.

“Nggih, Kiai,” sahut kedua petani itu sambil menunduk dan menerima sejumlah uang dari tangan  Nyai Husein.


Gondangdia, 10 Juli 2014

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka