Sembakung, Suatu Siang




Desa Tepian, Sembakung, Tarakan, Kaltara

Kawanan remaja berseragam biru putih itu duduk bergerombol di atas pagar tembok yang belum selesai dibangun, di bawah pohon yang saya tak sempat bertanya pohon apa namanya. Saya mendekat ke sana sekadar berkelit dari sinar matahari yang terik sekali menjelang tengah hari, sambil berharap dapat mencuri dengar atau, syukur-syukur, nimbrung dalam obrolan mereka.

Woles ajah keles.” Saya sejenak terhenyak mendengar ujaran yang datang dari kawanan remaja itu (maafkan bila ini terdengar terlalu dramatis!).  Saya terhenyak karena saya mendengar ujaran itu di sini, di Sembakung, sebuah kecamatan yang masuk dalam Kabupaten Nunukan, wilayah terluar Indonesia yang berbatasan langsung dengan negeri jiran Malaysia. Untuk mencapai kecamatan ini, dari Jakarta kau harus naik pesawat selama 160 menit sampai Bandar Udara Juwata-Tarakan, Kalimatan Utara, dipotong 30 menit transit di Bandar Udara Aji Sulaeman Sepinggan, Balikpapan.  Disambung dengan speedboat selama tiga jam perjalanan dari pelabuhan Tarakan.

Meskipun sudah lama saya tahu bahwa bahasa gaul anak-anak Jakarta kini juga dipakai dalam pergaulan anak-anak di hampir seluruh pelosok Indonesia berkat keajaiban siaran televisi dan sedikit media cetak, tak urung membuat saya sejenak  tercenung ketika mendapati kenyataan ini secara langsung. Sepanjang yang saya tahu kata woles itu artinya santai (atau slow dalam Inggris), sedangkan keles berasal dari kata ‘kali’,  yang dalam kalimat tersebut bukan bermakna sungai, melainkan hanya untuk memberi penekanan pada kata sebelumnya. Jadi, woles ajah keles kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia yang benar kira-kira adalah ‘santai sajalah’.
 
Satu sudut Desa Atap
Waktu saya tak berjarak dengan kawanan remaja itu saya berharap akan mendengar mereka bercakap-cakap dalam bahasa lokal atawa bahasa ibu mereka, ternyata harapan saya kandas. Mereka bercakap-cakap menggunakan bahasa Indonesia yang bercampur bahasa gaul sebagaimana anak-anak Jakarta.  Kepada mereka saya bertanya, apakah mereka menggunakan bahasa Indonesia hanya dengan teman-teman di sekolah. Jawaban mereka membuat saya kembali tercenung. Menurut kawanan remaja itu, mereka umumnya suku setempat,  yaitu Dayak Tidung, mereka sudah banyak yang tidak mengerti bahasa yang digunakan orang tua mereka. Jadi, di rumah pun saat berinteraksi dengan orang tua, mereka lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia. Saya tidak tahu harus gembira atau sebaliknya mendengar pengakuan mereka.
Bandar Tarakan

Perihal tema obrolan mereka yang sempat saya simak ternyata  tak jauh seputar sinetron yang rupanya sedang hit di Jakarta, seperti Ganteng Ganteng Serigala dan serial Mahabarata. Ketika saya menginap di rumah penginapan di dekat kantor kecamatan, siaran televisi TV One, SCTV, RCTI, Trans 7, dan saluran televisi dari Jakarta lainnya terpancar jernih,  begitu juga saat menginap di Swisbel Hotel di pusat Kota Tarakan. Siaran televisi Malaysia tampaknya tidak masuk kemari. Hal yang hampir sebaliknya saya dapati waktu saya ke Batam, Kepulauan Riau. Siaran televisi Malaysia tertangkap dengan baik di sana, sementara siaran televisi dari Jakarta gambarnya sering ‘dikerubuti semut’, tersendat dan kadang bergoyang-goyang pula.

Namun sebagaimana di Batam, produk-produk Malaysia banyak dijual di toko-toko di Kota Tarakan. Mulai makanan ringan seperti coklat, sirup, susu, hingga sampo, sabun dan banyak lagi. Meskipun  merek dan ukurannya sama, produk Malaysia lebih murah dan secara kualitas lebih baik dibanding dari Jakarta. Sebut saja misalnya susu Milo. Dengan ukuran yang sama dan diseduh dengan jumlah air yang sama, susu Milo produk Malaysia lebih kental dibanding produksi pabrik dari Indonesia. 
Anak-anak SMPN I Sembakung

Saya berada di Sembakung, tepatnya di Desa Atap, hanya sehari semalam. Rumah-rumah penduduk di sini berbentuk panggung dengan kolong setinggi mencapai semester. Jarak satu rumah dengan rumah lainnya masih cukup luas, mungkin sampai belasan meter . Kebanyakan terbuat dari kayu,  hanya beberapa yang bangunannya dari semen, yang beberapa itu di antaranya kantor kecamatan dan gedung sekolah. Di Nunukan, Desa Atap ini yang paling parah saat bencana banjir melanda. Air menenggelamkan lebih dari separuh gedung sekolah. Banjir terburuk terjadi musim hujan tahun lalu. Puluhan sapi tewas, rumah-rumah sebagian besar penduduk rusak parah. Waktu banjir penduduk Desa Atap sampai mengungsi di gunung yang berada di ‘belakang’ sekolah. Dari peristiwa yang disiarkan televisi inilah saya mengenal nama daerah ini selain peristiwa pelarian TKI dari Malaysia entah berapa tahun silam. Di Sembakung sinyal ponsel saya (saya menggunakan XL) mati kutu!
Kapal atawa speedboat yang mengantar saya ke Desa Atap dan Tepian

Selain Sembakung, saya hanya sempat memutari Kota Tarakan. Di Kota Minyak ini saya menginap selama empat malam sebelum kembali ke Jakarta.  Oya, ada pengalaman yang baru saya alami sepanjang  hidup saya terkait makanan. Sewaktu saya bersama rombongan singgah untuk makan di Desa Tepian, sebuah desa yang berada di atas rawa-rawa dan dihuni sekitar seratus kepala keluarga, kami disuguhi makanan dengan udang besar-besar serupa lobster sebagai lauknya dan es kelapa muda yang dipetik langsung dari pohonnya yang banyak terdapat di halaman rumah warga. Beberapa menit setelah makan, saya diserang gatal-gatal yang memerahkan hampir sekujur kulit badan saya. Orang menyebutnya alergi udang. Demi Tuhan, baru kali ini saya kena alergi makanan. Syukurlah, gatal-gatal dan warna merah yang melabur kulit tubuh saya reda sama sekali ketika saya terbangun dari tidur yang lelap di Swisbel Hotel Kota Tarakan keesokan paginya. Sebelum tidur saya memang menelan beberapa butir obat pereda gatal. Namun saya ragu apakah obat itu yang meredakan gatal-gatal atau tubuh saya sendiri yang berhasil melawan anomali itu.    
  

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka