Theis, Atheis



Model diperani oleh Jay Ali Muhammad

Sosok Hasan bersama seluruh riwayat dan pengalaman hidupnya menghantui saya pekan-pekan terakhir ini. Ia  lelaki saleh yang terguncang keimanannya gara-gara bergaul dengan Rusli, Anwar, Kartini, serta kawan-kawan mereka yang lain. Di mata saya Hasan selalu terlihat kuyu, lelah, gugup, lemah hati dan oleh karenanya sungguh patut dikasihani. Satu hal yang membuat saya sedikit lega, Kartini begitu mencintainya dan tak pernah berkhianat seperti dugaannya.

Pedih sekali hati saya ketika mendapatinya tewas oleh timah panas tentara Jepang. Ya, Hasan mati  membawa hatinya yang terluka oleh perasaan sesal melawan orang tuanya yang menganggap Hasan sesat. Sungguh susah hati saya menyaksikan tekanan mental akibat pergulatan batin yang dialami Hasan akibat keyakinannya di masa kanak dan remaja dengan gagasan dan nilai-nilai baru mencengkeramnya di masa sekarang.

Itulah Hasan, Hasan yang saya kasihi, yang mengendap-ngendap dalam lembar-lembar novel  Atheis karangan Achdiat K. Mihardja. Hasan datang dari keluarga priyayi Sunda yang kuyup dengan ajaran agama Islam. Hari-harinya diisi dengan sembahyang, mengaji, dan mengerjakan setiap nasihat orang tua. Kawan lamanya yang mengempaskan dia pada kegamangan, kebimbangan, dan akhirnya mengoyak keimanannya kepada Tuhan.

Rusli, seorang aktivis berpendidikan luar negeri yang memuja intelektualitas, perlahan-lahan memreteli keimanannya. Saya tidak membenci Rusli, saya hanya menyayangkan sikap Hasan yang terlalu lugu hingga mudah termakan oleh pengagum teori-teori Marxisme itu. Saya juga tidak membenci Anwar yang secara arogan mendemonstrasikan ketidakpercayaannya kepada Tuhan di depan orang-orang kampung yang mengimani segala yang gaib dan takhyul. Yang saya benci dari lelaki berkulit bersih dan berwajah oriental ini adalah sikap culasnya. Ia mencoba menghasut Kartini, dan memaksa perempuan yang telah menjadi istri Hasan itu menghianati suaminya.

Tetapi tentu saja, karena mereka semua hanya tokoh-tokoh dalam sebuah novel, maka kegeraman saya mungkin lebih tepat saya alamatkan kepada pengarangnya.  Kegeraman saya adalah, mengapa menyandingkan Hasan yang saleh dan lugu dengan Anwar yang atheis dan bergajulan. Apakah pengarang ingin menunjukkan bahwa orang atheis itu cenderung pintar dan culas sedangkan orang yang beriman adalah orang yang lugu, santun  dan tak punya pendirian? Hmm, saya tak mungkin menanyakannya karena sang pengarang sudah lama wafat setelah ia menerbitkan novel terakhirnya yang sangat relijius ‘Manifesto Khalifatullah’.        

Jadi, padamulah akan saya ungkapkan sanggahan dan keberatan saya terhadap cerita dan tokoh-tokoh yang dihadirkannya dalam novel yang terbit pertamakali pada 1949 itu. Pertama, orang saleh tidak selalu lugu. Orang beriman dan getol sembahyang semestinya adalah orang yang dapat bertanggung jawab terhadap apa yang diyakininya. Dan itu tidak terjadi pada Hasan. Kedua, orang atheis, tidak selalu culas dan gemar main tikam dari belakang , dan itu tidak melekat dalam perangai Anwar. Keduanya mempunyai alasan yang sama untuk taat aturan dan kaidah sopan santun yang berlaku di tengah masyarakat. Alasan yang sama yang saya maksud adalah alasan bahwa apa pun keyakinan seseorang, muaranya adalah untuk memuliakan kemanusiaan.  Apabila kau beriman namun tidak membuat lingkunganmu damai, tidak ada artinya, bukan? Sebaliknya, apabila dengan menjadi atheis namun membuatmu dirindukan banyak orang lantaran sikapmu yang baik dan penyayang tentu tidak menjadi masalah. Seperti kata Gus Dur, tidak terlalu penting apa pun keyakinanmu, yang penting adalah apa sumbanganmu untuk kebaikan manusia.
Model diperani oleh pengelola blog

Comments