Borobudur, Sepenggal Rerasan


Setelah naik turun mengelilingi candi, saya duduk di bangku taman halaman sisi kanan candi yang teduh oleh rimbun barisan pohon akasia, glodogan tiang, sejenis matoa, damar, dan ketapang yang tumbuh di atas hamparan rumput. Saya belum merasa lelah untuk duduk-duduk, belum puas untuk memandang bangunan candi dari jarak tertentu. Namun melihat bangku kayu yang posisinya strategis sayang sekali rasanya dilewatkan. Toh dari sana saya bisa menangkap lanskap candi. Jadi saya pun duduk sambil menghirup aroma rumput dan ranting-ranting akasia, menatap puncak stupa tertinggi, dan tentu saja mencuri-curi pandang mahluk-mahluk cantik yang hilir mudik dan selalu sibuk memainkan kamera mereka.  

Bangunan candi yang namanya saya kenal sejak sekolah dasar ini ternyata tidak semegah yang  saya angankan, pikir saya sambil duduk menyimak suara angin dan gesekan daun-daun. Di bawah pohon akasia di sisi jalan batu menuju tangga masuk kompleks candi, saya melihat beberapa perempuan paruh baya menawarkan jasa pijat kepada orang-orang yang duduk di bangku seperti saya. Salah seorang berjalan menghampiri saya dan menawarkan hal yang sama. Tarifnya berapa, Bu, saya bertanya. Seikhlasnya, Mas, sahutnya. Seikhlasnya itu berapa, kejar saya, agak tak yakin. Berapa pun Mas kasih saya terima, jawabnya menegaskan. Baiklah, saya setuju untuk dipijat.

Perempuan itu meminta saya membuka baju atas. Melihat saya agak terkejut karena tak pernah membayangkan telanjang dada di ruang terbuka, di dekat candi, dan lalu lalang orang, perempuan itu meyakinkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Ia menggelar tikar, saya tengkurap di sana menyerahkan tubuh saya kepada jari-jarinya. Baru beberapa menit ia mengerjakan tugasnya, hujan turun tak tertahankan. Kami berlarian mencari tempat berteduh. Kami mendapatkan semacam joglo, di sanalah ia melanjutkan pekerjaannya memijat badan saya. 
Pentas wayang serangga, (foto Romyan Fauzan)

Sejak dari Jakarta saya memang berencana mencari tukang pijat.  Makanya begitu turun di Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, Jumat pekan lalu, saya segera mencari losmen yang juga menyediakan jasa pijat yang direkomendasikan kawan saya. Hanya belasan menit naik becak dari stasiun saya segera menemukan losmen yang dimaksud. Namun, seusai menyantap bubur ayam dan segelas besar es teh daun sereh saya mendapat penjelasan mengecewakan dari pelayan: losmen ini tidak lagi menerima jasa pijat di tempat.   

Tentu saja tujuan saya kelayapan sampai Magelang bukan dengan tujuan mencari tukang pijat semata, melainkan untuk menghadiri  festival penulis dan budaya yang digelar kaum budayawan Jakarta, di luar agenda-agenda tersembunyi lain yang agak susah saya jelaskan di sini. Mengikuti seminar-seminar penulisan, seni budaya, jelas bukan agenda utama saya. Karena seribu seminar budaya atawa pidato kebudayaan dan sejenisnya bisa kamu temui saban hari di Jakarta. Bertemu dengan para kolega? Bukan juga, karena rupanya saya jenis orang yang tidak mudah merasa nyaman bertemu dan ngobrol dengan orang banyak dan baru saya kenal, apalagi dengan kaum budayawan, atau pura-pura budayawan.
Panggung padepokan Cipto Budoyo

Dari losmen saya kemudian dijemput seorang kawan. Kami langsung ke Magelang, masuk ke kompleks candi tempat festival diselenggarakan. Kami menginap di penginapan yang berada di kompleks yang sama. Penginapan ini serupa rumah panggung berdinding anyaman bambu. Festival berlangsung tiga hari dan tidak semua dilangsungkan di kompleks candi. Malam kedua, menggunakan bus  para peserta digiring ke sebuah desa di lereng bukit bernama Tutup Ngisor. Di desa yang konon seluruh penghuninya seniman, karena mereka gemar menari dan memainkan drama wayang orang, terdapat padepokan Cipto Budaya pimpinan seorang Romo Katolik. Di sanalah aneka pertunjukan digelar, pembacaan sajak, pertunjukan wayang serangga, tari topeng Cirebon, monolog, hingga wayang orang. Dipandu Trie Utami, di luar pembacaan sajak, hampir seluruh pertunjukan cukup menarik, memuaskan, dan memperkaya batin saya, upps...

Wayang serangga dan wayang orang barangkali yang paling mengesankan. Mungkin karena itulah kali pertama saya menyaksikan secara langsung pertunjukan wayang orang. Saya tidak terlalu memperhatikan cerita yang dibawakan dalam dialog-dialog bahasa Jawa kromo yang tidak sepenuhnya saya pahami, namun saya terkesan cara mereka membawakan wayang orang. Riasan dan kostum mereka mungkin yang paling membetot perhatian saya, berikutnya adalah keluwesan tubuh mereka memainkan seni drama tari yang menuntut kemahiran menari, akting, dan vokal. 
Pertunjukan drama Diponegoro, (foto Romyan Fauzan)

Yang paling mengganggu nurani saya adalah ketika acara hendak dimulai, panitia meminta anak-anak dan masyarakat setempat keluar, dan cukup menonton secara berdiri di luar pagar. Kursi-kursi dan hidangan hanya untuk undangan dari luar kota. Kawan saya memaki-maki dalam hati melihat perlakuan diskriminatif panitia. “Berbaur tanpa diskriminasi, saling belajar dengan warga desa. Semua itu omong kosong!” gerutu kawan saya.  Dia heran setengah mati, para sastrawan dan budayawan yang sehari-hari berurusan dengan hati nurani dan kehalusan budi pekerti bisa nyaman-nyaman saja melihat perlakuan diskriminatif panitia kepada warga setempat. Sekarang mungkin kamu tahu apa yang saya maksud dengan pura-pura budayawan.    
Tari Topeng Cirebon
Pentas monolog Sha Ine Febrianty

Pertunjukan wayang orang (foto M Romyan Fauzan).




Comments