Ironi Kebahagiaan



Model diperani oleh Bunga Sarah Oktaviani

Pertanyaan menggelisahkan usai membaca lembar terakhir novel Khotbah di Atas Bukit Kuntowijoyo adalah,  hendak kemana tukang sapu pasar itu pergi? Mau menjadi tukang sapu di perbukitan? Bagaimanakah caranya menyapu sampah di perbukitan yang rimbun oleh pohonan dan semak belukar? Sesuatu yang menggelisahkan saya benar sejatinya barangkali oleh kegelisahan yang mendera Barman, lelaki gaek yang menghuni lembar-lembar halaman novel ini. 

Barman ingin menghabiskan masa tuanya dengan menempuh keheningan—atau keasingan— di sebuah villa di bukit. Bobi, anaknya, membayar Popi, perempuan muda nan jelita, untuk  menemani dan mengurusi segala keperluan Barman. Termasuk menamaninya tidur. Tetapi Barman sudah tua, itu yang ia lupa. Hasrat untuk menikmati tubuh ranum muda milik Popi memang ada namun apa mau dikata, Barman kehilangan daya. Jadilah tubuh indah keemasan itu tersia-sia.

Entahlah apa tujuan Barman menghabiskan sisa usianya di bukit. Barangkali mencari ketenangan seperti banyak diidamkan orang-orang kaya perkotaan pada akhir pekan. Rutinitas pekerjaan di kota-kota besar acapkali dituduh menjadi penyebab orang kehilangan  kesegarannnya sebagai manusia. Tugas-tugas kantor merampas orang melihat dan merasakan detak jantungnya sendiri. Dan itu rupanya yang mendorong mereka merasa perlu pergi ke tempat-tempat yang hening. Di sana mereka mengira menemukan waktu untuk menjenguk kesejatiannya.

Tengoklah, pada akhir pekan jalanan ke puncak Bogor selalu dimacetkan ole iring-iringan mobil orang-orang Jakarta yang ingin menyegarkan diri di perbukitan. Mereka menyewa vila untuk beberapa malam. Mereka berharap memperoleh kesegaran untuk bekal kembali menghadapi keganasan Jakarta. Apakah mereka mendapatkan kesegaran seperti yang diharapkan? Kesegaran tubuh barangkali iya. Tapi apakah itu cukup? 

Rupanya itu tidak cukup bagi Barman, sebelum lelaki itu bertemu dan menjalin perkawanan yang aneh dengan Humam, lelaki misterius yang dijumpainya di kengungunan bukit yang rimbun.  Barman melihat manusia dalam sekujur tubuh Humam.  Sosok itu diyakini Barman sebagai nabi yang akan menyelamatkan hidupnya dari nasib yang pernah dialami Sisiphus, tokoh mitologi Yunani. Kautahu, Sisiphus dihukum oleh dewa dengan cara menyedihkan: mengangkat sebongkah batu besar ke puncak bukit untuk kemudian digelindingkan kembal ke bawah, begitu seterusnya sampai mati.

Pertemuan Barman dengan Humam mendorong Barman meninggalkan villanya yang nyaman dan menyia-nyiakan kehangatan tubuh Popi yang memabukkan hasrat kelelakian. Barman ingin memulai perjalanan meninggalkan kenikmatan dan hasrat kepada dan dari daging. Barangkali seperti yang pernah ditempuh Sidharta Gautama. Karena keinginan adalah sumber penderitaan, begitulah sabda Sang Budha.

Namun, perkawanan Barman dengan Humam tak berlangsung lama. Lelaki itu meninggal dengan wajah orang tertidur pulas. Sepeninggal Humam tidak membuat Barman kembali gelisah, ia merasa jiwanya telah dikembalikan seutuhnya oleh lelaki itu. Dan Barman merasa tugas mengembalikan jiwa orang-orang pasar di kaki bukit sana kini diemban di pundaknya.  Mengembalikan jiwa bermakna menemukan kebahagiaan sejati.

Namun, ironi pun kemudian terjadi. Setelah Barman berhasil mendapatkan pengikut, mempengaruhi orang-orang pasar, termasuk tukang sapu pasar, untuk meninggalkan kesibukan dunia. Barman tidak tahu akan membawa mereka kemana.  Para pengikut itu menuntut kebahagiaan  yang dijanjikan Barman. Barman yang frustrasi kemudian bunuh diri dengan cara menjatuhkan tubuh ke jurang.

“Hidup ini tak berharga untuk dilanjutkan!” demikian kalimat terakhir yang  dikhotbahkan Barman yang begitu mengganggu si tukang sapu, salah seorang pengikutnya. Si tukang sapu enggan kembali ke pasar meneruskan hidupnya sebagai tukang sapu. Ia ingin pergi mencari kebahagiaan, entah kemana dan dengan cara apa….

Comments