Rentetan Albert

Ilustrasi diambil dari billyinfo.blogspot.com
cerpen ini pernah disiarkan Lampung Post, Minggu 2 November 2014
 
Sudah hampir seminggu ini, senyumnya, sorot matanya, suaranya kala mengucapkan kalimat-kalimat itu, dan kalimat-kalimat itu sendiri, menghantuiku. Bahkan, kalimat-kalimat yang meluncur dari bibirnya itu yang paling membuatku bagai terserang demam. Segenap sosoknya adalah persekutuan yang mengancamku. Membuat rutinitasku terguncang. Rutinitasku itulah tampaknya yang memang menjadi sasaran dia. 

Jakarta, penghujung Januari yang letih. Hari-hari berjalan lamban, jarak-jarak memanjang dan ruang-ruang tiba-tiba seperti dikuasai kekosongan. Segala yang tampak di mata jadi terasa salah. Hal-hal yang biasanya baik-baik saja jadi menimbulkan amarah.

Setiap langkah yang terentang terasa lebih berat. Dan, senyum itu—tidak, seringai itu....

Dia muncul di mana saja. Kadang menghadang begitu aku turun dari angkot dan terus menjajari langkahku menuju halte Trans Jakarta. Pernah, tiba-tiba menyeruak dari belakang ketika aku sedang mengantre di loket dan membayari tiket Trans Jakarta-ku. Dan, tadi pagi, tanpa kuketahui kedatangannya, tahu-tahu sudah ada di sampingku ketika aku sedang duduk menunggu.

"Kamu siapa sih sebenarnya?" terlontar begitu saja dari mulutku karena aku sudah tidak tahan lagi dipermainkan kemisteriusannya.

"Dari kemarin, aku menunggu kau bertanya. Kenalkan, Albert."

"Janu," balasku sambil merasa iri dengan namanya yang kurasa keren sekali.

"Baca buku apa?" Matanya menunjuk ke buku yang sedang kubaca.

"Oh, ini... kumpulan puisi. Ups, sori, busnya datang, aku naik dulu."

"Hei, kita bisa bareng, ’kan?"

Seperti biasa, bus Trans Jakarta penuh dan aku berdiri. Albert tepat di sebelahku. Terus saja menyeringai.

"Kenapa kamu membaca puisi dalam bus?"

"Soalnya aku tidak punya iPod," jawabku asal karena agak jengkel juga dengan pertanyaannya.

"Kamu bisa meninggalkan semua ini sebenarnya kalau kamu mau. Maksudku, mau atau tidak mau, kamu tuh bisa...."

"Sori, kamu bicara tentang apa ini?" tukasku, tapi tetap saja nyaliku ciut untuk menatap mukanya secara jelas.

"Tentang kebosananmu. Tentang hari-harimu yang tak bermakna. Tentang keinginan terpendammu untuk pergi...."

"Wah, aku makin nggak ngerti. Kamu ngomong apa sih?"

"Kamu tahu, kenapa kemacetan Jakarta tidak bisa diatasi? Karena, mereka, maksudku orang-orang di dalam mobil-mobil mewah itu, memang menikmatinya. Mereka adalah Sisifus yang mengangkat batu dari lembah ke puncak gunung, lalu menggelindingkannya lagi ke bawah untuk kemudian diangkat lagi ke atas...."

"Albert, please!"

"Seperti kamu. Bangun pagi selalu terlambat, buru-buru, naik bus Trans Jakarta  ke tempat kerja, pulang petang, tidur.... Apa yang lebih absurd dari pada menjalani hidup dalam pengulangan-pengulangan tiada akhir seperti itu? Seperti mobil-mobil di luar sana, kamu adalah kemacetan...."

Kali ini, aku mulai tidak peduli. Aku pura-pura tidak mendengarkan. Biar. Biar dia—Albert-whatever itu—kelihatan bicara sendiri seperti orang gila di mata penumpang lain. Sementara, keringat dingin mulai merembes dari pori-pori kulitku, membasahi bajuku yang tadi tak sempat kusetrika.

"Kau bisa meninggalkan semua ini. Pulang ke kampung dan kau akan mendapati banyak hal yang bisa kau lakukan. Atau, mengurung diri saja di kamar, menyelesaikan novel dan obsesi-obsesi lain kalau kau memang punya atau masih punya."

Halte tujuanku sudah dekat. Aku bersyukur akan segera terbebas dari ocehan whatever Albert itu. Aku menepi ke dekat pintu. Ketika bus berhenti, aku segera melompat tanpa menghiraukan apa pun lagi.

Aku sempat menoleh ke dalam bus sebelum kembali melaju. Sosok yang mengaku bernama Albert itu tak tampak ditelan penumpang yang baru masuk dari halte tadi aku turun. Tapi, aku tahu, hanya sebentar aku terbebas dari sosok keparat itu. Sebentar lagi, ya sebentar lagi. Astaga....

Aku berlari cepat menyusuri trotoar, tak peduli gerimis yang makin kerap dan membuat jalan licin dan bajuku yang sudah basah makin kuyup. Ups! Aku hampir saja tergelincir. Untung, secara refleks, tanganku mencengkeram batang pohon yang tumbuh berbaris di tepi trotoar. Aku tak memberi kesempatan mengatur napas, terus berlari menerobos gerimis dan orang-orang yang berjalan tergesa membawa payung. Beberapa jengkal lagi, aku sampai depan pintu gerbang kantorku. Sebenarnya, percuma saja aku berlari. Karena, begitu sampai mejaku nanti, sosok itu pasti sudah menunggu. Tapi, tak ada hal lain yang lebih baik yang bisa kulakukan. 
Hampir saja kutabrak satpam kantorku yang berdiri di depan pintu. Tanpa memberi salam kepada orang-orang yang sudah berada di dalam, aku langsung mblusuk dan menghenyakkan pantatku ke kursi, menghadap layar komputer yang segera dinyalakan.
***
Albert! Wajah itu—seringai dingin-licik-menghina itu—tak hilang-hilang dari mataku. Bahkan, makin keras kuenyahkan, makin kuat dia melekat di kelopak mataku.

”Kerja lagi, Janu?” Suara itu menggema di telingaku.

”Sampai kapan kamu bekerja seperti ini? Melakukan tugas-tugas yang sudah diprogram atasan? Sampai kapan? Sampai uang di rekening tabunganmu semiliar? Mana bisa? Mana bisaaaaaaaaaa.... Hahahaha.....” Suara tawa itu menggema, menabuh lebih kencang detak jantungku. 

”Kenapa kamu tidak juga sungguh-sungguh memikirkan bagaimana caranya kamu keluar dari rutinitas yang menyebalkan ini. Sebenarnya, tanpa perlu terlalu serius memikirkannya, kamu bisa mengambil keputusan untuk meninggalkan semua ini. Pasti banyak hal yang lebih bermakna yang bisa kamu kerjakan jika kamu pulang kampung!”

”Stop!” pekikku seraya membekap kedua telinga dengan telapak tanganku.

”Kamu kenapa, Janu?” Vero, rekan kerja sebelah mejaku, menatapku terheran-heran. Rekan-rekan kerja yang lain berdiri dan menatap ke satu jurusan: wajahku, yang tak bisa kubayangkan berwarna apa.

”Oh, dia sedang kena ilusi.”

Kesambet!”

Pak Novan, atasanku, mendekat dan membawaku ke ruangannya. Tanpa berani menatap mata atasanku itu, aku duduk menghadap meja Pak Novan. Kudengar Pak Novan bicara entah apa. Seringai dingin-licik-menghina Albert lengkap dengan rentetan kalimat yang meluncur dari bibirnya terus menghantui pikiranku. Tak ada celah untuk menghindar.
***

Kudapati diriku terbaring lesu di kamar sewa. Pandanganku kosong menyapu seisi kamar. Lantai yang berlapis debu dan abu rokok, tumpukan baju kotor di balik pintu, deretan novel dan majalah porno. Aku mengingat-ingat siapa Albert sesungguhnya. Rasanya, aku memang pernah akrab dengan wajah itu. Bahkan, sangat akrab. Salah seorang teman masa remajaku di kampung dulukah? Ah, siapa pun dia sungguh telah membuat hari-hariku jadi terasa terancam dan  kisruh.

Lalu, aku teringat betapa sudah lama meninggalkan kampungku di Purwakarta. Sepuluh tahun. Ya, sepuluh tahun sudah aku tinggal di Jakarta mengasingkan diri dari orang tua dan saudara-saudaraku. Memang, beberapa kali, aku pernah berkirim surat kepada mereka tentang keadaanku.

”Aku sudah bekerja dan baik-baik saja di Jakarta. Kalian tidak perlu cemas. Toh, kehadiranku dengan keadaan yang kalian anggap tidak normal hanya membuat kalian risih dan malu. Aku tahu, sebenarnya, kalian menyayangiku bagaimanapun keadaanku. Sebaliknya juga aku. Dan, karena rasa sayangku pada kalian, maka aku memilih pergi meninggalkan kalian.”

Itulah, antara lain, surat yang pernah kutulis untuk ayah, ibu, dan saudara-saudaraku. Wajah mereka satu per satu membayang jelas di mataku. Kini, aku tiba-tiba merasa begitu merindukan mereka. Sebenarnya, dulu, aku tidak pernah ingin meninggalkan kampungku yang tenang dan asri, apalagi kalau cuma untuk tinggal dan bekerja di Jakarta.

Ya, dulu, aku ingin mengajar anak-anak kecil tetanggaku mengaji. Mengajari mereka mencintai kampung halaman, membaca dan mengarang cerita. Dan, yang lebih penting lagi, aku tidak ingin berada jauh dari Daru, kawan sekelasku yang selepas SMA menjadi guru ngaji di pondok pesantren ayahnya di kampung sebelah.

Kami berkawan sejak di sekolah dasar. Dulu, Daru anak yang nakal dan selalu membuat keributan di kelas. Ulahnya membuat teman-teman sekelas tidak ada yang mendekatinya, apalagi menjadi sahabatnya. Aku ingat, Daru menggunting rambut seorang siswi baru pindahan dari kota yang duduk di depan mejanya saat guru sedang serius mengajar. Kontan, dia menangis dan kelas jadi berisik. Ibu guru menghukum Daru dengan menjemurnya di tengah lapangan.

Peristiwa itu membuat anak-anak kelas makin sebal dan takut berteman dengannya, kecuali diriku. Aku tetap menjadi temannya. Membantu kesulitan-kesulitan yang dialaminya dalam menghadapi pelajaran sekolah. Menemani kesendiriannya. Sesungguhnya, aku tidak ingin berlaku seperti itu, tapi gurulah yang memintaku menjadi kawan baik bagi Daru. ”Supaya dia berubah menjadi baik seperti kamu,” kata ibu guru. Ke mana-mana, kami selalu bersama. Ada rasa kehilangan di antara kami bila sehari saja tidak betemu. Hubungan kami terus berlanjut sampai di bangku SMA.

Di masa SMA, aku tidak mengganggap dia sekadar teman. Lebih dari itu, diam-diam, aku mencintainya. Dia tidak terlalu terkejut manakala kukatakan terus terang perasaanku. Karena, diam-diam, Daru menyimpan perasaan yang sama. Hanya, hubungan asmara kami harus dirahasiakan karena kami sama-sama lelaki.

Begitulah, saban minggu malam, kami bertemu dan memadu kasih. Biasanya, kami lakukan seusai mengajari anak-anak mengaji di pesantren. Barangkali, itulah masa-masa terindah dalam hidupku. Tidak lama, memang. Karena, secara perlahan-lahan, Daru mulai menghendaki untuk mengurangi pertemuan kami.

”Kenapa Daru?” tanyaku pedih.

Tak pernah ada jawaban yang pasti sampai kemudian Daru benar-benar sukar kujumpai. Dan, suatu hari, kudengar kabar, dia menikah dengan gadis pilihan ayahnya. Hatiku hancur berkeping-keping. Hidupku kosong, separuh jiwaku bagai tercabut dari tubuhku, sehingga aku limbung. Kuliahku berantakan.

Di saat-saat genting itu, suatu malam, tiba-tiba Daru menjumpaiku.

”Janu, maafkan aku. Aku tidak bisa menolak pernikahan ini. Gadis itu sangat baik. Sudah kuceritakan tentang hubungan kita. Kalau boleh memilih, tentu, aku mau hidup dengan kalian berdua. Aku tak mau kehilangan satu pun dari kalian,” ujar Daru sedikit melegakanku.

Itu kali terakhir aku merasakan sentuhan bibirnya di bibirku, dekapan panas tubuhnya di tubuhku. Karena, dua hari kemudian, aku harus mengasingkan diri ke Jakarta. Pergumulan kami malam itu dipergoki sejumlah tetangga. Aku tak mungkin terus berdiam di kampung karena membuat keluargaku malu. Meskipun mereka tak mengusirku, tapi aku tahu, mata mereka menginginkan aku pergi.

Janu, apa lagi yang kamu pikirkan? Segeralah berkemas....”

Astaga! Albert tiba-tiba sudah nongkrong di meja kamar sewaku.

Gondangdia, Juli 2014

Cerpen ini merupakan pengembangan dari Lost Absurdity catatan Rumput Teki


Comments