Tiga Perempuan Menguak Kekerasan



Menonton film Kisah 3 Titik di Arthouse Cinema Goethe Haus Institut beberapa malam lalu, menggiring ingatan saya kepada penggal hidup saya ketika menjadi buruh pabrik di Tangerang. Hampir enam tahun saya memburuh di sana. Pabrik sepatu, mie instan, kabel, hingga yang terakhir di pabrik peralatan makan. Selain penindasan, menjadi buruh tidak selalu berisi serangakaian kesedihan. Barangkali menjadi buruh pabrik atau buruh media seperti yang saya jalani sekarang, sama belaka. Yang sedikit membedakannya adalah menjadi buruh pabrik berarti menyerahkan umurmu pada tombol-tombol mesin dan tali temali yang menjerat sekujur tubuh dan pikiranmu. Kau adalah mesin sepenuhnya. Tak ada tawar menawar.

Namun barangkali karena itulah yang mendorong saya bergabung dengan sejumlah kawan untuk membentuk serikat buruh. Tindakan yang kemudian menyeret kami pada pemecatan tidak terhormat. Maksud saya, kami tidak diberi pesangon sebagaimana mestinya orang di-PHK, pasalnya kami dianggap penghasut dan pembuat kekacauan di dalam pabrik. Untuk memperoleh hak pesangon, kami lantas mendirikan tenda di depan pabrik dan tinggal berhari-hari di sana. Jangan tanya dingin dan lapar yang menyerang tubuh kami. Tapi bukan itu yang menyebabkan kami bubar dan menggulung tenda, melainkan jumlah kami yang menyusut dan upaya aparat pemerintah yang disewa pabrik untuk menghalau kami.

Kami menempuh cara lain, mengadukan persoalan kami kepada DPRD. Hasilnya seperti sudah bisa kami duga, nihil belaka. Lalu kami ke Depnaker. Melalui beberapa kali persidangan dan dalam rentang waktu yang panjang dan meletihkan akhirnya kami memang memperoleh pesangon, walaupun tidak sesuai pasal-pasal dalam UU ketenagakerjaan. Pada kasus kami, dan saya rasa pada banyak kasus serupa, saya melihat pemerintah, dalam hal ini Depnaker, tidak berdaya menghadapi tekanan perusahaan. Mereka seakan tidak kuasa mengawal UU ketenagakerjaan yang mereka buat sendiri. Pilihan yang mudah adalah mengorbankan pihak yang paling lemah, para buruh.   

Nah, perihal ketidak berdayaan dan ketidak-tegasan pemerintah terhadap para pemodal tidak diperlihatkan di film “Kisah 3 Titik”.  Mungkin karena film ini diproduksi dengan bantuan pendanaan dari pemerintah. Untung saja film ini tidak jatuh jadi propaganda Depnaker.  Isunya kemudian dialihkan kepada ketidakpatuhan para pemilik modal terhadap peraturan dan UU ketenagakerjaan, pekerja anak, preman-preman kampung yang menjadi anjing penjaga pemilik modal, dan intrik di kalangan buruh, para mandor yang sibuk menindas buruh, dan tentu saja para pekerja di level manajer.

Akhirnya kita hanya disuguhi drama tiga perempuan yang berjuang sendiri-sendiri. Mereka adalah  Titik Dewanti  Sari (Lola Amaria), manajer SDM sebuah pabrik yang punya kepedulian kepada buruh. Ia berupaya membenahi sistem yang menindas, sistem kontrak. Dalam sistem  ini buruh diperlakukan serupa mesin yang tidak boleh mengeluh sakit, apalagi cuti haid dan melahirkan bagi buruh perempuan. Namun, tentu saja upaya Titik Dewanti Sari mentok ketika berhadapan dengan pemilik modal. Titik tidak hanya berhadapan dengan logika pedagang, tapi juga intrik antar manajer di dalam perusahaan yang saling sikut dan jilat untuk merebut posisi penting. Hubungan asmara Titik dengan pemilik modal yang awalnya barangkali dapat memuluskan upayanya membenahi sistem yang menindas buruh, tapi justru berbalik menjadi batu sandungan. Hubungan asmara Titik Dewanti menjadi semacam kartu truf di mata pesaingnya di dalam perusahaan.    
   
Titik berikutnya adalah Titik Sulastri, seorang janda yang sedang hamil anak kedua saat ditinggal mati suaminya karena kecelakaan di pabrik tempatnya bekerja. Bukannya pulang kampung,  Titik Sulastri justru memilih bertahan di rumah petak nan kumuh dan bekerja untuk bertahan hidup di pabrik garmen. Ia harus menyembunyikan kehamilannya demi diterima bekerja di sana sebagai buruh kontrak dengan upah rendah.

Di perumahan kumuh yang sebagian besar penghuninya buruh, Titik Sulastri bersahabat dengan mbah Dince, tetangga sebelahnya, seorang waria tua. Karakter-karakter unik di sekelilingnya juga membuat hidupnya lebih menarik sehingga hidupnya hanya berisi keluhan. Namun perutnya yang makin hari makin membuncit tidak dapat disembunyikan lagi. Ia diminta mengundurkan diri. Atas bantuan seorang petinggi perusahaan pemilik pabrik, Titik Dewanti Sari, Titik Sulastri dapat kembali bekerja setelah bayinya lahir. Ternyata kehadirannya kembali menimbulkan permasalahan yang lebih pelik lagi, ia mengidap kanker payudara.
 
Titik terakhir adalah Kartika, gadis tomboy, yang kabur dari rumah sejak remaja. Ia dibesarkan di sebuah lingkungan keras. Titik Tomboy tidak kenal takut melawan ketidak adilan. Walaupun begitu, sisi lembutnya terkadang keluar karena perasaannya terhadap Anto, sahabatnya, yang juga menyukai dia. Kartika bekerja di sebuah industri rumahan yang memproduksi sandal dan sepatu. Tempat ia bekerja itu sering mempekerjakan anak-anak sekolah karena upah mereka murah. Anak-anak itu sengaja dihadang oleh makelar buruh di depan sekolah dan diiming-imingi uang jajan, sehingga pada akhirnya, mereka memilih untuk bolos sekolah dan bekerja mengelem sandal. Tak jarang, anak-anak itu menjadi ketagihan ngelem gara-gara pekerjaan ini.

Kartika berjuang sendirian untuk menghentikan praktik mempekerjakan anak-anak.  Menurutnya, anak-anak harusnya hanya mengerti belajar dan bermain. Mereka tidak boleh bekerja. Maka Titik pun dengan berani menantang para makelar. Begitulah, film ini bergerak melalui tiga alur kisah tiga perempuan dengan drama perjuangannya masing-masing. Meski berhasil menyentuh, akting ketiga perempuan ini justru tidak semeyakinkan para pemeran mandor pabrik dan pemilik modal. Adegan persinggungan ketiga perempuan ini di warung tempat biasa buruh ngutang makan mengingatkan pada sinetron-sinetron lugu, untunglah kehadiran Lukman Sardi yang meski sepintas agak menyelamatkan adegan ini. Tentu saja di luar kekurangan ini, kita harus berterima kasih pada upaya Lola Amaria yang tak letih mengusung isu ketenaga kerjaan.  Kita tentu ingat film Minggu Pagi di Victoria Park yang mengusung isu TKI di luar negeri, lesbian, kekerasan terhadap perempuan.

Comments