Gairah Puisi Lama

Ahmad Syubbanuddin Alwy, Riki Dhamparan Putra, Jay Ali Muhammad (dari kiri).
Minggu kemarin saya mendapat kunjungan kawan lama, seorang penyair. Boleh dibilang dialah pembimbing saya menulis puisi waktu saya remaja di kota kelahiran saya, Cirebon. Begitulah, kawan lama selalu menghadirkan lorong waktu ke masa lalu; waktu saya duduk di bangku SMA dan mulai tertarik belajar menulis puisi, dia menjaga rubrik sastra di sebuah koran lokal yang terbit saban minggu di kota kami. Saya kerap mengirim puisi ke sana. Saya ingat, dari puluhan puisi yang saya kirim, ia hanya memuatkan beberapa saja.  

“Kamu harus lebih banyak membaca puisi-puisi dari penyair yang bagus,” dia bilang, suatu hari ketika akhirnya saya bertemu dengannya untuk pertama kali di arena lomba baca puisi. Saya jadi salah satu peserta dan dia menjadi salah satu jurinya.  Saya sungguh-sungguh mengaguminya waktu itu. Puisi-puisinya kebanyakan bertema ketuhanan, atawa puisi sufistik. Saking kagumnya, ketika dia muncul di panggung atas permintaan panitia untuk memperkenalkan diri kepada khalayak saya sampai histeris meneriakkan namanya sambil bertepuk tangan layaknya penggemar melihat langsung artis idolanya meski penampilannya tidak seperti yang dibayangkan pikiran lugu saya. Dia mengenakan jins belel  dan kaus oblong putih, dengan rambut agak gondrong dan tak tersisir rapi; dia tidak mengenakan baju gamis lengkap dengan sorban layaknya sosok sufi dalam angan-angan saya.  

Hari-hari berikutnya saban saya mengambil honorarium,  saya berkunjung ke rumah mertuanya yang tak jauh dari kantor redaksi. Rasanya bahagia sekali ngobrol dengannya tentang puisi dan sastra lainnya, termasuk tingkah polah penyair-penyair Cirebon. Pada waktu itu rupanya masa-masa terakhir dia menjadi penjaga rubrik sastra. Dia mengundurkan diri lantaran tidak sejalan dengan kawan-kawan mengenai pengelolaan rubrik  sastra di koran itu. Dia agaknya memang keras dalam mempertahankan prinsip-prinsip yang dianutnya. Dalam hubungan pertemanannya dengan saya pun mengalami pasang surut sebagaimana lazimnya.

Beberapa waktu setelah tamat SMA saya hijrah ke Jakarta. Sejak itu saya jarang bertemu dengannya, selain menjumpai karya-karyanya di media Jakarta. Pertemuan yang jarang itu biasanya terjadi dalam acara-acara sastra di sejumlah kota. Begitulah kira-kira jika saya ringkas persinggungan saya dengan penyair yang gemar menyebut diri sebagai Raja Penyair Cirebon ini. Sepanjang karirnya sebagai penyair, setahu saya, dia baru menerbitkan satu buku puisi, Bentangan Sunyi.  Meski demikan dalam jagat kepenyairan nasional pada masanya namanya cukup dikenal. Barangkali karena aksi panggungnya yang kocak dan kegemarannya berpolemik di media.  Saya pernah mengembangkan sebuah puisinya menjadi cerpen.

Dia menunggu saya di warung kopi tak jauh dari kantor tempat saya bekerja. Sebenarnya, kedatangan dia ke Jakarta sekadar mampir ke kawan sekantor saya yang juga kawan dia. Tujuan utamanya selain menghadiri undangan sebagai pembaca puisi di sebuah acara budaya di Ancol, Jakarta Utara, adalah mencari data di Perpustakaan Nasional, Salemba.  Setelah sekian tahun tak berjumpa, penampilannya tidak banyak berubah selain gerusan usia yang membekas di kulit dan rambutnya. Dia mengenakan kemeja flanel motif kotak-kotak, kepalanya ditutupi topi tinggi khas Rusia yang ekornya telah dipotong. Saya tahu dia mengenakan topi itu untuk menutupi dahinya yang tinggi dan menyembunyikan sebagian kulit kepalanya yang plontos.

“Menulis puisi membutuhkan energi yang luar biasa,” ujarnya, di telinga saya ujaran ini seolah kehendak bernostalgia. Tapi saya tahu, dia mengucapkan hal itu secara bersungguh-sungguh. “Itulah kenapa karya puisi saya tidak banyak,” katanya, seperti sedang berapologi atas ketidakproduktifannya. Untuk kaitan ini beberapa kali dia menegaskan, dirinya bukan mengarang puisi, melainkan menulis puisi. Dia yakin benar terdapat perbedaan yang mendasar antara menulis dan mengarang. Jujur saja, saya tidak sepakat, tapi saya pikir ini bukan waktu yang enak untuk berdebat. Jadi, saya hanya menyediakan diri buat menyimak setiap kalimat, gerak bibir, kedipan mata, dengusan napas, dan caranya merespons situasi.  Langkahnya agak pincang ketika saya mengajaknya untuk sembahyang di masjid sebelah Stasiun Gondangdia. Dia memang baru keluar dari rumah sakit akibat serangan stroke ringan.

Saya masih tetap mengaguminya namun dalam cara yang berbeda.  Menikmati nada bicaranya yang menggebu dan meledak-ledak dan kocak bagi saya serupa hiburan yang menyegarkan. Saya menghabiskan waktu sampai menjelang subuh dengannya dan dua kawan penyair yang lain; dari warung tegal pindah ke warung sunda, lalu ke teras sebuah minimarket di Jalan Cikini, kemudian balik lagi warung kopi di bawah rel kereta. Bertemu dan ngobrol dengan kawan lama bagi saya momen untuk melihat dan menimbang kembali masa lalu (apa sih!) dan apa-apa yang berharga  dalam perjalanan kita. Namun yang jauh lebih penting lagi adalah selingan yang lumayan menarik, terutama apabila kawan lama itu seorang penyair yang selalu bergairah saat membicarakan puisi.

Comments