Genre Silat Klasik yang Baru Siuman




Gambar dicomot dari kvltmagz.com
Kemarin malam saya akhirnya menyaksikan film “Pendekar Tongkat Emas”, di XXI Taman Ismail Marzuki. Ini film yang saya tunggu-tunggu sejak Mira Lesmana (Miles) mengumumkan akan memproduksi film yang diangkat dari komik silat. Sejumlah hal yang membuat saya begitu penasaran, pertama para penggarapnya. Kau tahu, Miles (duet dengan Riri Riza) merupakan produser yang hampir selalu menghasilkan film-film bermutu.  Nama Miles seakan menjadi jaminan kualitas. Begitulah kenyataannya. Kau tentu tak lupa “Ada Apa dengan Cinta”, “Petualangan Sherina”, “3 Hari untuk Selamanya”, “Gie”, dan tentu saja  “Laskar Pelangi”. Hampir tak ada yang membantah film-film ini bagus sekali secara kualitas, beberapa di antaranya juga menuai sukses secara komersil.  Film-film mereka membuktikan bahwa mereka adalah sineas yang mumpuni, secara teknis mereka sudah khatam, dan satu lagi, penuh dedikasi. Ifa Isfansyah, sutradara film ini juga memiliki jejak karya yang bagus. Ingatlah "Sang Penari".

Karya-karya dan sosok para penggarapnya adalah segenap keseriusan; dan inilah hal kedua yang membuat saya penasaran. Orang-orang serius ini menggarap film silat klasik, sebuah genre yang selama ini, maksud saya dalam sejarah perfilman kita sejak era 1970-1980 hingga mati surinya dunia perfilman Indonesia pada akhir 1990-an, tidak pernah digarap oleh sineas serius semacam Teguh Karya, Arifin C Noer, apalagi Eros Djarot. Sampai berkembang kesan film silat, dan film horor, adalah genre yang hanya digarap oleh sineas kacangan.  Sehingga menggarap genre ini bisa menghancurkan reputasi para sineas serius. Entahlah. Lihatlah, lagi-lagi dalam sejarah perfilman kita, genre ini tidak pernah masuk dalam arena festival film dan mendapat penghargaan. Kritikus film tidak ada yang melirik untuk membicarakannya. Jangan heran pada masa itu bintang-bintang serius kelas satu seperti Christine Hakim, Alex Komang, Tuti Indra Malaon, Rano Karno, Slamet Rahardjo, Widyawati, Jajang C Noer, Jenny Rachman tidak pernah terlibat dalam film silat klasik.

Kini Miles secara mengejutkan membuat film silat dengan bintang-bintang nasional kelas satu yang pada masa lalu tak terbayangkan bermain satu adegan dengan aktor silat seperti Barry Prima, Advent Bangun, George Rudy, Eva Arnaz--bintang-bintang yang tak pernah dihitung dalam sejarah film Indonesia. Hal ketiga yang membuat saya penasaran tentunya adalah setelah sekian lama film silat klasik seakan lenyap dalam kesadaran masyarakat dan pecinta film, tiba-tiba muncul seperti menyentak dan mencelatkan ingatan kita ke tahun 80-an yang semarak dengan film silat klasik itu. Di kampung saya dulu, bersama kawan sebaya, saya hampir selalu menunggu-nunggu film terbaru Barry Prima dan Advent Bangun, duet yang selalu membuat warga kampung saya berbondong-bondong ke gedung bioskop di kota kecamatan, selain film-film India yang dibintangi Amita Bachan dan kawan-kawannya.   

Hal berikutnya yang membuat saya penasaran menyaksikan Pendekar Tongkat Emas adalah para penulis skenarionya. Lihatlah, Jujur Prananto, Seno Gumira Ajidarma. Mereka adalah nama-nama tenar dalam dunia sastra kita. Bukankah ini sebuah kolaborasi yang luar biasa? Jadi, begitulah. Malam itu, di bawah rintik gerimis saya melenggang dari kamar sewa dan menyelinap masuk studio XXI untuk menuntaskan rasa penasaran yang menggebu itu.

Film ini dibuka dengan narasi oleh suara Cempaka (Christine Hakim) Sang Ketua Perguruan Silat Tongkat Emas di sebuah negeri antah berantah. Narasi yang serupa khotbah tentang dunia persilatan yang disebutnya seperti sebuah lorong gua yang panjang, di mana maut muncul di sembarang saat dari balik kegelapan. Lalu konflik pun dimulai setelah tokoh-tokoh diperkenalkan; Cempaka memilih Dara (Eva Celia), murid termudanya, untuk mewarisi Tongkat Emas.  Karuan saja Biru (Reza Rahadian) dan Gerhana (Tara Basro), murid-murid Cempaka yang lebih senior, merasa kecewa, tidak dihargai. Inilah bahan bakar konflik film ini. Sederhana sekali.  Keberadaan Elang (Nicholas Saputra), dan terutama Naga Putih  (Darius Sinathrya) yang muncul sebentar melalui cerita Elang untuk menjelaskan hubungan mereka dengan Cempaka, hanya menjadi kejutan kecil.

Kau tak akan mendapati adegan pertarungan di atas kuda yang melaju kencang atawa di antara ranting-ranting pohon, kejar-kejaran di atas bubungan rumah, kerusuhan di rumah makan yang mengakibatkan hancurnya meja kursi dan beterbangannya piring-piring gerabah.  Pertarungan hebat hanya terjadi di tempat yang mestinya terjadi: panggung pertarungan serta sejumlah kecil di lereng perbukitan cadas. Itu pun lebih sering  dengan kamera jarak dekat sehingga kita tidak menangkap keseruan jurus-jurus silat mereka.   Pilihan pengambilan gambar jarak dekat ini tampaknya memang untuk menutup kekurangan gerak dan teknik silat pemainnya.

Perihal karakter- karakternya, Biru dan Gerhana, si tokoh antagonis tidak membuatmu benci atau geram; demikian juga Elang dan Dara, sang tokoh protagonis, perangainya tidak menyentuh hatimu untuk menyayangi mereka.  Semua terlihat sedang menjadi  (atau tidak menjadi) pahlawan bagi diri mereka sendiri.  Inilah barangkali kelebihan film ini, kau tak perlu merasa terlibat di dalamnya. Cukup sebagai penonton yang menikmati gambar-gambar  yang mengeksplorasi keindahan alam Pulau Sumba dan keanggunan akting para pemainnya.

Lupakanlah pertanyaan kenapa Cempaka memilih Dara ketimbang Biru. Mungkin Cempaka menilai Biru memiliki watak culas. Mungkin, karena kita hanya bisa menduga-duga. Sebelum sampai pada keputusan membunuh Cempaka lantaran kecewa, kita rasanya tidak menemukan petunjuk keculasan Biru dan Gerhana. Mungkin ada petunjuk ke sana, tapi sangat minim. Begitu pula Naga Putih, alasan apakah yang membuatnya memilih meninggalkan dunia persilatan dengan konsekuensi  memisahkan Elang, anak mereka, dari Cempaka yang teguh di jalan kependekaran? Mau jadi orang biasa? Pengen jadi pertapa? Tidak tahu deh…

Tapi baiklah, agak kurang kuatnya motif bagi tindakan para tokohnya serta keseruan adegan pertarungan yang minim toh tidak membuatmu terlalu kecewa, karena masih ada detil-detil lain yang menawan, seperti kostum serta properti, dan tentu saja dialog-dialognya.    

Comments