Kisah Muram Kaum Minoritas Seksual



Model diperani oleh Tami

Baiklah, saya akan memulai gunjingan ini dengan pertanyaan retoris, pernahkah Anda melihat kesedihan, kesepian, keterasingan? Anda sudah tahu belaka jawabannya. Kesedihan, kesepian, keterasingan bukan semacam benda yang dapat tertangkap oleh mata, teraba oleh tangan, maupun terdengar oleh telinga. Ia hanya dapat ditengarai oleh perasaan, angan-angan. Begitulah, kesedihan, kesepian, keterasingan memunculkan dirinya dalam buku kumpulan cerita Hanya Kamu yang Tahu Berapa lama Lagi Aku Harus Menunggu besutan Norman Erikson Pasaribu. Ia hanya akan terendus apabila perasaan kita memang mencoba ‘merabanya’ lewat kerja imajinasi. Sekadar lewat imajinasi. Dan tindakan itu tak pernah tuntas menginformasikannya kepada mata, hidung, dan telingamu, bukan?

Tokoh dalam cerpen-cerpen Norman yang kebetulan kebanyakan datang dari kaum lesbian gay biseksual dan transgender (LGBT) begitu lekat dengan kesedihan, kesepian, keterasingan. Dan segala derita itu dibawa oleh terutama sikap masyarakat yang bukan hanya tidak bisa menerima fakta keras keberadaan mereka tapi juga memarjinalkan mereka ke sudut-sudut gelap sambil menempelkan stigma buruk di jidat mereka sebagai kaum pendosa, dimurkai Tuhan, dan melawan kemestian alam. Tokoh-tokoh Norman merawat luka-luka itu dalam kebisuan, kesendirian. Mereka tak meneriakkan atau meratap-ratap, sambil mencaci maki orang-orang dan lingkungan yang menolaknya. Namun cara seperti  itu justru serupa kelembutan yang menyorongkan luka yang menyesakkan dan menghantui pembaca yang bersedia ‘merabanya’, tentu saja. Terkait tokoh-tokohnya yang kebanyakan datang dari kaum LGBT, barangkali membuat kita bertanya, apa tidak ada kaum LGBT yang bergembira dan melihat penolakan lingkungan terhadap mereka sebagai tantangan menarik untuk dipecahkan? Tentu saja banyak. Tapi Norman tampaknya secara sadar memilih berkisah tentang mereka yang kesepian saja.   

Norman sukses membawa kita memasuki relung terdalam kaum yang kesepian itu melalui peristiwa-peristiwa kecil yang kadang diselipi lelucon getir; bergerak dan menubuh pada peristiwa  keseharian yang intim sekaligus asing. Intim, karena ruang itu adalah perasaan mencintai. Asing, lantaran perasaan mencintai itu tiba-tiba menjadi sebuah kesalahan. Tokoh-tokoh dalam cerita Norman seakan selalu terjebak untuk hanya merawat luka yang tak berpenawar. Situasi ini antara lain karena Seseorang yang Mencintaimu dan Seseorang yang Kamu Cintai tidak menunjuk ke satu orang. (hal.68)

Dalam cerita Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal, cerpen pembuka dalam kumpulan ini, kita bertemu aku yang setia merawat luka karena ditolak dan dianggap tak lazim terkait tubuh dan orientasi seksualnya. Aku hanya bisa mencintai, menjumpai, dan menjaga kamu melalui cerita-cerita yang ditulisnya. Sementara pada saat yang sama, kamu sekalipun ingin membalas cinta aku berupaya meredamnya atau menyangkalnya lantaran stigma yang akan segera ditempelkan ke jidat kamu apabila membalas cinta aku.  Akibatnya kamu jadi pemarah, dan bersikap kasar.

“Apakah kamu tak tahu bahwa kamu sebetulnya tidak kasar. Kamu hanya kesepian,”. (Hal.2)

Aku adalah seorang lelaki yang terlahir dengan tubuh feminine. Aku merasa hancur oleh sikap dan penolakan lingkungan terhadap tubuh  aku yang dianggap tidak lazim. “Seharusnya laki-laki tidak seperti itu. Seharusnya seperti ini…”  Sebagai pembaca kita melihat kehancuran yang dialami aku tidak semata-mata oleh penolakan lingkungan melainkan juga oleh cara aku memandang tubuhnya sendiri. Aku secara diam-diam juga justru mengakui adanya ‘kesalahan’ diri dan tubuhnya.  Hal ini ditunjukkan dalam penuturuan bahwa aku seharusnya mati bersama saudara kembarnya saat mereka dilahirkan. Namun sesatu yang tak aku kenal menjejalkan aku ke dalam tubuh saudara kembarnya yang perempuan. Aku yang laki-laki kemudian hidup dalam tubuh saudara kembarnya.

Aku agaknya mewakili cara pandang dan sikap pengarangnya yang belum mampu menerima homoseksualitas sebagai sesuatu yang terberi, dan oleh karenanya harus diterima dan diberikan hak-haknya sebagaimana kepada kaum heteroseksual. Dari titik ini, barangkali dapat disimpulkan bahwa kemurungan dan pada taraf tertentu kefrustrasian, dalam fiksi-fiksi LGBT bukan hanya desakan dari luar kaum LGBT (baca: masyarakat) tapi juga datang dari kaum LGBT sendiri. Akibatnya, tema-tema LGBT yang hadir dalam kumpulan cerpen ini alih-alih mampu mengangkat isu homoseksualitas pada ranah ilmiah, tapi justru menariknya kembali ke dalam sudut-sudut sejarah dan hanya muncul lewat gumaman-gumaman penuh keluh kesah dan kegamangan yang mengharu biru.

Tengoklah aku, tokoh dalam cerpen Pria Murakami, yang mencintai seseorang yang tak terlihat. Begitulah cara aku merawat luka. Demikian pula aku dalam cerpen Garpu, aku bersama dua orang sahabatnya mencoba merawat luka yang dijejalkan secara semena-mena oleh masyarakat dan  lingkungan, dengan cara hidup bersama layaknya sebuah keluarga yang ganjil dalam kamar apartemen.  

Cerpen-cerpen Norman dituturkan dengan kalimat yang indah, metafor-metafor segar, serta liukan-liukan tak biasa. Norman bertutur dari berbagai sudut pandang, mulai dari orang pertama tunggal dan jamak (aku dan kita), orang kedua tunggal (kamu), dan orang ketiga tunggal (ia); dan mereka (para penurut itu) tidak selalu orang, tapi juga benda mati; bahkan Norman memperlakukan kata sifat seperti Ketakutan, Keheningan, Kebimbangan menjadi serupa sosok yang mampu mengintimidasi. Satu hal lagi yang kita dapatkan dari cerpen-cerpen Norman adalah kayanya bacaan yang jadi referensi. Kutipan-kutipan ayat suci, syair lagu, peristiwa sejarah dari sejumlah tradisi agama, juga ungkapan-ungkapan para filsuf dan penyair dunia diolah sedemikian rupa menyemarakkan cerpen-cerpennya. Unsur-unsur tersebut tidak hadir sebagai kegenitan atau supaya terkesan berwawasan luas, karena Norman secara cerdik telah meleburnya dalam bingkai cerita yang memikat. Maka agaknya, tidak berlebihan ketika di sampul belakang buku ini penerbit menyebut Norman sebagai salah seorang penulis yang akan memberi warna cerah pada masa depan sastra Indonesia.



Data Buku

Judul               : Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu

Penulis            : Norman Erikson Pasaribu

Penerbit          : Gramedia

Cetakan           : I, 2014

Tebal              : 174 halaman

ISBN : 978-602-03-0448-9

Comments