Mempertahankan Desa, Mempertahankan Bangsa



Model: Herika
Pembangunan menjadi mantra para pejabat pemerintah. Ia menjadi dalih bagi aksi penggusuran, pembabatan hutan, pengerukan bukit, pembongkaran situs situs sejarah. Desa sebagai basis sebuah bangsa menjadi korban paling parah dari jargon pembangunan semacam itu. Sebagian besar masyarakat desa, terutama anak-anak muda, kemudian berbondong-bondong meninggalkan desa. Yang tersisa hanya orang-orang tua dan anak-anak. Potensi desa yang besar akhirnya tak tersentuh dan terabaikan. Kenyataan ini jelas membuat miris.

Siapakah yang salah dan bertanggung jawab? Buku karya Dr Yansen TP., M.Si bertajuk “Revolusi dari Desa” mencoba menguliti dan menawarkan solusi atas persoalan yang terus berlangsung di negeri ini dari dekade ke dekade. Bagi Yansen, kenyataan ini terjadi lantaran pola pembangunan yang salah. Pejabat pemerintah masih selalu memperlakukan desa dan warga desa sebagai objek dan bukan subjek pembangunan. Perlakuan ini cerminan dari ketidak percayaan pemerintah kepada warga desa. Mereka seakan komunitas yang tidak punya inisiatif, tak memiliki gagasan-gagasan, tak mengerti kebutuhan mereka sendiri. Pemerintah tak pernah mengajak mereka terlibat dalam merancang pembangunan, alpa memberi kepercayaan kepada warga desa untuk mengungkapkan ide dan gagasan. Buku ini lahir dari pengalaman Yansen  memimpin daerahnya yang mulai dari bawah hingga kemudian menjadi bupati.

Selama ini yang dilakukan pemerintah lebih banyak memaksakan konsep-konsep pembangunan yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan warga desa. Dalam kondisi seperti itu, partisipasi warga desa terhadap pembangunan jadi sangat rendah, bahkan tanpa partisipasi sama sekali. Konsep pembangunan dengan program sehebat apa pun tanpa partisipasi warga desa akan berakhir pada kegagalan. Inilah yang terus terjadi dari satu pemimpin ke pemimpin yang lain yang datang silih berganti. Program-program pembangunan pemerintah yang tidak sesuai dengan kebutuhan antara lain misalnya mengubah fungsi lahan produktif menjadi mal, real estate. Padahal pembangunan mal bukan hanya terlalu sedikit menyerap tenaga kerja, tapi juga menyuburkan pola hidup konsumtif warga desa. Bahkan dalam jangka panjang pola pembangunan semacam itu akan mencerabut warga desa dari akar budaya mereka.

Gerdema
Konsep pembangunan desa yang coba ditawarkan dan telah diterapkan Yansen yang kini Bupati Malinau, Kalimantan Utara, dirumuskan dalam konsep Gerakan Desa Membangun (Gerdema) yang terbukti mampu menjadikan warga desa mandiri dan produktif. Sesuai rumusan Gerdema, filosofi gerakan ini adalah mengajak dan merangsang warga desa untuk membangun desa mereka sesuai kebutuhan dan budaya yang berlaku di desa mereka sendiri. Pemerintah harus sadar yang paling memahami persoalan dan kebutuhan warga desa adalah warga desa itu sendiri. Pemerintah cukup memposisikan diri sekadar sebagai fasilitator untuk mewujudkan ide dan gagasan warga desa dalam membangun desa mereka. Pola seperti ini jelas berbeda dan berkebalikan dengan konsep Gerakan Membangun Desa yang selama ini kita kenal. Gerakan Membangun Desa menerapkan pola pembangunan yang digerakkan dari atas sambil mengabaikan gagasan dan partisipasi warga desa sendiri.

Gerakan Desa Membangun yang ditawarkan Yansen sejatinya menyadarkan warga desa untuk mencintai dan mempertahankan desa tapi bukan dalam semangat romantik melainkan dengan langkah nyata yang serba terukur. Resep sederhana namun fundamental yang ditawarkan adalah mengedukasi warga untuk mempertahankan lahan mereka. Karena lahan bagi warga desa adalah hidup mereka.

Gerdema mendorong dan menjadikan setiap pemerintahan desa mampu berfungsi seperti yang disyaratkan dalam Undang Undang Nomor 6 Tahun 2014. Kepempinan dalam Gerdema menekankan pemimpin yang mampu mengelola tugas sesuai dengan posisi, tugas pokok, dan fungsi yang diembannya. (Hal 85). Buku ini memberi panduan bagaimana seorang pemimpin setiap bangun tidur dan datang ke kantor tahu apa yang harus ia lakukan. Tugas pemerintah desa tidak hanya pada fungsi-fungsi administratif.  Melainkan ia juga harus terjun langsung ke bawah, menemui dan melihat persoalan dan kebutuhan warganya. Tanpa ‘turba’ pemimpin tak akan pernah tahu apa sesungguhnya yang menjadi persoalan dan kebutuhan warga.  

Gerdema mengubah paradigma dan cara pandang pemimpin dalam melihat dan menggulirkan pembangunan di desa sebagai basis penting sebuah bangsa. Cara pandang yang menjadikan desa sebagai pusat dan konsentrasi berpikir dan beraktivitas dari setiap gerak pembangunan yang dilaksanakan pemerintah daerah melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dengan model orientasi aktivitasnya  tertuang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). (Hal 46)

Apabila pemerintah memberikan kepercayaan kepada warga desa, mendidik mereka mandiri sehingga mampu memenuhi kebutuhan mereka dari potensi yang begitu besar di desa mereka, saya rasa kenaikan harga BBM yang memicu inflasi tidak akan terlalu berpengaruh bagi kehidupan ekonomi warga desa.

Comments