Menikung ke Kejernihan



Model diperani oleh Kiky
Jujur saja, saya mulai bosan dengan tema peristiwa 1965 yang ditulis sastrawan kita dalam karya-karya mereka, apalagi yang ditulis dengan teknik seadanya. Hampir semua, baik cerpen maupun novel yang mengisahkan tragedi kelam tersebut memperlihatkan antagonisme Orde Baru dan perangkatnya di satu sisi, dan derita serta nasib sial yang harus ditanggung korban, di tepi yang lain. Tentu perkara  ini tidak ada kaitannya dengan persoalan simpatik atau tidak saya terhadap korban. Saya berdiri semata sebagai penikmat sastra yang menginginkan tema baru, pengalaman baru. Cukup sudah rasanya kekelaman peristiwa itu diulang-ulang dan membikin perut mulas tak keruan. 


Sangat wajar kiranya seorang penikmat berharap mendapatkan menu lain, yang agak baru dan menghibur. Semisal drama asmara sepasang kekasih  berbeda budaya dan agama (eh, agama bagian dari budaya ‘kan?).  Yang laki-laki, Eko,  berasal dari kalangan priyayi Jawa, sedangkan yang perempuan, Claire Levin, berasal dari masyarakat liberal berdarah Yahudi. Mereka bertemu di Sunnybrook, daerah di mana kampus tempat mereka belajar di Connecticut, Amerika Serikat, berada. Claire Levin, tak lain juga anak perempuan induk semang Eko. Mereka lantas menikah dan membentuk keluarga kecil yang ternyata toh bisa harmonis.  Berkat ijazah Sunnybrook College dan rekomendasi Prof.  Samuel D. Levin, ayah Claire Levin, Eko diterima bekerja di perusahaan penerbitan Asia Books, sebuah perusahaan penerbitan internasional di New York.


Kau benar, kisah mereka saya dapatkan di novel Jalan Menikung atawa Para Priyayi 2 besutan Umar Kayam. Kau juga benar, novel ini sempat menyinggung-nyinggung peristiwa kelam 1965. Tapi sepintas saja, sekadar sebagai pembuka untuk pijakan alur cerita supaya dapat bergulir wajar. Eko, anak tunggal pasangan keluarga priyayi Jawa Harimurti-Sulistianingsih, terpaksa bertahan di Amerika Serikat, lantaran pemerintah Orde Baru di Tanah Airnya melakukan aksi bersih lingkungan. Warga beserta ana-anak mereka yang dicap sebagai PKI, dikucilkan, didiskriminasi, dipecat dari pekerjaannya, bahkan apabila mereka bekerja di kantor perusahaan swasta. Harimurti, Ayah Eko, diminta mengundurkan diri oleh atasannya di kantor lantaran ia pernah terlibat di Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi seniman yang berada di bawah Partai Komunis Indonesia.      


Eko dan Claire Levin menikah tidak secara agama. Inilah cara terbaik untuk menghindari persengketaan kepercayaan agama. Meskipun keluarga Levin merupakan Yahudi liberal, bukan berarti kerabatnya juga sama liberalnya yang bisa mendukung Claire menikah dengan  lelaki yang bukan dari kaumnya. Demikian juga Eko, meskipun pernikahannya tidak dihadiri keluarganya lantaran kondisi dan jarak yang jauh, ia tetap menjadi Islam, dan terutama Jawa.


Jadi, dengan kedewasaan persoalan persengkataan kepercayaan agama bisa diatasi. Hanya sikap dewasa dan kritis orang dapat membongkar kecurigaan, prasangka, dan kebencian tak berdasar. Kita tahu, Yahudi, menjadi agama yang paling dibenci, bukan hanya oleh mayoritas umat Islam di Indonesia, tapi juga umat Kristen di Amerika dan Eropa. Apabila kebencian mayoritas umat Islam di Indonesia kepada Yahudi lantaran eksistensi negara Israel yang gemar membantai rakyat Palestina, maka kebencian mayoritas umat Kristen di Amerika dan Eropa musababnya adalah Yahudi dianggap sebagai ancaman bagi kebudayaan Eropa dan Kristen.  Pembantaian Yahudi di Jerman oleh Nazi contoh paling keras bagaimana masyarakat Eropa merasa terancam dengan keberadaan Yahudi.


Kebencian mereka kepada Yahudi yang menjadi sumbu bagi meledaknya kekerasan di mana-mana, sama sekali tidak berdasar. Semua semata karena prasangka yang menyingkirkan logika. Zionis jelas bukan Yahudi, ia hanya gerakan yang mengatas namakan Yahudi.  Iluminasi untuk menghancurkan dunia yang mereka tuduhkan kepada sekelompok Yahudi hanya halusinasi. Teori konspirasi, kita tahu , adalah sebuah cara untuk menghindari tanggung jawab dan kelemahan diri dengan cara menyalah-nyalahkan pihak lain.    


Martin van Bruinessen dalam buku ‘Rakyat Kecil, Islam, dan Politik’ (Gading, 2013) mendedah bagaimana rezim kekuasaan di Amerika, Eropa, Timur Tengah, dan sejumlah negara di Asia, termasuk Indonesia, menjadikan sentiment anti- Yahudi sebagai komoditas politik. Para rezim ini menyebar-nyebarkan tuduhan bahwa komunitas Yahudi sebagai perusak nilai-nilai tradisional. Antisemit yang berkembang secara massif ini memunculkan gerakan Zionis, yaitu Yahudi garis keras.


Tentu tidak semuaa Yahudi tergabung dalam gerakan Zionis internasional ini. Contohnya Samuel D. Levin, ayahnya Claire Levin yang menikahi Eko. Keluarga Levin bersikap netral terhadap Negara Israel, sangat menghargai perbedaan kepercayaan  agama. Mereka memang tokoh rekaan Umar Kayam, tapi saya kira menjadi referensi bagi kita untuk membuka mata betapa prasangka, kecurigaan, kebencian dan sejenisnya bisa diatasi secara dewasa dan berpikir kritis.

Comments