Pasar Rakyat di Tepi Jurang



Pasar Babakan tampak dari belakang

Pasar tradisional atawa pasar rakyat, siapakah orang desa yang tidak pernah bersinggungan dengannya? Bagi saya sendiri, pasar rakyat telah memasuki kesadaran saya sejak masa kanak. Pasalnya saya acap diajak ke sana oleh ibu saya untuk kulak barang dagangan. Ibu saya membuka warung di depan rumah kami, saban hari dia akan belanja kulakan di pasar rakyat. Saking kerapnya saya keluar masuk pasar rakyat untuk mencari barang dagangan, saya akrab dengan para pedagang di sana. Kegiatan menyusuri lorong-lorong pasar rakyat jadi terasa makin menyenangkan.  Berbagai aroma dari setiap lorongnya yang saya hirup langsung memberikan kenikmatan tersendiri; aneka rempah, sayur, buah, ikan asin, kuah soto dan berbagai wewangian kembang dan minyak wangi yang ada di los perlengkapan sesaji.

Deretan pedagang pasar di tepi sawah
Segala kenikmatan dan kesenangan berkenaan dengan pasar rakyat itu sudah lama pergi dari hidup saya.  Ketika saya dewasa, seperti semua orang desa, saya meninggalkan desa untuk mengejar impian di kota besar Jakarta. Sejak itulah saya makin jarang bersentuhan dengan pasar rakyat. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagian kaum urban seperti saya memilih pergi ke supermarket atau mal. Pilihan ini sejatinya bukan semata oleh kenyamanan berbelanja di mal dan supermarket, melainkan makin terpinggirnya pasar rakyat dari kota-kota besar. Kota besar secara sistematis menjauhkan warganya dari pasar rakyat. Kondisi ini lama kelamaan membentuk kesadaran dan pola hidup kaum urban bahwa tak ada tempat lain untuk berbelanja yang nyaman selain  mal dan supermarket. Keberadaan pasar rakyat seakan hilang dalam kesadaran kaum urban. Pasar rakyat menjadi sesuatu yang asing. Kaum urban kelas menengah bahkan tidak mengenal pasar rakyat kecuali melalui tayangan berita di televisi dan koran. Sialnya, pasar rakyat yang ditampilkan di sana seringnya berkenaan dengan kebakaran, kesemerawutan, kekumuhan, dan hal-hal lainnya yang memberi kesan negatif.  

Suasana Pasar Babakan
Rasa kangen saya terhadap pasar rakyat hanya dapat saya lunaskan saban pulang ke desa sekali  dua minggu atau sekali sebulan. Saya bersama Si Bungsu dan ibunya berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang membelah persawahan untuk mencapai pasar rakyat di desa saya. Letak pasar rakyat ini memang berada di tepi persawahan. Bangunannya pun terbuat hanya dari papan beratap asbes dan sebagian terpal yang diikatkan pada pucuk-pucuk tiang bambu secara seadanya. Dengan lokasinya yang bersisian langsung dengan daerah persawahan warga desa, saya membayangkan warga desa  dengan mudah melakukan ulang alik dari sawah ke pasar; dari petani ke penjual. Mereka tidak memerlukan perantara atau tengkulak.  Kenyataannya, hanya sebagian kecil saja yang berlaku seperti itu. Karena persawahan di sana sebagian besar telah diambil alih pemiliki modal besar. Semoga saja pasar rakyat di kecamatan saya ini hanya berada di tepi sawah, dan tidak sedang berada di tepi jurang kehancuran seperti dua pasar yang berada di dua kecamatan tetangga.

Jalan setapak yang menghbungkan desa, perswahan, dan pasar Babakan
Dua pasar rakyat di dua kecamatan yang mengapit kecamatan saya, telah digusur.  Para pedagang kini menggelar dagangannya di sisi-sisi ruas jalan raya yang menyebabkan kemacetan berlarat-larat. Pemerintahan setempat konon semula sudah bersepakat dengan pengembang untuk membangun pasar di atas pasar yang gusur. Namun hingga bertahun-tahun sejak penggusuran itu, lahan di bekas pasar tetap kosong. Tiang-tiang beton mangkrak bergelimpangan.  Konon dana yang sedianya untuk membangun pasar, digelapkan pemerintah setempat. Anehnya, tak ada koran daerah maupun pusat yang menulis perihal ini.

Siapa yang tidak gelisah melihat kenyataan ini? Padahal kita tahu, pasar rakyat bukan sekadar berdimensi ekonomi, tempat orang melakukan transaksi jual beli, lebih dari itu pasar rakyat adalah pusat aktivitas dan interaksi sosial antar warga desa dari berbagai lapisan dan strata sosial. Dengan demikian pasar rakyat tidak hanya mencerminkan karakteristik suatu daerah melainkan juga terbangunnya kebersamaan yang menjadi modal sosial  bagi bangsa ini menegakkan martabat dan kemandiriannya. 

Semoga saja Pemerintahan Presiden Joko Widodo yang konon punya perhatian besar kepada pasar rakyat, dapat membuktikan ucapanya.
Becak berbaris menunggu penumpang

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka