Menyelamatkan Spesies Langka



Model diperani oleh Erika Herman

Ia adalah seorang anak muda dengan segenap kesegaran fisik, gagasan, dan idealisme yang menggebu-gebu. Ia tinggal di sebuah desa di kaki bukit yang terpencil. Ia mengabdi menjadi perangkat desa dengan tekat memperbaiki sistem manajemen pemerintahan desa demi kebaikan kehidupan warga desa. Tapi kepala desa mengajaknya berlaku curang; memanfaatkan koperasi lumbung desa untuk kepentingan pribadi; mengakali dana pembangunan dari pusat sambil mengabaikan mBok Ralem, seorang warga desa yang mengidap kanker akut dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Menurut kamu apa yang harus ia lakukan? Menanggalkan ia punya idealisme, lalu bersekongkol dengan kepala desa supaya hidupnya selamat sejahtera dan mendapatkan segala kemudahan?

Pambudi, tokoh dalam novel Di Kaki Bukit Cibalak (Pustaka Jaya, 1986) karya Ahmad Tohari yang sedang saya baca ini, memilih meninggalkan desa. Saya kira ini pilihan paling realistis. Ia tidak mungkin kuat melawan mental dan budaya korupsi yang telah mengurat darah di dalam kesadaran kepala desa dan segenap perangkatnya. Langkah  Pambudi jelas bukan cerminan bahwa ia menyerah, sebaliknya merupakan bentuk perlawanan.  

Kades yang curang merupakan karakter umum yang hidup di tengah masyarakat kita; yang merasa berhak mengangkangi tanah milik desa sebagai milik pribadinya; yang merasa dia adalah raja dan rakyat berarti kaula yang harus patuh menjalankan perintah dan melayani kebutuhannya. Pulanglah ke desa bertanyalah kepada warga di sana, apa yang sudah dilakukan kades mereka. Mungkin di antara kita akan menemui kades yang baik, yang tahu bagaimana dan apa tugas pemimpin. Tapi kades yang serupa itu telah menjadi minoritas. Spesies langka. 

Sistem politik biaya tinggi yang kian subur belakangan ini, makin menepikan kades yang bersih, jujur, dan mau berkeringat untuk kesejahteraan rakyat. Pikirkanlah, bagaimana caranya seorang kades sanggup berlaku jujur dan bekerja benar untuk kesejahteraan warga desa apabila untuk meraih jabatan itu mereka harus mengeluarkan duit sampai ratusan juta? Melalui cara bagaimana perangkat desa tidak menjilat kepada kadesnya apabila untuk masuk ke sana harus nyogok sekian juta?      

Jalan perlawanan yang ditempuh Pambudi jelas mengandung banyak risiko. Yang paling ringan adalah difitnah atawa dibunuh karakternya. Dan itulah yang dialami Pambudi. Namun pengarang novel ini mengajak kita untuk bersimpati pada kejujuran yang perlahan menjadi mahluk asing dan aneh di negeri ini: Tidak semua masyarakat mempercayai fitnah yang dihembuskan Dirga, sang Kades Tanggir tukang kawin. Bambang, putra camat, tak terpengaruh fitnah yang ditebarkan Kades Tanggir; lelaki muda itu menaruh hormat yang besar kepada karakter Pambudi yang teguh memegang hati nurani.

Dengan uang tabungan hasil keringatnya sendiri Pambudi membawa mBok Ralem ke rumah sakit di Yogya. Atas bantuan koran Kalawarta di kota itu, Pambudi mengantarkan mBok Ralem ke meja operasi guna mengangkat kanker yang menggerogoti tubuhnya. Dan dengan begitu Pambudi tidak hanya menyelamatkan mBok Ralem dan anak-anaknya dari kehilangan ibu mereka, tapi telah mengembalikan salah satu fungsi media, yaitu fungsi sosial kemanusiaan.  

Novel tipis ini memberi kita tidak semata kenikmatan bahasa yang menyuguhkan alam pedesaan beserta karakter penghuninya yang begitu rinci dan kuat, tapi juga pesan kemanusiaan tanpa kehendak berkhotbah. Ketika Pambudi akhirnya menerima cinta Mulyani, seorang gadis Cina, kita tahu, pengarang yang terkenal berkat trilogi Ronggeng Dukuh Paruk ini tidak sedang berceramah tentang pembauran.  

Comments