Meretas Belenggu Patriarkhi


Model diperani oleh Dedi Kurniadi
Setelah sekian lama menahan-nahan, perempuan itu akhirnya menyatakan sikapnya bahwa dia tidak bisa melanjutkan rumah tangganya dengan lelaki itu. Lelaki itu, Tono, baru tiba dari rumah pamannya ketika istrinya menyatakan sikapnya. Perempuan itu mengambil sikap begitu karena suaminya berselingkuh. Tetapi si suami juga berkilah bahwa ia melakukan perselingkuhan karena istrinya tidak pandai membuatnya nyaman di rumah. Ketidaknyamanan itu berasal dari putusnya komunikasi antar keduanya. Putusnya komunikasi membuat persoalan-persoalan kecil jadi terus tertimbun dan akhirnya meledak ketika menemukan momennya yang tepat. Kebetulan momen tersebut adalah perselingkuhan yang dilakukan suami. 


Begitulah kira-kira secara sederhana kerangka novel Belenggu  (1938) besutan Armijn Pane.  Sungguhkah sesederhana itu? Novel ini pada masanya disebut-sebut sebagai pembaharu dalam jagat sastra Indonesia  (waktu masih Hindia Belanda).  Pembaharu karena mengetengahkan tokoh perempuan yang berani mengambil sikap. Kita tahu, perempuan pada masa itu (mungkin hingga sekarang) adalah pihak yang selalu manut, taat, bahkan takut kepada suami. Ia rela diperlakukan apa saja, termasuk dimadu, oleh suami. Sistem patriarkhi yang demikian kuat mencengkram membuat praktik polygami menjadi kewajaran. Dalam sistem patriarkhi lelaki adalah pusat sejarah; perempuan menjadi mahkluk kedua yang tersubordinasi.


Tokoh perempuan itu bernama Tini, seorang wanita karir, mantan aktifis  yang tampaknya memiliki kesadaran akan hak-haknya; kesadaran kesetaraan laki-laki dan perempuan. Bagi Tini, menjadi seorang istri bukan berarti harus selalu merunduk-runduk pada suami; ia tidak harus mencium tangan suami sebelum berangkat kerja, tidak harus meminta izin saat hendak  keluar rumah, tidak harus menyiapkan kopi dan duduk manis menunggu kedatangan suami; atau apabila ia melakukan ketaatan semacam itu maka suami juga harus melakukan hal yang sama. Pola serupa itu rupanya membuat Tono tidak nyaman. Maka ia mencari rasa nyaman yang hilang itu di tempat lain. Tempat lain itu adalah Yah; perempuan yang siap memposisikan diri sebagai pihak yang didominasi oleh Tono.


Jadi, tema besar novel produk era Pujangga Baru ini adalah pemberontakan terhadap sistem patriarkhi atawa perjuangan kesetaraan gender. Namun, tema besar ini seakan lesap  lantaran dalam cerita ini konflik muncul oleh mampatnya komunikasi antara Tono dan Tini. Apakah seandainya komunikasi mereka lancar mahligai rumah tangga mereka bisa tetap dilanjutkan? Rasanya juga tidak. Karena Tono berada dalam ‘pengaruh’ sistem  patriarkhi yang mengharuskan seorang istri merunduk-runduk dan taat pada suami. Dalam alam kesadaran masyarakat sistem patriarkhi, perempuan tidak boleh lebih cerdas, tidak boleh lebih berkuasa, tidak boleh mandiri dari laki-laki. Apabila itu terjadi, seorang laki-laki akan merasa terancam sehingga secara psikologi ia merasa tidak nyaman.

Tema keseteraan gender atau gugatan terhadap sistem patriarkhi  yang diusung ‘Belenggu’ agaknya tetap aktual hingga sekarang. Meskipun era modern, sistem patriarkhi tampaknya belum akan tergoyahkan. Artinya, perjuangan Tini akan menjadi perjuangan abadi kaum perempuan. 
Novel-novel tema serupa yang ditulis generasi pasca reformasi  dengan pelopornya antara lain Ayu Utami melalui novel ‘Saman’, mengekspresikan pemberontakan terhadap sistem patriarkhi dengan cara mengeksplorasi tubuh dan seksualitas mereka. Pilihan itu agaknya lantaran tubuh perempuanlah yang selama ini diserang laki-laki untuk menekan dan mendominasi perempuan.


Baiklah. Saya cukupkan bicara tema kesetaraan gender. Mari kembali kepada cerita dalam novel ‘Belenggu’.  Yah, perempuan di mana Tono menemukan kenyamanan dan mendapatkan superioritasnya sebagai laki-laki, adalah pacar lama Tono semasa ia itu kuliah di Bandung.  Yah menyamar sebagai Ny Eni dan menjadi pasien langganan dokter Sukartono.  Tono tidak pernah sadar apabila Ny Eni pacar masa remajanya apabila perempuan itu sendiri yang mengungkapnya. Ini yang terasa janggal. Berapa banyak  perempuan yang pernah mengisi hatinya sampai ia lupa pacar masa remajanya?

Armijn barangkali berlebihan. HB Jassin mengomentari ‘Belenggu’ antara lain seperti ini: Orang-orang yang dilukiskan dalam roman ini hampir-hampir menyerupai karikatur, karena terlampau dilebih-lebihkan; boleh jadi sengaja, boleh jadi juga tidak….Typis sekali keragu-raguan yang terbayang dalam jiwa segala pemain dalam roman ini…Bangsanya diperiksanya akan mengetahui rohaninya, akan menyelami batinnya…Cara penulis melukisakan gambarnya berlainan dengan cara yang sampai sekarang diturut orang. Dalam lukisannya itu bukan laku seorang yang dikemukakannya, melainkan pikirannya dan semangatnya…caranya mengarang suggestief … (Pudjangga Baru, Desember 1940).


Sementara, Tini sendiri punya hubungan  Hartono, teman kuliah Tono. Hartono yang dianggap telah meninggal mendadak muncul di kala hubungan perkawinan Tini dengan Tono diambang kehancuran.  Setelah mengambil sikap menyudahi perkawinannya dengan Tono, Tini agaknya akan mengejar cinta masa lalunya bersama Hartono. Demkian pula Tono, ia akan selekasnya meresmikan hubungannya dengan Siti Hayati atawa Yah. Sayangnya, Siti Hayati justru pergi meninggalkannya. Perempuan itu rupanya enggan memiliki Tono dalam kenyataan. Hmmm orang dulu pun ternyata rumit yah…

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka