Monyet Keseratus

gambar dicomot darikitamanusiakelana.blogspot.com


Liburan sekolah kali ini aku melunasi janji mengajakmu berdarmawisata ke Pelangon. Sejak lebaran tahun lalu kamu merengek minta diajak ke tempat wisata yang terletak di kaki perbukitan dan dinaungi rindang pohonan yang di dalamnya terdapat 99 ekor monyet. Hanya 99 ekor, dan selalu 99 ekor jumlah monyet yang berada di sana sejak ratusan tahun lalu. Tidak kurang tidak lebih. Begitulah yang kamu dengar dari orang-orang. Dan itu membuatmu begitu penasaran, mengapa jumlahnya tidak bertambah tidak pula berkurang selama ratusan tahun.

“Kenapa jumlah mereka hanya 99 ekor dan terus 99 ekor, Ayah?” kamu bertanya dengan menggebu-gebu. Betapa sukar menjelaskan bahwa apa yang dikatakan orang-orang itu hanya mitos. Berbulan-bulan aku mencari informasi mengenai kebenaran jumlah monyet yang ada di Pelangon. Aku tidak ingin kamu ikut-ikutan mempercayai begitu saja setiap omongan orang, apalagi yang menyangkut angka. Ternyata tidak mudah mencari informasi yang betul-betul dapat dipercaya dan masuk akal, tepatnya aku selalu kehabisan waktu hingga liburan sekolah tiba. Aku tak mungkin menunda keingianmu. Tak tega menatap wajahmu yang mengiba.     

Kamu menggeleng kuat-kuat  ketika aku menyebutkan museum Linggarjati atau pemandian air hangat di Sangkanhurip. “Bosan, Ayah, kita sudah pernah ke sana waktu lebaran kemarin,” sergahmu setengah berkilah.

“Aku ingin ke Pelangon, Ayah. Melihat monyet-monyet itu. Kata orang-orang, mereka memang bukan monyet biasa.” Kamu terus bicara tentang monyet-monyet itu. Aku selalu berusaha mengalihkan perhatianmu karena aku belum menemukan informasi yang benar untuk menjawab pertanyaanmu kecuali mitos-mitos itu. Kamu terus mengejarku apabila kukatakan bahwa monyet di sana jumlahnya lebih dari 99 ekor karena mereka terus berkembang; ada yang mati ada pula yang lahir. “Mana mungkin monyet-monyet itu tak mati-mati selama ratusan tahun?” kataku mencoba menjelaskan dengan logika yang benar. Namun, kamu berkeras bahwa mereka telah menghitungnya dan jumlahnya memang 99 ekor.

“Monyet-monyet itu memang ada yang mati dan ada yang lahir, Ayah. Namun jumlah mereka tetap  99 ekor. Setiap ada yang mati, maka akan segera ada yang lahir untuk menggantikan yang mati.” katamu seolah telah menghitungnya sendiri. Kamu kemudian akan menceritakan kembali kisah yang kamu dengar dari orang-orang. Monyet-monyet itu dulunya manusia. Mereka adalah prajurit kesultanan Cirebon yang dikutuk lantaran berkhianat. Berkhianat seperti ibumu, kataku dalam hati.

Kini aku membawamu ke Pelangon. Hanya berdua. Perempuan yang kamu sebut ibu telah meninggalkan kita entah ke mana. Mungkin sekarang ia telah jadi monyet. Kamu terlihat gembira sekali. Begitu turun dari angkutan kota kamu melonjak-lonjak gembira. Menunjuk-nunjuk gerbang taman wisata Pelangon. Menarik-narik tanganku yang masih menunggu uang kembalian dari kernet angkutan. Berganti-ganti kamu menatap wajahku dan membaca tulisan di pintu gerbang, seakan tidak yakin inilah taman wisata Pelangon yang kamu impi-impikan. Kamu langsung menghambur masuk ke dalam sebelum porter karcis merobek karcis yang aku sodorkan. Tertawa-tawa melihat monyet-monyet yang bermunculan dari balik rerimbun pohon, berlompatan dari cabang-cabang pohon menghampirimu seakan menyambut gembira kedatanganmu. Hanya padamu, mengabaikan pengunjung yang lain. Seakan kamu adalah pengunjung istimewa yang lama mereka tunggu-tunggu.

Monyet-monyet itu dengan sigap menangkap pisang dan kacang-kacangan yang kamu lempar ke arah mereka. “Lihat, Ayah, mereka lucu-lucu.” Matamu berbinar-binar bersitatap dengan mata monyet-monyet itu. Mata mereka seakan menatapmu penuh perasaan haru, perasaan rindu setelah lama tak bertemu. Aku segera menarik tanganmu. Mengajakmu mendaki ke atas bukit.

Monyet-monyet, itu terus menguntit kita berjalan ke tempat yang lebih tinggi. Suara begitu riuh seperti meminta perhatianmu. Berkali-kali kamu berhenti dan memberikan lagi pisang dan kacang-kacangan. Kamu membelai-belai monyet yang paling lucu dan bertubuh paling mungil. “Ayah, bagaimana caranya menghitung jumlah mereka?” katamu membuatku sedikit terkejut.

“Kamu mau menghitung jumlah mereka?”

“Ya, Ayah. Apakah jumlahnya tetap 99 ekor?” 

“Sudah pasti tidak tepat 99 ekor, Punang. Mungkin sekali lebih. Lihat saja mereka banyak sekali. Lihatlah, di setiap cabang pohon ada yang bergelantungan dan berayun-ayun. Kita nggak akan bisa menghitungnya,” kataku seraya menarikmu menjauh dari seorang nenek yang kelihatannya siap membantu menjawab pertanyaanmu. Nenek itu tampaknya seorang pawang  monyet atau setidaknya bertugas menjaga monyet-monyet di Pelangon ini. Aku tak ingin kamu mendengarkan dia memperpanjang mitos-mitos tentang monyet itu. Tidak bagus untuk pikiran warasmu, untuk cara kerja logikamu.

Kini kita berada di dataran paling tinggi dari bukti ini. Duduk di gundukan batu. Monyet-monyet itu sebagian masih menguntit kita. Bahkan seekor yang paling mungil meloncat ke pangkuanmu. Kamu sejenak kaget kemudian tergelak senang sekali. Monyet kecil itu dengan manja merebahkan kepalanya ke tubuhmu .Sementara monyet yang lebih besar meraih kepalamu, kemudian mencari kutu di kepalamu. Ini seharusnya jadi pemandangan yang lucu, namun entah kenapa membuatku berdebar-debar. Dilanda kekhawatiran yang tak masuk akal; mereka merebutmu dariku seperti anjing-anjing itu merebut ibumu.

Ketika hari mulai rembang, setelah kita menghabiskan semangkuk empal gentong di warung-warung tenda yang ada di sekitar taman wisata  kamu berkata ingin membawa monyet satu ekor saja. Kukatakan bahwa perbuatan itu tak akan diizinkan petugas taman wisata. Wajahmu tampak murung sekali. 

“Aku sayang sekali monyet itu, Ayah, kasihan dia gak ada orang tuanya” katamu. Lalu aku memberikan pemahaman padamu bahwa monyet itu tidak akan bahagia apabila dipisahkan dari habitat dan teman-temannya.

“Kalau kamu sayang sama mereka, biarkan dia hidup di sini.”

Namun aku sungguh terkejut setengah mati manakala sampai rumah, monyet mungil itu muncul dari dalam tasmu. “Bagaimana kamu bisa membawanya, Punang?” pekikku tak habis mengerti.

“Aku nggak tahu, Ayah,” katamu, takut sekaligus gembira secara bersamaan, “aku tidak tahu siapa yang memasukkan monyet ini ke dalam tas,” katamu seraya menyambut tangan monyet itu yang menggapai-gapai tanganmu.  Ketika kamu tengah bergembira mendapatkan monyet itu, ponselku berbunyi.

“Tolong jaga monyet itu. Itu monyet keseratus. Di Pelangon hanya boleh ada 99 ekor monyet! Aku percaya anakmu bisa memelihara monyet itu dengan baik.” Itu adalah suara si Nenek penjaga monyet di Pelangon. Semoga monyet ini bukan penjelmaan ibumu.


Gondangdia, Agustus 2014 

Cerita di atas pernah disiarkan Tirbun Jabar, Minggu 11 Januari 2015

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka