Beragam Cara Menikmati Puisi



Model diperani oleh Efry

Apa sebenarnya makna kata-kata dalam puisi ini? Pertanyaan serupa ini rasanya teramat sering kita dengar ketika bercakap-cakap tentang puisi. Pertanyaan semacam itu didorong oleh rasa penasaran bagaimana rangkaian kata yang susah dipahami itu ditulis, kemudian disebut puisi. Pertanyaan biasanya akan berlanjut, apakah puisi harus selalu menggunakan simbol-simbol? Kenapa pula penyair menulis puisi dengan menggunakan simbol-simbol yang jarang ditemui dalam percakapan sehari-hari. Ngapain juga pembaca merasa terdorong untuk memahami puisi yang ditulis penyair?
Pertanyaan-pertanyaan inilah barangkali yang menjadi pertimbangan Sapardi Djoko Damono ketika menyusun buku Bilang Begini, Maksudnya Begitu (Gramedia, 2014). Bagi Sapardi, pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap puisi. Tidak semua puisi menggunakan simbol-simbol, dan memang tidak harus. Ada puisi yang lugas dalam menyampaikan pesannya, ini jenis yang disebut pamphlet atau balada. Ada pula puisi yang getol bermain dengan simbol-simbol. Sehingga pembaca seperti dipaksa untuk berpikir keras menafsir demi menguak makna yang ada di balik kata-kata yang digunakan penyair. Dalam menafsirkan simbol-simbol setiap orang akan sangat mungkin menghasilkan atau mendapatkan makna yang berbeda satu sama lain atas puisi yang sama.
Apakah hanya kepada puisi orang terdorong untuk menafsirkan? Rupanya tidak. Dalam kehidupan sehari-hari kita juga acap dihadapkan pada situasi untuk menafsir, misalkan terhadap kalimat-kalimat dalam iklan, kalimat-kalimat dalam resep dokter, atau kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut politisi, bahkan dalam ungkapan sehari-hari. Mungkin kita sering mendengar kalimat buah hati, makan hati, atau buaya darat untuk lelaki yang gemar menipu perempuan.  
Jadi, adanya godaan untuk mengusut makna yang tersembunyi dalam sebuah sajak, bukanlah sesuatu yang dibuat-buat, tetapi merupakan suatu proses yang wajar. (hal.50). Seperti beragamnya jenis dan bentuk puisi, beragam pula cara menikmati puisi. Menafsirkan makna puisi di balik rangkaian kata-katanya yang dipenuhi simbol hanya salah satu cara. Dalam buku ini Sapardi mencoba memetakan aneka cara tersebut. Sapardi tampak tidak sedang menjelaskan mana yang benar dan yang tidak, karena memang tidak diperlukan penghakiman dalam kerja penafsiran.
Kita bisa menikmati puisi melalui bentuk dan tampilan visualnya. Misalkan ada puisi yang tampil dengan rangkaian kata-katanya menggambarkan bentuk-bentuk tertentu, baik menyerupai sebuah benda, maupun larik-lariknya yang disusun sedemikian rupa sehingga terlihat unik, setidaknya berbeda dengan larik-larik dalam penulisan berita atau prosa. Ada pula puisi yang dapat dinikmati melalui bunyi yang dihasilkannya manakala kita baca.  
Yang paling umum barangkali adalah menikmati puisi melalui makna atau pesan yang ingin disampaikan penyair—sehingga pembaca acap dibuat penasaran sekaligus kesal apabila tidak bisa menafsirkan. Puisi-puisi balada Rendra merupakan contoh puisi yang gampang dinikmati. Semua orang dapat mengikuti secara langsung tanpa perlu berpikir untuk menafsir. Demikian pula terhadap puisi-puisi jenis prosaik seperti pada puisi Pengakuan Pariyem Linus Suryadi. Kita bisa merasakan pengalaman penyair yang geram terhadap ketimpangan sosial, menertawakan atau mengejek situasi atau peristiwa dalam kehidupan. Menikmati kecermerlangan penyair memanfaatkan kata-kata untuk menguak kebusukan, misalnya. Mendapatkan wawasan dan kekayaan batin.
Adakah teori-teori khusus atau kaidah-kaidah tertentu untuk menafsirkan puisi? Jawabannya tentulah ada. Namun apakah ada keharusan menggunakan teori-teori atau kaidah-kaidah tersebut untuk menafsirkan dan menikmati puisi? Jawabannya tidak ada yang mengharuskan. Setiap orang berhak menikmati puisi dengan caranya masing-masing. Bahkan, apabila sebuah puisi yang dipenuhi simbol namun dapat dinikmati cukup melalui rangkaian kata-katanya yang indah sehingga membuat hati pembaca senang dan terhibur, tentu sah-sah saja. Inilah justru keistimewaan yang melekat pada ‘mahluk’ yang bernama puisi. Inilah pula barangkali yang membuat puisi disebut-sebut puncak budaya tulisan.  Salah satu tugas penyair melalui puisi yang diciptakannya adalah menciptakan bahasa dan ungkapan baru, menghindar klise, menjauh dari bahasa yang sudah lecek karena sudah begitu sering dipakai. Bagi Sapardi, itulah hakikat puisi.
Melalui buku tipis ini Sapardi tidak hanya mengajak orang menikmati puisi melalui cara yang beragam, tapi juga menekankan bahwa penyair bukanlah kiai, bukan pendeta, bukan juru dakwah, dan bukan guru budi pekerti seperti yang dibayangkan atau yang dicitrakan memiliki keistimewaan layaknya nabi. Penyair adalah orang yang menyusun karangan untuk menanggapi berbagai masalah kehidupan. (hal 87) 
Melalui puisi-puisi yang diambil sebagai contoh, Sapardi secara ringkas membentangkan sejarah kelahiran puisi sejak manusia menemukan bahasa secara indah,  jernih, enak dinikmati bahkan serupa puisi itu sendiri. Sayangnya, contoh-contoh yang disodorkan Sapardi terlalu sedikit. 
data buku

Judul              : Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Penulis            : Sapardi Djoko Damono
Penerbit           : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan            : I, 2014
Tebal              : 138 halaman
ISBN               : 978-60203-1122-7
 resensi ini awalnya disiarkan Kedaulatan Rakyat, Minggu 1 Februari 2015.

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka