Diponegoro

Mereka turun dari sedan yang diparkirkan di sisi gedung pameran. Mereka adalah wajah-wajah dengan kesegaran masa remaja yang penuh gairah dan mengabarkan kehidupan yang makmur sejahtera. Baju dan sepatu bermerek yang mereka kenakan tanpa sungkan mengatakan itu. Dengan ceria dan bercanda-canda khas remaja mereka masuk ke bangunan utama galeri. Berdiri mengantri dengan tertib untuk melakukan registrasi, kemudian menunggu giliran masuk ruang pameran. Di ruang pameran dengan antusias mereka menyimak Dr Peter Carey, tour guide sekaligus kurator pameran “Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh Hingga Kini ”.


Pameran itu berlangsung 6 Februari hingga 8 Maret di Galeri Nasional, Jakarta. Saya bersama seorang kawan datang ke sana pada Sabtu (7/2) dan menyaksikan dengan takjub remaja-remaja yang terlihat begitu riang gembira mengunjungi pameran lukisan. Pemandangan ini bagi saya telah membantah keluhan nyinyir sementara orang bahwa remaja kita lebih gandrung menghabiskan waktu di mal ketimbang ke museum dan menikmati pameran lukisan, apalagi yang bertema sejarah.

Baiklah, kita lupakan saja para pengeluh nyinyir itu. Mari kita nikmati lukisan legendaris Diponegoro karya maestro Raden Saleh Sjarif Boestaman (1807-1880) berjudul ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ yang menjadi fokus pameran. Selaras dengan judulnya, lukisan ini menafsir penangkapan pengobar Perang Jawa itu oleh Jenderal De Kock  secara curang. Lukisan Raden Saleh ini konon mengejek lukisan karya JW Pieneman, seorang Belanda, berjudul ‘Penaklukan Dipanegara’.  Selain karya Raden Saleh, dipamerkan karya seniman-seniman Indonesia ternama seperti Soedjono Abdullah, Harijadi, Sumodidjojo, Basoeki Abdullah, Sudjojono, Hendra Gunawan hingga seniman-seniman kontemporer seperti Srihadi Soedarsono, Heri Dono, Nasirun, Entang Wiharso dan banyak lainnya, yang menyajikan pendekatan masing-masing terhadap figur Diponegoro.
Kita tahu, Pangeran Diponegoro adalah putra Sultan Hamengku Buwono III, raja Yogyakarta. Sang Pangeran membenci sifat rakus saudara-sauadaranya berebut kekuasaan. Maka dia memilih meninggalkan istana dan bergabung dengan rakyat mengobarkan peperangan paling dahsyat yang membuat Belanda kewalahan.
Perang yang dikobarkan Pangeran Diponegoro menyebabkan kerugian 20 juta Golden (apabila dikonversikan dengan Rupiah saat ini sekitar 2 triliun) di pihak Belanda. Itulah yang membuat pemerintah kolonial Belanda geram dan frustrasi. Belanda tak mampu menaklukan Sang Pangeran kecuali dengan cara curang melalui penangkapan yang dilakukan dalam operasi militer tentara Belanda pimpinan Jenderal De Kock.  Kisah sejarah perang Diponegoro itu dipentaskan pula pada kesempatan yang sama di ruang teater Galeri Nasional. Pentas  dengan model minimalis berdurasi kurang dari 30 menit itu menghidupkan Sang Pangeran di benak penonton yang sebagian besar remaja itu.
Pemainnya hanya lima orang, drama Pangeran Diponegoro dituturkan oleh Gentayu, kuda perang Sang Pangeran. Jujur saja, saya langsung amblas dalam atmosfer keharuan Gentayu ketika ia menuturkan rasa kehilangannya. Sang majikan yang sangat dicintainya itu ditangkap militer Belanda. Bersama para remaja itu, saya hanyut dalam sejarah perang Pangeran Diponegoro. Para remaja gaul Jakarta ini sangat beruntung dapat menikmati  pementasan dan pameran lukisan bertema sejarah seperti ini. Rekan-rekan mereka di desa-desa terpelosok mengenal Pangeran Diponegoro hanya melalui poster-poster pahlawan nasional di dinding kelas atau buku-buku pelajaran sejarah yang ditulis dengan cara membosankan. Seperti saya dulu, mustahil mustahil mengenal sosok Diponegoro melalui peristiwa kesenian bermutu ini, secara gratis pula.  

Comments