Ironi Perang, Perempuan, dan Peradaban Manusia

Model diperani oleh Nindya
Perang telah menjadi bagian tak terelakan dari sejarah panjang peradaban manusia. Perang berperan besar dalam membentuk dan menggulirkan wajah kebudayaan. Sejarah mencatat, perang telah memunculkan dan menenggelamkan bangsa-bangsa di panggung sejarah. Hampir tak ada bangsa yang luput dari peperangan dalam proses mengadanya atau meniadanya. Perang selalu melahirkan pihak pemenang dan pecundang, pahlawan dan bandit. Kekuasan menjadi motif utama berkobarnya perang. Maka tak pelak, perang selalu membuahkan kehancuran bagi pemenang maupun pecundang, menyisakan kenangan pedih dan trauma yang tak mudah lekang dalam ingatan semua pihak yang terlibat. Republik Rakyat Tiongkok—belakangan memiliki kekuatan ekonomi dan militer yang membayangi-bayangi negara adidaya Amerika Serikat—seperti negara-negara lain, pernah tercebur dalam peperangan yang dahsyat.

Sorgum Merah novel besutan pengarang nobelis dari China, Mo Yan, mendedah peperangan dahsyat yang mencabik-cabik rakyat Tiongkok. Namun, di tangan pengarang bernama asli Guan Moye ini, perang dahsyat tidak hanya melahirkan kisah panjang tentang, kekejaman, penderitaan, dan proses dehumanisasi lainnya—termasuk ambivalensi pahlawan dan bajingan, melainkan juga memiliki romantismenya sendiri. Sorgum Merah merangkum kisah tiga generasi yang terlibat dalam peperangan yang mengguncang daratan China pada era1920-1930. Dituturkan oleh aku, generasi ketiga yang mengisahkan sang ayah (Douguan), sang nenek (Dai Fenglian), dan  sang kakek (Yu Zhan’ao) yang terlibat dalam peperangan liar; yang tidak hanya menghadap-hadapkan rakyat Tiongkok dengan penjajah Jepang, tapi juga saudara sebangsa.

Melalui aku sebagai penutur, Mo Yan mengisahkan betapa dalam kondisi perang liar semacam itu orang tidak hanya kehilangan kepercayaan pada siapa pun, termasuk kepada masa depan, tapi juga setiap orang menemukan wajahnya yang sejati. Perang meletakkan pihak-pihak yang terlibat di dalam posisi yang ambigu, berwajah pahlawan sekaligus bajingan. Aku, si penutur novel, ketika menziarahi makam leluhurnya, mengalami situasi penuh kegamangan semacam itu.       

Novel dibuka dengan bergabungnya Douguan dalam kelompok bersenjata pimpinan Yu Zhan’ao di Kabupaten Gaomi Timur Laut. Douguan baru menginjak usia 15 tatkala ia harus masuk menjadi anggota Kelompok Besi, kelompok bersenjata pimpinan ayahnya. Operasi pertama yang diikuti Douguan adalah menyergap konvoi tentara Jepang di Jalan Raya Jio-Ping. Pada masa masuknya invasi Jepang ke Cina, kelompok bersenjata pimpinan mantan perampok Yu Zhan’ao, tidak hanya menjadi kelompok bersenjata yang gigih mengusir penjajahan Jepang, tapi juga saling bantai dengan Resimen Jiao-Goa, saudara sebangsanya.  Alih-alih bersatu melawan Jepang, Yu Zhan’ao bahkan menolak menyerah kepada Datasemen Leng yang menjanjikannya menjadi komandan batalion. Sikap arogan Zhan’ao agaknya tidak hanya didorong oleh rasa percaya diri yang tinggi akan kemampuannya mengusir Jepang dan ambisinya menjadi pahlawan nasional, tapi juga upaya untuk mengambil hati Dai Fenglian. Ladang sorgum menjadi saksi pembantaian yang tidak hanya memperkuat latar kisah tapi juga karakter tokoh-tokohnya dan simbol kekejaman perang yang menciptakan kelaparan bagi rakyat banyak.

Dai Fenglian bersama Yu Zhan’ao, pria yang memperkosa dan menculiknya dari suami sahnya Shan Bialang yang mengidap lepra, terlibat dalam petualangan cinta mereka sekaligus mengejar ambisi menjadi pahlawan bagi Kabupaten Gaomi Timur Laut. Anak haram mereka Douguan dalam usia belia turut dalam peperangan demi peperangan; Douguan melihat segala bentuk kekejaman dan kekejian perang berlangsung di depan matanya, bahkan ia menjadi bagian darinya. Hingga membentuk jiwa dan kesadarannya; membunuh agar tidak terbunuh.Ia menyaksikan kerabatnya satu persatu meregang nyawa dalam peperangan di tengah ladang sorgum: Paman Arhat Liu, Bibi Liu, dan orang-orang terdekat yang cintanya. Namun dalam kecamuk perang itu pula Douguan bertemu dengan Cantik, perempuan yang kelak melahirkan anak-anaknya.

Dai Fenglian, anak durhaka itu melegenda sebagai  pahlawan nasional; perempuan pemberani penggerak perlawanan; pelopor pembebasan seksual perempuan dan menjadi panutan kemerdekaan kaum perempuan. Melalui Dai Fenglian, Mo Yan tampaknya memberi perhatian khusus pada sepak terjang perempuan, khususnya Dai Fenglian. Mo Yan memperlihatkan upaya menjebol segregasi jender yang  masih ketat di China melalui karakter tokoh-tokoh perempuannya. Dai Fenglian bukan hanya menjadi perempuan pelopor menggerakkan perlawanan, tapi juga turut memacu semangat dan motivasi para laki-laki mempertahankan wilayahnya dari penjajah dan kelompok bersenjata yang menjadi antek penjajah. Perang telah menjadi arena yang ampuh bagi Dai Fenglian untuk memproklamasikan kesetaraan jender.

Novel ini bergerak dengan alur maju mundur dalam tempo yang cepat sehingga terkesan belok sana belok sini, tubruk kanan kiri secara serampangan. Apabila tidak hati-hati, pembaca akan sedikit bingung untuk menangkap pergerakan alurnya. Sebagai pembaca kita memang dapat merasakan kerja keras penerjemah dan penyunting novel yang telah diangkat ke layar lebar oleh sineas kenamaan Cina, Zhang Yimou dengan aktor andal Gong Lie dan Jiang Wen.      

Judul: Sorgum Merah
Penulis: Mo Yan
Penerjemah: Fahmy Yamani
Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta
Cetakan I: September 2014
Tebal: 543 Halaman

pernah disiarkan Lampung Post, Minggu 1 Februari 2015

Comments

Popular posts from this blog

Harga Buku Langka