Kiamat Telah Lewat



Model dibawakan oleh Ayu Purnama

Mari saya ingatkan lagi, tahun 2012 pernah diramalkan menjadi tahun berakhirnya sejarah bumi, alias kiamat. Ramalan menggemparkan itu berdasarkan sistem penanggalan Tahun Maya, penanggalan yang digunakan Suku Maya di Amerika Serikat.  Hollywood bahkan kemudian memfilmkan kiamat yang diramalkan dengan visualisasi yang begitu meyakinkan berjudul  angka tahun 2012—Hollywood memang jagonya dalam memvisualkan imajinasi paling liar. Saya ingat, sulung saya dengan cemas bertanya  kebenaran ramalan ini. Dia terlihat begitu kecewa ketika mendapat jawaban saya yang tidak memberi kepastian: bisa iya bisa tidak.

Saat ini kita berada di tahun 2015. Bumi masih baik-baik saja, setidaknya masih mampu menahan bebannya yang terus bertambah sarat. Ia masih berputar mengitari orbitnya sejak entah berapa miliar tahun yang lalu. Ramalan kiamat, saya ingat, tidak hanya pada angka tahun 2012, (tepatnya 12-12-2012) tapi juga pada angka 1999 (tepatnya 9-9-1999). Ingatan tentang ramalan terjadinya kiamat menyambangi kepala saya gara-gara saya membaca novel Balthasar’s Odyssey, Nama Tuhan yang Keseratus besutan pengarang Lebanon Amin Maalouf.    

Baldassare  Embriaco, seorang saudagar buku keturunan Genoa asal Gibelet, Lebanon, melakukan perjalanan hingga nyaris mengelilingi separuh bumi demi mencari dan mendapatkan kembali kitab Mazandarani, sebuah kitab yang memuat nama Tuhan yang keseratus,  yang telah ia jual kepada Chevalier de Marmontel, seorang bangsawan Paris. Dalam kitab Al Quran, kita mengenal nama-nama (sifat) Tuhan yang berjumlah 99. Nama Tuhan yang keseratus yang terdapat di dalam Kitab Mazandarani dipercaya dapat menyelamatkan bumi dari kiamat yang kian mendekat.

Kisah ini berlatar abad ketujuh belas, ketika Kesultanan Turki Usmani sedang berjaya menduduki hampir seluruh wilayah Eropa dan Asia. Perjalanan Embriaco mengarungi nyaris separuh bumi ditemani sejumlah keponakan dan pembantu setianya, serta seorang janda bernama Martha. Perempuan ini ikut dalam perjalanan dengan tujuan berbeda, yakni hendak meminta surat resmi terkait status jandanya kepada pemerintah Kesultanan Turki Usmani  di Konstantinopel. Bayangkan, seorang perempuan menempuh perjalanan jauh dan penuh bahaya demi minta surat resmi status janda yang disandangnya kepada pemerintah Kesultanan Turki Usmani…  duh, perempuan selalu menjadi mahluk yang dilemahkan.

Dalam perjalanan Embriaco mengalami begitu banyak peristiwa seru, mulai dari tumbuhnya perasaan cinta kepada Martha lengkap dengan percintaan mereka yang membara dan penuh drama; dikejar-kejar tentara Turki Usmani lantaran dianggap penyebar isu yang meresahkan masyarakat; hingga pertemuannya dengan Gregorio, orang Genoa yang sangat menghormati yang menganggap Embriaco sebagai keturunan bangsawan Genoa. Kau tahu, Genoa adalah wilayah di Skandinavia yang ditundukkan kekuatan tentara Turki Usmani.

Embriaco gagal menyunting Martha (inilah barangkali sebenar-benar kiamat bagi Embriaco) karena janda itu bertemu suaminya  yang telah menjadi saudagar di Konstantinopel.  Embriaco pulang kembali ke Gibelet dengan perasaan hampa meskipun ia berhasil mendapatkankembali kitab Mazandarani. Kiamat yang diramalkan tidak pernah terjadi. Tapi bukan karena Embriaco mampu memecahkan kode-kode nama Tuhan yang keseratus yang terdapat di kitab itu. Dan hal itu tampaknya memang bukan menjadi hal yang penting betul di dalam novel ini.  Ibarat film, Balthasar’s Odyssey, Nama Tuhan yang Keseratus adalah road movie, sebuah film yang merekam perjalanan tokoh-tokohnya. Peristiwa perjalanan fisik, di luar motifnya, bagi saya selalu menjadi sesuatu yang menarik. Karena kita akan menemukan pemandangan, orang-orang, adat budaya, dan lain sebagainya yang begitu beraneka.    

Semakin jauh perjalanan semakin menarik peristiwa yang akan kita temui. Peristiwa itu bisa berupa benturan antaragama dan peradaban, serta kronik sejarah yang kaya.  Itulah kiranya yang disajikan Maalouf kepada saya melalui novel yang ditulis dengan teknik catatan harian ini. Tentu kenikmatan menikmati perjalanan bersama Embriaco tak akan pernah terjadi tanpa kerja penerjemah yang ciamik atas novel ini ke dalam bahasa Indonesia yang dilakukan oleh Atta Verin serta disunting oleh Anton Kurnia.

Comments