Mengelak dari Kebuntuan

Model diperani oleh Wigih Febi Triana
Mendengarkan cerita dan menuturkan cerita rupanya menjadi kebutuhan setiap orang. Tengoklah, saban hari orang perlu menonton tivi, membaca koran, buku, kitab suci, tulisan-tulisan yang berseliweran di media sosial. Bukankah mereka tengah memenuhi  kebutuhannya mendengarkan cerita? Berita, baik dalam bentuk tayangan, suara, maupun teks, informasi selebritas, kasus-kasus kriminal, sinetron, iklan, obrolan di warung kopi, semua itu pada dasarnya adalah cerita. Bentuk dan medianya saja yang berbeda.
Setelah kebutuhan mendengarkan cerita terpenuhi, orang butuh menuturkan cerita dan butuh didengarkan. Tentu saja bisa sebaliknya. Kedua kebutuhan ini bisa datang secara bersamaan, berpilin berkelindan. Era media sosial seperti sekarang orang dengan mudah mendapat cerita dan memperoleh media untuk bercerita.  Kita bisa menuliskan apa saja yang kita rasakan di media sosial dan pada saat bersamaan kita bisa mendengar dan mendapatkan cerita yang kau sukai di sana. Bayangkan kau hidup pada, jangan jauh-jauh, tahun 90-an saja. Kau tidak mendapatkan kemudahan semacam itu.
Pada masa-masa itu, ketika kita tidak mempunyai kawan pendengar ceritamu, kita mungkin akan menuliskannya dalam buku harian atau hanya mengoceh saja sendirian di depan tembok kamar atau bantal guling. Mereka yang tidak bisa dengan cara itu karena dianggap membahayakan kesehatan jiwa, tentu hanya akan memendamnya di dalam hati. Semua upaya itu dilakukan untuk mengelak dari kebuntuan. Dalam novel ‘Perempuan Batu’  (Serambi, 2008) karangan Tariq Ali, novelis terkemuka Inggris kelahiran Pakistan, tokoh-tokohnya mencurahkan perasaannya dengan bercerita kepada patung perempuan batu. Baik cerita gembira, kesedihan, keluh kesah, segala rahasia ditumpahkan di depan patung perempuan batu.
Melalui cerita-cerita yang dituturkan para tokohnya kepada patung perempuan batu, alur novel berlatar saat-saat keruntuhan Kesultanan Utsmaniyah –kekhalifahan Islam terakhir sepanjang sejarah –ini bergerak dan mengalir hingga ke masa berabad-abad silam. Patung perempuan batu itu berada di salah satu sudut istana pengasingan Yusuf Pasha, seorang pembesar di istana Kesultanan Istanbul. Yusuf Pasha diasingkan lantaran mengkritik Sang Sultan dan meramalkan kebesaran Kesultanan Turki Usmani diambang keruntuhan.
Kesultanan Turki Utsmani, kita tahu, oleh sebagian umat Islam dianggap representasi kelanjutan sistem kekhalifahan yang pernah dibangun Nabi Muhammad pada masa-masa awal peradaban Islam. Dalam pemahaman semacam itu Sang Sultan adalah wakil Tuhan di bumi yang harus dipatuhi segala sabdanya. Mereka yang menolak Sang Sultan sama artinya dengan menentang perintah Tuhan. Benarkah demikian? Rupanya tidak. Nabi Muhammad ketika menjelang wafatnya tidak pernah berwasiat meneruskan kekhalifahan. Artinya, ketika, empat khalifah  yang dikenal dengan Khulafaur Rasidin meneruskan sistem kekhalifahan adalah inisiatif mereka sendiri dalam merespons kebutuhan pada masa itu.
Sejarah mencatat, keempat khalifah tersebut mengembangkan sistem kekhalifahan sesuai kebutuhan zaman, tidak bisa sama persis dengan yang dibangun oleh Nabi Muhammad karena memang kebutuhan zaman yang berbeda. Kekhalifahan bukanlah tujuan, ia hanya alat untuk mencapai keadilan, kesetaraan, sejahteraan.
Tamim Anshari, sejarawan dunia kelahiran Afghanistan dalam buku ’Dari Puncak Bagdad, Sejarah Dunia Versi Islam (Zaman, 2015) secara rinci mendedah bahwa, ketika Abu Bakar mengumumkan dirinya sebagai khalifah menggantikan Muhammad, Ali, sepupu dan menantu Nabi, tidak sepenuhnya menerima. Ada yang mengatakan, butuh waktu berbulan-bulan bagi Ali untuk akhirnya bisa menerima kepemimpinan Abu Bakar demi persatuan umat. Ketika Usman kemudian naik menggantikan kepemimpinan Umar Bin Khattab, sistem kekhalifahan terus berkembang. Pada masa Khalifah Usman, fokus pada penguatan ekonomi yang melahirkan kelas-kelas menengah yang kaya raya. Pada masa inilah muncul ketidakpuasan di sebagian rakyat yang berpuncak pada terbunuhnya Utsman. Ali yang kemudian menggantikan Usman mendapat tantangan yang berat dari Muawiyah, Gubernur Mesir, yang haus kekuasaan. Seperti Usman, Ali pun mengalami nasib tragis. Ia dibunuh oleh kaum Khawarij yang kecewa kepada sikap Ali yang kompromi dengan Muawiyah.
Begitulah, sejak itu peperangan demi peperangan dengan motif kekuasaan mewarnai sejarah peradaban Islam.  Sang Sultan pada masa hidup Yusuf Pasha, leluhur Iskander Pasha dalam novel ini, dipisahkan rentang waktu ratusan tahun dari zaman Muawiyah. Dan ia, karena ketakutan kekuasaannya runtuh, mengasingkan Yusuf Pasha yang meramalkan masa masa akhir kebesaran Kesultanan Turki Usmani.
Melalui novel ini dan bentangan sejarah peradaban Islam yang bertumpu pada sistem kekalifahan yang didedah Tamim Anshary, rasanya agak menyedihkan melihat sebagian umat Islam kontemporer yang ingin menghidupkan lagi sistem kesultanan yang mereka klaim sebagai kekhalifahan.  

Comments