Menampik Isu Pembauran

foto dari SeputarEvent..  
Ketika Tan Lian Hoa (Lian) kembali ke Lasem, setelah 12 tahun mengasingkan diri di Beijing, Ario Adiatmodjo (Ario), lelaki pujaannya telah berkeluarga. Meski hatinya terluka oleh penghianatan cinta Ario,  Lian tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga Ario. Lian berupaya mengungkap kebakaran yang terjadi di rumah pembatikan Banyu Bening milik keluarga Adiatmodjo, sekaligus untuk mengakhiri permusuhan  antara Keluarga Tan dan Keluarga Adiatmodjo akibat salah paham. Duabelas  tahun lalu Lian rupanya sengaja diasingkan ke Beijing untuk menutup misteri terbakarnya Banyu Bening. Orang-orang mengira Lianlah penyebab kebakaran tersebut dengan motif persaingan bisnis batik antara kedua keluarga tersebut.
Belakangan tersingkap kebakaran itu ternyata didalangi oleh Puji Rahayu, pengusaha ambisius yang mengambil manfaat perseteruan Keluarga Adiatmodjo dan Keluarga Tan.  Sialnya bagi Lian, peristiwa itu dimanfaatkan orang tuanya untuk memisahkan Lian dengan Ario, sejoli yang bersahabat sejak kecil dan saling mencintai. Bude Nawangsari, ibu Ario tidak merestui hubungan cinta mereka lantaran perbedaan suku dan budaya, begitu juga orang tua Lian Hoa. Kini, keponakan Lian, Tan Liong Han (Han) berpacaran dengan Larasati, keponakan Ario. Demi menghindari berulangnya tragedi yang lebih besar, Lian dan Ario berusaha membujuk Bude Nawangsari untuk merestui hubungan mereka. 
foto dari SeputarEvent
Upaya mantan kedua sejoli itu menemukan jalan yang tidak mudah. Ada pihak ketiga yang bermain di air keruh, dialah Puji Rahayu yang mempengaruhi Bude Nawangsari  menampik hubungan Larasati dan Han. Begitulah kira-kira ringkasan drama musikal  Putih Hitam produksi kesembilan D’ArtBeat garapan sutradara Ibas Aragi di gedung pertunjukan Ciputra Artpreneur Theatre, Lotte Shopping Avenue, Kuningan, Jakarta, pekan lalu. Lakon berlatarbelakang  keluarga pembatik di Lasem ini mengusung isu pembauran antara etnik Jawa dan China di Lasem, kota yang terkenal kerajinan batiknya.
Lakon disuguhkan dengan ringan, penuh kehendak berkomedi. Dan itu berhasil nyaris mulus. Pesan-pesan pembauran disampaikan dengan adegan-adegan dan dialog-dialog ringan, sekaligus dramatis, berselang-seling dengan romantis yang mengaduk-aduk emosi. Musik, koreografi, dan kostum yang begitu semarak menjadikan lakon ini sebagai tontonan yang menghibur dan menarik.  
Namun, pertanyaannya adalah masih relevankah isu pembauran? Harry Darsono, perancang busana yang terlibat sebagai desain kostum pentas, beberapa saat sebelum pementasan menjelaskan bahwa  sebenarnya sejak dulu isu pembauran di Nusantara ini tidak relevan. Karena sejak berabad-abad lalu Nusantara sudah dihuni oleh masyarakat yang sangat heterogen dengan keragaman budaya dan tradisi masing-masing.
Harry Darsono, konsultan dan perancang kostum pentas
Selama berabad-abad pula tidak pernah terjadi pergesekan. Semua adem-adem saja, rukun. Masyarakat kita mampu menangani perbedaan dengan bijak. Kalau ada konflik horisontal yang bahkan memicu terjadinya peperangan dan kerusuhan yang menumpahkan darah, hal itu terjadi bukan digerakkan oleh keanekaragaman budaya, melainkan oleh pihak ketiga yang mengambil manfaat dari kerusuhan. Dan pihak ketiga ini dapat kita lihat hampir dalam setiap kerusuhan ada justru negara. Motifnya jelas kekuasaan. Para penguasa punya kepentingan melanggengkan kekuasaan mereka dengan cara terus memelihara konflik horsontal guna memperlemah rakyat . Amunisi yang paling ampuh meletuskan konflik tak ada lain perebedaan tersebut. Maka penguasa dengan sistematis membuat kotak-kotak  masyarakat berdasarkan etnik, budaya, tradisi, agama, dan sebagainya dan sebagainya.

Pengkotak-kotakkan semakin intensif, massif, dan keras sejak negeri ini masuk dalam periode kekuasaan Orde Baru yang sangat ganas.  Jadi, isu yang relevan diapungkan dalam menyertai pementasan ini seharusnya adalah pembaruan, yaitu pembaruan hubungan-hubungan harmonis antar budaya yang berbeda yang telah berlangsung berabad-abad  yang dirusak oleh institusi bernama negara. Ironis.

Comments