Detektif Nyentrik dari Baker Street

Model diperani Akhlis Purnomo
Perawakan lelaki itu ramping jangkung. Batang hidungnya tinggi dan sedikit melengkung seperti kebanyakan orang Eropa. Wajahnya sempit dengan sorot mata yang tajam. Ia memiliki sifat sedikit angkuh seperti umumnya melekat pada orang-orang cerdas. Pandangannya selalu sinis terhadap perilaku orang-orang kaya. Ia pemurung sekaligus humoris. Begitulah Sir Arthur Conan Doyle menggambarkan Sherlock Holmes, detektif swasta rekaannya.
Kepada klien-kliennya yang datang dari berbagai kalangan—dari bangsawan (termasuk Sultan Turki) hingga rakyat jelata, ia menyebut namanya sebagai Mr Sherlock Holmes, detektif konsultan. Dalam memecahkan suatu kasus ia kadang tak perlu keluar dari kamarnya. Hal itu berkat kemampuan penalaran deduktif dan analisinya yang tajam di atas rata-rata. Perokok berat ini akan mengurung diri di kamarnya sampai berhari-hari ketika berpikir untuk memecahkan kasus kejahatan. Kadang ia hanya perlu menganalisis kepribadian pelaku untuk mengetahui kejahatan yang dilakukannya.  
Dalam menjalankan pekerjaannya sebagai detektif swasta Holmes tidak terlalu mengejar bayaran. Bagi dia memecahkan kasus kejahatan adalah sebuah pekerjaan seni yang memerlukan lebih dari sekadar kecerdasan. Holmes akan semakin tertantang memecahkan kasus-kasus yang rumit yang tidak dapat dipecahkan detektif lain; untuk itu bahkan ia kadang tak menuntut bayaran, apalagi bila klien-nya memang miskin dan tidak sanggup membayar. Bagi Holmes berhasil memecahkan kasus kejahatan yang rumit adalah kepuasan yang tak tertukar. Dia akan menyerahkan kasus yang selesai ditanganinya kepada kepolisian. Sehingga orang-orang mengira kepolisian yang telah berhasil memecahkan kasus kejahatan tersebut. Tidak jarang Holmes melepaskan pelaku kejahatan begitu saja apabila motif pelaku melakukan kejahatan adalah demi membela kebenaran—atau paling tidak untuk membela diri.  
Dengan karakter seperti itu, Sherlock Holmes jadi nyaris sempurna. Kesempurnaan yang bahkan tidak bisa ditandingi oleh James Bond, Agen Rahasia 007 karangan Ian Fleming yang film-filmnya selalu ditunggu manusia sejagat. Kekurangan Holmes hanya satu, ia tidak didampingi gadis-gadis cantik dan seksi yang bisa ditiduri.
Holmes tinggal bersama Dr. Watson, kawannya  yang acap membantunya menyingkap kejahatan,  di rumah sewa milik perempuan Skotlandia bernama Mrs Hudson di 221B Baker Street, London, Inggris, antara tahun 1881 hingga 1890-an. Dr Watsonlah yang menuliskan kisah kasus-kasus unik yang berhasil disingkap Holmes. Menurut Holmes, meski dia harus berterima kasih atas ketekunan sahabatnya itu, Dr Watson kadang terlalu berlebihan dalam menuliskan kisah. Ia lebih mengejar drama demi kenikmatan selera pembaca mengikuti kisah, sehingga sajian fakta-fakta tak begitu tajam.   
Bagi Holmes, Dr Watson adalah kawan paling setia. Dia rela meninggalkan kepentingan pribadinya demi membantu Holmes menyingkap kejahatan. Dalam kisah berjudul Kasus Prajurit Berwajah Pucat (hal 641)  yang ditulis sendiri oleh Holmes, dia menyebut bahwa satu-satunya kepentingan pribadi yang dilakukan sahabatnya itu adalah ketika  ia melangsungkan pernikahan dengan Mary Morstan pada 1890.
Masa Holmes hidup, telepon belum populer digunakan sebagai alat komunikasi jarak jauh. Maka alat komunikasi jarak jauh yang paling banyak digunakan Holmes adalah telegram, sedangkan kendaraan yang membantu mobilitasnya adalah kereta, baik kereta kuda maupun kereta uap, dan sepeda kayuh. Motif kejahatan yang ditangani Holmes sebagian besar berlatar asmara dan perebutan harta, beberapa terkait rahasia negara. 
Penyakit dari Nusantara
Kisah-kisah Sherlock Holmes sebagian besar dituturkan dengan cara to tell, bukan to show. Kita tahu, tanpa kelihaian mendeskripsikan peristiwa cara ini berisiko memberikan kesan mendikte pembaca. Conan Doyle terbukti mampu menepis risiko tersebut, karena pembaca tetap disuguhi rincian setiap kasus kejahatan, dan terutama kisah-kisah yang sungguhkan selalu menarik dan memancing pembaca untuk terus menguntit sambil menduga-duga kejutan, dalam hal ini modus kejahatan yang berhasil dipecahkan Holmes.
Dalam beberapa kisah, Holmes menyebut-nyebut Nusantara, tepatnya Sumatra, yaitu pada kisah berjudul Petualangan Detektif yang Sekarat (hal 393). Dalam kisah ini, Holmes berpura-pura sakit  untuk menjebak Mr Culverton Smith, pelaku pembunuhan Victor Savage, mengakui perbuatannya.  Penyakit itu disebutnya penyakit buruh Sumatra— yang lebih banyak diketahui orang Belanda ketimbang orang Inggris. Pada kisah Kasus Prajurit Berwajah Pucat (hal 641) Holmes juga sempat menyebut daerah tropis sebagai daerah sumber datangnya penyakit kusta.  
Gramedia menerbitkan Koleksi Kasus Sherlock Holmes dalam dua jilid tebal, masing-masing 813  halaman 832 halaman. Terlalu berat memang untuk dibawa kemana-mana dan dibaca sambil menunggu antrian beli tiket kereta atau dalam perjalanan. Tapi, percayalah kasus-kasus Sherlock Holes tidak hanya membawa pembaca bertualang ke Inggris abad 19, tapi juga mengasah ketajaman logika.  

Comments