Posts

Showing posts from April, 2015

Bulan di Atas Kuburan

Image
Sepulang menyaksikan film ‘Bulan di Atas Kuburan’ bersama kawan, akhir pekan lalu, saya jadi ingin mengingat-ingat kembali bagaimana saya dari daerah pesisir Cirebon datang ke Jakarta. Serupa dengan semua orang daerah yang datang ke kota ini saya rasa; Jakarta adalah magnet. Perkara bagaimana ia menjadi magnet tentu bakal jadi panjang lagi urusannya. Dan sebaiknya saya juga tak perlu menyinggung lebih jauh mengenai ‘bagaimana’ itu, karena saya yakin akan sangat klise dan mambuat kau bosan membaca celotehan ini.

Bawa Kantong ke Mana pun Gue Pergi

Image
Gue #BeraniLebih repot membawa kantong yang terbuat dari apa pun yang penting bisa gue gunakan berkali-kali demi sedikit mengurangi sampah plastik. Gue tahu, pencemaran lingkungan sudah sangat mengkhawatirkan dan salah satu penyebabnya adalah makin tingginya penggunaan kantong dan kemasan plastik. Tingginya penggunaan kantong dan kemasan plastik memicu produksi sampah plastik seperti tak terkendali.
Hitunglah berapa kali gue belanja ke warung atau toko dalam sehari. Apabila dua kali saja, maka dalam sebulan sekurangnya ada 60 kantong plastik yang bisa dihemat kalau gue #BeraniLebih repot membawa kantong ke mana pun gue pergi. Membawa kantung toh sebetulnya tidak repot-repot banget. Gue bisa melipatnya jadi seringkas mungkin dan menyimpannya di dalam dompet atau tas kerja gue.     
Sampah plastik, gue tahu, sangat susah diurai di dalam tanah; membutuhkan waktu ratusan tahun untuk mengurainya. Bayangkan, ratusan tahun! Umur gue paling lama 70 tahun hingga 80 tahun. Jadi, ketika gue membua…

Ibu dan Anak

Image
Menjelang subuh ngungun itu Ramzi pergi meninggalkan rumah. Menjinjing jaket dan ranselnya Ramzi melangkah berjingkat menyeberangi ruang tengah, membuka pintu depan perlahan-lahan, dan menyelinap keluar dari sana menerobos remang subuh penuh kerumun embun. Ia merasa tidak ada gunanya lagi berlama-lama tinggal di sini. Apalagi yang diharapkan jika ibu, perempuan yang menjadi tempatnya melabuhkan kegelisahan dan kerinduan yang dipupuknya bertahun-tahun di kota besar, tak menginginkan kepulangannya?
Ramzi merasa tak perlu pamit. Maka ia hanya menggumam dengan hati getir, “Maafkan aku, ibu. Sebaiknya aku pergi saja bila kedatanganku hanya memperbesar kekecewaanmu.” Sebelum  menyelinap keluar, sejenak dipandanginya potret ibu yang tengah duduk memangku dirinya. Tak ada sosok bapak di sana. Konon bapak meninggalkan ibu ketika Ramzi dalam kandungan perempuan berparas ayu itu. Belakangan Ramzi tahu, bapaknya tak pernah jelas.
Ia menatap potret yang merekam kebahagiaan sekaligus kesenduan itu s…

Lukisan yang Melawan Kesemerawutan Lalulintas Jakarta

Image
Memandang segerumbul pohon bambu saja bagi saya mencuatkan kesan keheningan, kengungunan. Ketika angin merayap dan menggoyang batang bambu sehingga daun-daunnya menari, kesan keheningan itu justru makin menikam. Kini pohon bambu itu hadir sendirian dalam warna hitam putih, kosong, terbingkai dalam empat garis membentuk persegi panjang vertikal.  Mungkin ini akan menyeretmu memasuki lanskap keterasingan, kesedihan. Namun, keterasingan dan kesedihan yang agaknya mampu memberi kita kekuatan, ketabahan saat kembali ke jalanan Jakarta yang aduhai semrawutnya. Itulah  yang merasuki benak saya saat menatap lukisan Caroline Imelda Marsha Loing (atau akrab disapa Mey), kawan Tionghoa saya, yang dipajang bersama karya belasan rekannya—termasuk ibu Mey sendiri— di selasar Universitas Bina Nusantara, kampus Senayan, sepekan terakhir. Mereka adalah peserta kelas seni lukisan China. “Saya peserta termuda di kelas itu,” kata Mey yang berusia paruh pertama tigapuluhan. Belajar melukis seni lukisan Chi…

Menggugat Barat, Mengkritik Sejarah Dunia Islam

Image
Sejarah ditulis oleh pihak yang menang. Adagium ini membersitkan pengertian bahwa tidak ada sejarah yang hadir secara bersih dan netral. Ia selalu mengandung bias. Buku Dari Puncak Bagdad Sejarah Dunia Versi Islam karangan sejarawan muslim dunia berkebangsaan Afghanistan Tamim Anshary menguatkan logika ini. Maka jika ada sejarah versi Barat maka ada pula sejarah versi Islam, sejarah versi Tiogkok, dan sejarah versi  entitas peradaban lainnya.  Penelusuran Ansary, peradaban Islam dimulai sejak peristiwa Hijrah. Itu terjadi pada 662 Masehi. Peristiwa Hijrah menandai peristiwa penting lahirnya komunitas muslim pertama di dunia dengan Muhammad sebagai pelopornya. Di Madinah, komunitas muslim membangun sebuah peradaban yang berbeda dari komunitas-komunitas yang lebih dulu ada di sana. Peradaban tersebut ditandai dengan dibangunnya mega proyek yang penuh inspirasi: pembangunan masyarakat yang adil secara sosial. Peradaban yang dibangun komunitas muslim yang terbesar adalah dengan lahirnya kek…

Tragika dan Kemarahan Perempuan Bali

Image
Perempuan harus memberontak. Struktur adat, budaya, dan agama turut serta menindas perempuan; bahkan tiga institusi ini menjadi payung yang melanggengkan dan meniscayakan diskriminasi terhadap perempuan. Maka kepada tiga institusi ini pemberontakan perempuan harus dialamatkan secara terus menerus dan habis-habisan. Wah, kedengarannya gawat sekali. Bukan kedengarannya, tapi memang gawat sekali. Apa benar segawat itu?  Adakalanya saya merasa bosan dan tak berguna membicarakan ketidakadilan yang dialami perempuan. Perasaan bosan konon ampuh bikin orang marah dan frustrasi.  Tapi yang paling saya khawatirkan jadi terkesan nyinyir dan sentimentil. Namun terberkatilah, di tengah kebosanan dan perasaan sentimentil itu seseorang menyodori saya novel Tarian Bumi Oka Rusmini. Novel ini sudah lama terbit, sekitar 15 tahun yang lalu; dan telah diterjemahkan ke sejumlah bahasa asing, dan saya dengar sempat menimbulkan kegemparan-kegemparan tertentu, baik di ranah sastra maupun ranah masyaraka adat …

Agama Fase Ketiga

Image
Spiritualitas merupakan salah satu aspek penting yang melekat pada agama. Era modern menandai dirinya dengan rasionalitas yang bersandar pada indra. Bagaimanakah modernitas memperlakukan produk pramodern bernama agama dan spiritualitas?    Melalui buku ini, Ayu Utami menuturkan pengalamannya. Perjalanan kesadaran Ayu terkait agama dan spiritualitas terdiri dari tiga fase. Perjalanan kesadaranku mungkin mirip sejarah pemikian Eropa. Atau, aku semata-mata lebih mudah memahami sejarah pemikiran Eropa dengan mengacu pengalamanku sendiri. Jika disederhanakan ada tiga periode utama: religiusitas, sekularisme, dan, hmm, pasca sekularisme. (hal 55) Demikian Ayu membagi fase-fase kesadaran dirinya. Secara praktis, seperti apa pengaruh setiap fase?  Secara sederhana, orang yang meyakini suatu agama (agama apa pun) dia akan cenderung menghubungkan apa pun dengan kehendak Tuhan. Pendekatan ini cenderung meminggirkan sikap analitis dan nalar kritis. Dalam jangka panjang sikap ini tidak hanya menghe…